Tak Mau Jadi "Sapi Perah", Menengah Atas Alihkan Dukungan ke Prabowo-Sandi

Pemilu

Kamis, 21 Maret 2019 | 11:32 WIB

190321113425-tak-m.jpg

dok

Jokowi dan Prabowo

MENDEKATI hari H pencoblosan Pilpres 2019 pada 17 April mendatang, Litbang Kompas merilis hasil survei terbarunya. Survei kali ini menempatkan elektabilitas pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin 49,2 persen, sedangkan Prabowo-Sandiaga Uno 37,4 persen.

Meski kalah secara elektabilitas, pasangan nomor urut 02, Prabowo-Sandi justru unggul di kalangan pemilih menengah ke atas.

Menurut Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Fithra Faisal Hastiadi, kecenderungan tersebut disebabkan karena inkonsistensi kebijakan Jokowi.

Fithra mengatakan, kalangan menengah atas melihat adanya pembangunan besar-besaran pemerintah yang dibiayai oleh APBN, subsidi, dan obligasi. Selanjutnya golongan menengah atas cenderung mereview peningkatan tax revenue di kemudian hari lantaran merekalah yang akan menjadi "sapi perah" objek pajak.

"Menengah ke atas dibidik untuk didapatkan pajaknya. Ini yang kemudian membuat kecenderungan mereka untuk menahan investasinya," ujar Fithra, Kamis (21/3/2019).

Ketika melihat kecenderungan tersebut, tambahnya, kalangan menengah atas lebih bersikap untuk tidak memilih. Tak menutup kemungkinan mereka bahkan akan mengalihkan dukungannya.

"Belum lagi kalau kita melihat dari fakta obligasi pemerintah, masih dalam 2014-2018 datanya 10 persen jadi kenaikan rata-rata 15 persen per tahun. Ini yang mengakibatkan swasta kekurangan pembiayaan," ungkapnya.

Sementara terkait pemilih loyal kubu 01 yang berasal dari menengah ke bawah, Fithra menilai hal itu akibat dari banyaknya sumber pembiayaan APBN yang memang diperuntukkan bagi mereka. Petahana, lanjutnya, memiliki sumber daya untuk memanfaatkan posisinya, termasuk menahan penurunan elektabilitas.

"Saya melihat kecenderungan yang sistematis. Tapi biar bagaimanapun petahana punya resources. Sedikit banyak ini yang bisa mereka lakukan untuk menahan penurunan elektabilitas," kata Fithra.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR