Pengamat : Program 01 Sudah Dirasakan, 02 Baru Formulasi

Pemilu

Jumat, 15 Maret 2019 | 21:34 WIB

190315213612-penga.jpg

net

MENDEKATI pelaksanaan Pilpres 2019, kubu pasangan 01 dan 02 semakin gencar mensosialisasikan program-programnya kepada masyarakat. Pengamat kebijakan publik, Trubus Rahardiansah memiliki penilaian sendiri terhadap program-program tersebut.

"Menurut saya, program 01 sudah bisa dirasakan dan bahkan bisa dikritisi. Kalau program 02 baru tahap formulasi," ujarnya, Jumat (15/3/2019).

Ia mengungkit masalah kesehatan, dimana Prabowo memiliki program masyarakat minum susu. Menurutnya program itu sangat bagus, tapi jangan sampai berakhir hanya sekedar jargon.

"Kalau dari 01 kan sudah banyak program kesehatan. Ada KIS, kartu keluarga harapan. Ada yang berhasil, tapi ada juga yang mesti dibenahi," tambahnya.

Berbicara persoalan outsourcing, menurut Trubus hal ini seperti buah simalakama. Hal itu menurutnya masih sangat rumit, karena kalaupun dihapus, akan sulit karena sejauh ini pemerintah masih bergantung pada investor.

"Program 02 juga ada keinginan mencabut PP 78 soal pengupahan. Sebenarnya bisa dicabut, tapi apa rujukannya bagaimana menentukan upah," katanya.

Dalam bidang pendidikan, Trubus menilai dalam kampanye jarang diangkat. Menurutnya hal itu sangat memprihatinkan, karena pendidikan merupakan isu yang sangat strategis. Selama ini ia melihat, anggaran pendidikan naik tapi kualitas pendidikan belum mengikuti,

"Saya kira, dari 01 dan 02 sama-sama visi misinya baik, hanya yang mana yang paling mungkin diimplementasikan," tandasnya.

Sementara itu, menyinggung soal debat ketiga yang digelar Minggu (17/3/2019) mendatang, pengamat politik dari Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno khawatir Sandi hanya akan sami'na waato'na dengan Ma'ruf Amin.

"Dalam berbagai kesempatan dia bilang begitu. Saya tidak tahu apakah ini strategi politik atau bukan. Tapi, dalam tradisi pesantren, sami'na waato'na itu artinya tidak ada bantahan," ujarnya.

Yang diharapkan Adi, pada tanggal 17 Maret nanti akan terjadi debat. Ia tak ingin yang tersaji hanya reuni ulama dan santri, dimana hal substansinya tidak ada. Apalagi Mar'uf dan Sandi dianggap bisa meningkatkan electoral pasangan masing-masing.

"Sandi sudah mengeliminasi banyak ketum parpol untuk menjadi capres. Itu artinya Sandi dianggap punya kapasitas untuk memenangkan Prabowo. Begitu juga Kiai Maruf. Baik Kiai Maruf maupun Sandi adalah dua sosok baru yang cukup ditunggu apa yang spesial dari mereka," ungkap Adi.

Soal pendidikan misalnya, Sandi harus menjelaskan konsep operasional dari visi misinya apa. Kalau Jokowi sudah jelas, dia memiliki KIP dan program-program lainnya. "Saya kira di debat nanti stering isu harus to the poin. Sandi harus mampu menerjemahkan keinginan masyarakat," katanya.

Adi menambahkan, kritik yang dikeluarkan harus diukur dengan fakta dan temuan. Jika bicara soal pengangguran, memang masih ada. Akan tetapi berapa persentasenya, itu yang harus diangkat.

"Di satu pasar ada barang yang harganya mahal, tapi itu tidak boleh digeneralisir untuk kondisi semua pasar, karena ada juga yang murah. Menurut saya, Prabowo-Sandi sering menyederhanakan persoalan. Harga mahal, betul itu terjadi, tapi berapa persentasenya, jangan semua disamakan," paparnya.

Lebih lanjut ia menilai, Sandi sering membuat kejutan. Akan tetapi, patut ditunggu apa saja yang akan ia lakukan untuk bangsa ke depan. "Apakah mengelola perusahaan sama dengan mengelola negara ini? Itu yang harus dibuktikan," pungkasnya.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR