Move On dan Damai Setelah Pilpres 2019

Pemilu

Kamis, 18 April 2019 | 08:50 WIB

190418092655-move-.jpg

suara.com

Hari pencoblosan pada Rabu, 17 April 2019, menjadi puncak musim kampanye politik. Sempat panas di antara dua kubu, semua pihak kini diharapkan move on dan damai setelah Pilpres 2019.

Untuk diketahui, tak hanya pasangan capres dan cawapres yang bersaing mendapatkan suara di Pemilu 2019 ini. Sebanyak 245.106 caleg pun bersaing mendapatkan 575 kursi DPR RI dan 19.817 kursi di DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota. Ada juga 807 calon anggota DPD yang bersaing mendapatkan 136 kursi.

Di media sosial, caleg yang banyak mengunggah konten keberpihakan atau dukungan baik kepada Jokowi-Maruf maupun kepada Prabowo-Sandi lebih banyak mendapatkan respons dari pengguna medsos, ketimbang caleg yang hanya minta dirinya dicoblos, sehingga lebih besar kemungkinan terpilih bagi caleg yang berpihak ketimbang caleg yang main aman.

Terkait media sosial, setelah Pemilu 2019, kemampuan tim medsos kedua capres pasti meningkat, namun ini perlu diuji. Jika saat kampanye mereka sukses membuat tagar yang menjelekkan salah satu capres hingga menjadi trending topic di dunia, maka setelah Pilpres 2019, seharusnya mereka juga mampu membuat trending topic yang membela kepentingan nasional Indonesia.

Lebih lanjut, untuk mencegah situasi yang tidak diinginkan ada tujuh tips untuk move on setelah pemilu 2019, seperti yang diutip dari detikinet,com

Pertama, abaikan janji aneh yang disampaikan pendukung, seperti janji potong telinga, potong leher dan janji lainnya.
Lebih baik fokus menagih janji-janji pemenang Pilpres atau caleg terpilih. Sebab itu, kepada siapapun, berhentilah bersumpah, berjanji potong ini dan itu dalam pemilihan apapun. Jangan lupa, cabut, buang dan lupakan segala label-label negatif yang kita tempelkan kepada saudara kita, karena pertandingan telah usai.

Kedua, pendukung yang jagoannya menang di Pilpres harus aktif menyampaikan konten sejuk lewat media dan medsos, bukan memanas-manasi apalagi memprovokasi. Demikian juga dengan yang kalah. Saling mengucapkan selamat dan terima kasih akan membantu semua orang move on. Kecemasan, kemarahan, kebahagiaan kita jangan sampai merugikan diri sendiri dan keluarga. Tanyakan kepada diri sendiri, apakah pantas mengejek, menghina, merendahkan teman kita yang jagoannya kalah di Pilpres?

Ketiga, bagi pendukung yang kalah, pilihan menjadi oposisi baik di darat maupun lewat media sosial adalah pilihan yang sangat-sangat mulia. Karena Anda bekerja tanpa gaji, tanpa tunjangan, biaya listrik, tunjangan pulsa, mobil dinas, dan lain-lain. Sementara pihak yang Anda kritik digaji besar, bahkan punya anggaran untuk menghadapi kritik-kritik Anda. Jadilah oposisi yang disegani, mengkritik dengan data yang benar serta argumen yang keren. Hormati masa bakti lima tahun mereka yang terpilih dengan terus mengkritik.

Keempat, sikap dan tindakan adil dari aparat akan mempercepat move on. Periksa dan hukum siapapun yang menyebar hoaks, fitnah, melakukan politik uang, intimidasi, mencoblos massal surat suara atau melakukan rekayasa ilegal untuk memenangkan pemilu dan lain-lain. Posisi terbaik untuk aparat penegak hukum adalah netral. Kemudian, jika ada kecurangan, sarankan tim Anda melangkah sesuai undang-undang dan peraturan yang berlaku. Hindari mobilisasi massa.

Kelima, move on bagi yang menang, adalah secepat mungkin bekerja merealisasikan janji-janji, bukan memikirkan cara membalas dendam karena sakit hati di masa kampanye. Justru yang harus dilakukan adalah merangkul semua golongan untuk merealisasikan janji-janji tersebut.

Keenam, untuk para caleg, apapun hasilnya, ucapkan terima kasih kepada semua yang terlibat membantu anda, sampaikan juga lewat medsos 'program dan janji yang saya rencanakan akan saya sampaikan kepada teman-teman caleg yang terpilih'. Jangan tiru perilaku beberapa caleg gagal tahun 2014 yang meminta kembali barang yang sudah diberikan kepada masyarakat, seperti kompor, karpet dan lain-lain, karena itu akan viral dan abadi di medsos, sehingga menyulitkan Anda untuk pencalegan tahun 2024 atau melamar pekerjaan lainnya.

Ketujuh, kepentingan nasional haruslah di atas kepentingan Jokowi-Maruf maupun Prabowo-Sandi. Renungi konten yang kita unggah di medsos, fitnah, hoaks yang kita buat dan sebarkan hanya menguntungkan sementara kandidat yang kita dukung, namun merugikan persatuan dan kesatuan bangsa untuk waktu yang lama. Setelah bertanding, marilah kita bersanding untuk NKRI yang sebenarnya sedang tertinggal dari banyak bangsa lain di berbagai bidang.


* Hariqo Wibawa Satria,

Pengamat media sosial dari Komunikonten (Institut Media Sosial dan Diplomasi).

Editor: boedi azwar

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR