Kasus Rommy dan Konflik PSI-PDIP Makin Lemahkan TKN

Pemilu

Jumat, 15 Maret 2019 | 17:28 WIB

190315172941-kasus.jpg

Lucky M. Lukman

Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago.

PUBLIK dikejutkan dengan kabar penangkapan Ketua Umum PPP, Romahurmuziy alias Rommy, hari ini, Jumat (15/3/2019).

Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago menilai, kasus itu ditambah dengan kegaduhan internal atau konflik antara PSI dan PDIP, semakin melemahkan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin.

"Koalisi Jokowi-Ma’ruf akan kehilangan fokus dan melemah karena kegaduhan internal dan tertangkapnya Ketum PPP," kata Pangi, Jumat (15/3/2019).

Terkait kasus Romy, Pangi menilai TKN akan dibuat sibuk dan fokus pada kasus hukum itu. Pasalnya, mereka harus bekerja keras untuk menjaga dan mempertahankan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf karena kasus ini dengan mengelola emosi publik.

"Harus kita akui bahwa ini akan berimbas pada figur pak Jokowi sendiri, personal brandingnya. Yang kedua itu soal isu sentimen, soal mengelola emosi publik," tutur Pangi.

Lebih lanjut Pangi menambahkan, setelah peristiwa ini internal PPP juga akan sibuk pada pemulihan nama baik partai. Yang lebih urgen lagi adalah bakal ada perebutan kekuasaan atau pemilihan ketua umum baru pengganti Romy. Tidak mustahil konflik berkepanjangan akan terjadi lagi.

"Nanti akan berlanjut pada konflik memperebutkan ketua umum di internal PPP. Belum nanti pengaruhnya pada mesin partai dan pemenangan pak Jokowi di pilpres," ujarnya.

Pangi menjelaskan, peranan partai sangat penting dalam pemenangan Pilpres. Karena itu jika mesin partai mati maka kemenangan di pilpres akan mustahil dicapai. "Saya melihat mesin partai di koallisi Jokowi-Ma’ruf masih tanda tanya, masih setengah hati," katanya.

Sementara terkait konflik PSI-PDIP, menurut Pangi akan memperparah keadaan dan semakin melemahkan koalisi ini. "Ketika partai sudah berkonflik sesama pendukung Jokowi, misalnya antara PSI dengan PDIP tentu tidak baik dari segi soliditas dukungan," jelas Pangi.

Pangi mengatakan, PSI ini tidak memikirkan soliditas dukungan. Dia hanya ingin terkenal karena elektabilitasnya di bawah elektoral. Oleh karena itu mereka menyerang PDIP dengan harapan mereka ikut numpang tenar menaikkan elektabilitas. Pasalnya, PDIP adalah mesin utama bersama beberapa partai yang lain.

"Memang ini sebenarnya menjadi rumit ketika PSI berkonflik dengan PDIP sebagai mesin utama. Mestinya solid dan fokus pada pilpres, tapi sesama mereka malah berantem demi kepentingan sesaat," ungkapnya.

Selain kedua permasalahan di atas, koalisi TKN juga memiliki masalah lain, yaitu adanya konflik internal di Partai NasDem. Ini berkaitan dengan digugatnya Surya paloh oleh Kader NasDem, Kisman Latumakulita. Ia menggugat keabsahan Surya Paloh sebagai Ketum Nasdem. Kisman menyebut masa jabatan Surya Paloh seharusnya berakhir pada 6 Maret 2018.
 
Untuk itu, Pangi mengingatkan, kalau konflik antar parpol pendukung Jokowi ini terus dibangun dan tidak dihentikan, maka akan mengganggu mesin-mesin partai untuk pemenangan pilpres dan berujung kekalahan.

"Jadi soliditas internal partai pendukung Jokowi harus dipertanyakan sekarang. Efektifitas mesin partainya seperti mau mematikan mesin," pungkasnya.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR