Dikritik, Hasil Survei Capres-Cawapres yang Terkesan Sudah Disetting

Pemilu

Selasa, 26 Maret 2019 | 20:36 WIB

190326203802-dikri.jpg

aktualnews

MENJELANG pemilihan presiden (Pilpres), lima lembaga survei masih menjagokan petahana kembali memegang tampuk kekuasaan. New Indonesia Research & Consulting (NIRC) misalnya, menempatkan pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin dengan 55,8 persen suara dibanding 34,3 persen milik Prabowo-Sandiaga Uno.

Selanjunya ada survei yang dilakukan Indo Barometer. Lembaga itu memprediksi Jokowi mendapat 50,2 persen suara. Lalu SMRC menempatkan Jokowi dengan 57,6 persen dan Alvara Research Center memprediksi Jokowi unggul dengan perolehan suara sebesar 53,9 persen. Raihannya jauh di atas Prabowo.

Meski demikian, hanya survei Litbang Kompas yang menempatkan persentase suara petahana tak sampai 50 persen. Lalu, bagaimana sebenarnya validitas hasil survei tersebut?

Rektor Universitas Ibnu Chaldun (UIC), Musni Umar mengaku resah dengan maraknya survei yang tidak transparan. Menurutnya, hal itu bisa dilihat baik dari aspek metodogi maupun pendanaan.

Dalam hal metodologi, Musni mengkritik survei yang justru mengarahkan responden agar memilih sesuatu yang sudah disetting. Meski data yang diperoleh berasal dari hasil wawancara, menurutnya setiap orang, baik itu responden maupun bukan, bisa berubah tergantung konteks dan situasi yang dihadapi.

"Fenomena yang kita saksikan di saat kampanye  dengan hasil wawancara saya dengan masyarakat itu  sama sekali tidak tercermin dari hasil survei yang ada," terang Musni, Selasa (26/3/2019).

Selanjutnya dari sisi netralitas. Musni menyebut hasil survei lembaga survei cenderung bias. Terlebih pendanaan survei tersebut juga misterius.

"Jadi dia tidak mandiri, siapa yang mendanai tentu lembaga survei itu dia akan mengikuti yang mendanai," tandasnya.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR