Pengamat: Hasil Pilpres 2019 Diprediksi Tak Akan Jauh dari Hasil Survei

Pemilu

Senin, 15 April 2019 | 10:42 WIB

190415104300-penga.jpg

PENGAMAT politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno memprediksi hasil Pilpres 2019 tidak akan terpaut jauh dari hasil jajak pendapat sejumlah lembaga survei. Pasangan capres nomor urut 01, Jokowi-Ma’ruf Amin diprediksi akan tetap unggul atas penantangnya pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

"Kalau melihat kecenderungan trend survei, tetap Jokowi yang unggul. Di (hasil) survei itu kan nyaris tidak ada pergerakan signifikan melampaui elektabilitas Jokowi, terutama survei-survei yang dikeluarkan oleh lembaga yang secara reguler melakukan survei. Bukan lembaga survei yang hanya muncul 5 tahun sekali," tutur Adi, Senin (15/4/2019).

Sebelumnya, beberapa hari menjelang hari tenang Pemilu 2019, sejumlah lembaga survei merilis hasil jajak pendapat mereka. Charta Politika menempatkan elektabilitas pasangan Jokowi-Ma'ruf di angka 55,7 persen, sementara tingkat keterpilihan pasangan Prabowo-Sandiaga sebesar 38,8 persen. Hasil survei teranyar Saiful Mujani Research Center (SMRC) yang dirilis pada Jumat (12/4/2019) lalu, juga hampir senada. Jokowi-Ma’ruf Amin unggul dengan 56,8 persen dan pesaingnya 37 persen.

Pasangan capres nomor 01 juga unggul berdasarkan survei Indo Barometer dengan 59,9 persen sedangkan Prabowo-Sandiaga sebesar 40,1 persen. Lembaga Survei Median juga menggulkan petahana meski selisihnya tipis. Jokowi-Ma'ruf 47,2 persen dan Prabowo-Sandiaga 39,5 persen.
 
Menurut Adi, jika melihat tren survei kecendrungannya Jokowi unggul di Pilpres nanti. "Unggulnya bisa dua atau satu digit. Kalau toh didiskon jadi satu digit, Jokowi tetap unggul. Itu artinya selama kampanye, debat kandidat, itu memang tidak terlampau mengubah peta politik," jelas Adi dalam keterangan tertulisnya.

Kalaupun ada tren kenaikan elektabilitas Prabowo-Sandi, ujar Adi, itu berasal dari swing voter sebab basis pemilih Jokowi juga trennya naik. Ini juga bisa diterjemahkan bahwa swing voter mengalami penurunan hingga terkikis menjadi 7 persen.

"Artinya tidak ada migrasi pemilih dari 01 ke 02. Kecenderungannya hanya saling memperebutkan swing voter itu. Jokowi tidak memiliki tren turun, prabowo juga demikian. Artinya strong voter kedunya tidak ada yang pindah," paparnya.
 
Merujuk data itu, Adi berpendapat, hasil Pilpres 17 mendatang tidak akan jauh berbeda dari kebanyakan hasil survei. "Kalaupun ada kecendrungan berubah, tidak akan terlalu banyak. Misalnya diprediksi menang 10-15 persen, kalaupun error, (margin erros) survei itu kan 4 persen. Paling jatuhnya menang 10-11 persen. Itu margin error yang masih bisa ditoleransi," kata Adi.

"Kalau tak ada tsunami, kiamat, atau tidak ada badai besar, kecenderungan berubahnya kecil. Kalaupun ada itu karena pengaruh agama atau identitas, tapi tidak akan terlampau signifikan. Kalau masih normal-normal seperti saat ini, hasil-hasil survei itu realable. Kalau kalau tidak 100 persen ya masih dalam batas margin error," sambung Adi.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR