Banyak Kehebohan di Pembukaan Kejuaraan Paragliding Internasional di Sumedang

Pariwisata

Rabu, 23 Oktober 2019 | 10:11 WIB

191023101540-banya.jpg

WEST Java Paragliding World Championship 2019 yang dilaksanakan di Kabupaten Sumedang resmi dibuka. Pembukaan yang meriah ini diisi pagelaran dan festival budaya.

Pembukaan ini juga diwarnai pemberinan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (Muri) dengan kategori rekor dunia terbang atlet paralayang bersama 159 penerbang. Rekor ini memecahkan pencapaian sebelumnya di Bali dengan 110 penerbang.

Pembukaan ini dihadiri Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir, Wabup Sumedang Erwan Setiawan, perwakilan Kemenpar, DPRD dan tamu undangan lainnya. Termasuk para peserta dari berbagai negara yang akan mengikuti kejuaraan kali ini.

Para peserta, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, dijamu di depan Gedung Negara Kabupaten Sumedang. Berbagai pagelaran kesenian asli Kabupaten Sumedang ditampilkan bagi para peserta, mulai dari kuda renggong, reak, hingga tari umbul.

Tak hanya para peserta, masyarakat sekitar pun ikut berkumpul dan memadati depan Gedung Negara Kabupaten Sumedang dan MPP Kabupaten Sumedang untuk menonton pagelaran seni.

Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, mengatakan, West Java Paragliding World Championship 2019 sengaja dibuka dengan pertunjukkan seni. Ini karena lewat even internasional tersebut, Kabupaten Sumedang ingin mengenalkan kesenian Kabupaten Sumedang yang bisa menjadi potensi wisata.

"Jadi pormosi pariwisata juga, kami kolaborasilan wisata alamnya ada, wisata budayanya juga ada, lengkap," ujar Bupati Dony dalam siaran persnya, Rabu (23/10/2019)

Bupati Dony menyebutkan, West Java Paragliding World Championship 2019 diikuti 392 peserta dari 20 negara. Mereka datang dari Asia, Eropa, hingga Amerika. Di antaranya Indonesia, Nepal, Filipina, Britania Raya, Rusia, Swiss, India, New Zealand, Belgia, Vietnam, Cina, Korea, Hong Kong, Thailand, Venezuela, Hungaria, Ceko, Bulgaria, Jepang, Spanyol, dan Zambia.

"Terkait dengan berbagai keperluan sarana penunjang, kami bersama pihak terkait sudah berusaha semaksimal mungkin. Guna memfasilitasi demi mewujudkan Kabupaten Sumedang sebagai destinasi olahraga paralayang pariwisata kelas dunia," ujarnya.

Selain mengikuti event ini, Bupati Dony berharap para atlet dalam negeri maupun mancanegara dapat mengenal Kota Sumedang. Di sela event, para atlet paralayang dapat melihat dan menyaksikan keindahan alam Sumedang lebih dekat seperti Gunung Kunci, Gunung Palasari dan tempat wisata lainnya.

"Terlebih, bisa menyaksikan lebih dekat dinamika kehidupan masyarakat Sumedang yang budayanya sangat kental," terang Bupati Dony.

Tak hanya itu, sambung Dony, para atlet pun dapat menyempatkan waktunya untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Sehingga, diharapkan itu semua memberi kesan mendalam bagi mereka ketika kembali tanah airnya atau ke Negara masing-masing sekaligus mempromosikanya.

"Terdapat dua lokasi yang biasa digunakan dalam olahraga paralayang di Sumedang. Yakni Bukit Toga untuk ketepatan mendarat dan Batudua untuk Cross Country. Namun, dalam event ini Batudua menjadi salah satu wahana wisata olahraga (sport tourism) terbaik di Indonesia, Mengingat Batudua sempat jadi venue perhelatan event Pra Piala Dunia XC (cross country) Paragliding 2013 dan PON XIX Jawa Barat untuk cabang olahraga Paralayang Tahun 2016," jelasnya.

Menurut Dony, Keunggulan lainnya yang ditawarkan Batudua adalah pemandangan alamnya yang eksotis yakni panorama Waduk Jatigede dengan pulau-pulau kecil di sekitarnya seperti halnya melihat Raja Ampat di Papua.

Dony menambahkan, kawasan yang berada di ketinggian 930 mdpl tersebut berpotensi untuk menggiring penikmat paralayang di seluruh pelosok dunia untuk mencoba sensasi keindahan yang disuguhkan.

"Batudua sendiri adalah dataran tinggi di kawasan Gunung Lingga, Desa Linggajaya Kecamatan Cisitu Kabupaten Sumedang. Jaraknya hanya sekitar 4 kilometer dari Jalan utama dan juga kurang lebih 26 Kilometer dari pusat Kota Sumedang. Batudua juga tidak jauh dari situs sejarah salah satu Raja Sumedang Larang yaitu patilasan Prabu Tajimalela yang hidup di sekitar abad ke 7 M (712 - 778 M)," paparnya.

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenpar Dadang Rizki Ratman mengatakan, Sumedang harus memanfaatkan momen berharga ini untuk promosi. Pasalnya, event sport tourism seperti ini indirect impact-nya luar biasa.

"Jangan sampai atlet yang datang pulang nanti tidak mendapatkan kesan keindahan Sumedang. Sebab mereka adalah repeater wisman yang sangat potensial," kata Dadang.

Sementara, Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Regional II Kemenpar Wawan Gunawan mengapresiasi event yang digelar Kabupaten Sumedang tersebut. Menurutnya Pemkab Sumedang menunjukan komitmen seriusnya dalam pengembangan pariwisata.

"Sumedang punya (potensi) pengembangan pariwisata, ada aksebilitas Cisumdawu. Sumedang punya komitmen luar biasa, kalau Indonesia itu ada Bali, nah Bali nya, Jabar adalah Sumedang. Atraksi alam ada, gunung, sungai, ladang, lembah. Wisata budaya ada. Paket komplit," ujar Wawan.

Editor: Kiki Kurnia



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA