Dua Kubu Kontestan Pilpres Harus Lebih Dewasa Sikapi Hasil Quick Count

Pemilu

Kamis, 18 April 2019 | 18:27 WIB

190418182839-dua-k.jpg

Darma Legi

PEMUNGUTAN suara untuk pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif sudah digelar kemarin, Rabu (17/4/2019). Beberapa jam setelah penghitungan dilakukan, sejumlah lembaga survei merilis hasil penghitungan cepat atau quick count.

Khusus untuk pilpres, dua pasangan yang bertarung, Joko Widodo-Ma'ruf Amin serta Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sudah mengeluarkan sikap terhadap haail quick count.

Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, menilai kedua pasangan capres-cawapres serta tim pemenangan masing-masing, lebih dewasa menyikapi hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei.

Berdasarkan hasil quick count lembaga survei, pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin unggul 54 persen, terpaut sekitar 9 persen dari Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang hanya mengantongi 45 persen suara.
Menurut Adi, Jokowi saat menyampaikan pidatonya kemarin sore, tidak mengesankan jemawa dengan hasil hitung cepat. Begitupun pendukung-pendukung 01 yang menyatakan akan mengikuti proses yang ada. Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri juga menyampaikan terima kasih kepada Prabowo

"Dari kubu 02 juga tidak reaksioner dan akan menunggu hasil hitung resmi KPU. Saya kira satu sikap yang lebih maju ketimbang 2014 yang saling klaim kemenangan. Situasinya cukup panas. Kalau melihat sekarang kondisinya lebih adem," tutur Adi, Kamis (18/4/2019).

Adi menjelaskan, sejatinya tidak ada yang mengejutkan dari hasil hitung cepat lembaga survei yang memenangkan pasangan Jokowi-Ma'ruf. Hasil quick count ini sesuai dari hasil survei.

"Ini bukti elektabilitas Jokowi masih konstan, lurus begitu, karena tidak ada peristiwa besar. Tidak ada tsunami atau kiamat politik," tambah Adi lewat keterangan tertulisnya.

Lebih lanjut Adi menjelaskan, tidak ada perubahan signifikan dari elektabilitas capres-cawapres hingga Pilpres digelar kemarin. Ini tergambar dari hasil quick count lembaga survei. Meski ada sedikit perbedaan, kata Adi, masih dalam batas margin error 3 sampai 4 persen.

Quick count, tambahnha, bukanlah hasil resmi melainkan potret yang didasarkan pada hasil perhitungan suara di TPS. Karena itu hasil quick count kecenderungannya tidak meleset jauh dari perhitungan real KPU.

"Ini yang harus dijadikan pegangan bahwa quick count itu sebatas alat bantu," tegasnya.

Jika masih ada pihak yang merasa dirugikan dengan hasil hitung cepat, Adi menyarankan agar melaporkannya ke KPU dan Bawaslu.

"Kalau ada yang merasa quick count itu menyesatkan, menggiring opini atau menguntungkan salah satu kandidat tertentu maka laporkan saja ke KPU. Sehingga nanti KPU bisa membentuk dewan kode etik untuk mengadili lembaga-lembaga survei yang diduga meresahkan itu," tandas Adi.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR