Sarae Hills Tawarkan Berbagai Keseruan Bagi Pengunjung

Pariwisata

Selasa, 22 Oktober 2019 | 23:19 WIB

191022231035-sarae.jpg

KAWASAN Wisata Sarae Hills merupakan sebuah kawasan wisata terpadu untuk menikmati waktu liburan bersama keluarga  dengan latar belakang perbukitan dan panorama kota Bandung sebagai ciri khasnya. Terletak di daerah Punclut, Kawasan Wisata Sarae Hills menawarkan berbagai macam pilihan keseruan untuk dinikmati oleh Pengunjung.

General Manager Sarae Hills, Krisyandi Nugraha Pratama mengatakan, nama Sarae Hills ini terinspirasi dari bahasa Sunda 'sarae' yang berarti bagus-bagus. Sebelum ditetapkannya nama Sarae Hills di Agustus 2019, kawasan ini lebih dikenal dengan nama Lereng Anteng oleh masyarakat. Lereng Anteng ini hadir lebih dulu di 2016 dan menjadi cikal bakal terbentuknya.

“Awalnya bukan nama Sarae Hills tapi namanya Kawasan Wisata Punclut. Kami resmi rebranding dengan nama Sarae Hills, kenapa? Karena kami ingin menunjukkan Sarae juga dekat dengan unsur Sundanya makanya nama itu kami pilih untuk menjaga nilai kelokalan,” ungkapnya.

Krisyandi menjelaskan, Sarae Hills terdiri dari gabungan enam mitra usaha antara lain Boda & Tafso Barn, Lereng Anteng Panoramic Coffee, De Blankon, Dago Bakery, Cakrawala Sparkling Nature Restaurant, dan d’Dieuland.

“Masing-masing mitra usaha ini memiliki keunikan tersendiri mulai dari konsep, desain interior, dan eksterior. Namun, kesamaannya adalah memberikan pelayanan lengkap untuk para pengunjung muali dari sajian kuliner, hingga wisata selfie,” ujar Krisyandi.

Krisyandi menjelaskan, masing-masing mitra juga menerapkan kebijakan tersendiri perihal tiket masuk. Dari keenam mitra ini, d’Dieuland memberlakukan tiket masuk seharga Rp 10.000 saat weekday dan Rp 15.000 saat weekend. Lain halnya dengan Boda & Tafso Barn yang menjual voucher mulai dari Rp15.000.

“Ke depannya kami akan ada perkembangan. Tapi kami ingin menjadi kawasan wisata ini nonstop leasure, lengkap. Selain ada kuliner, outbound, kami juga ke depan ingin ada wisata lain, seperti hotel, amphitheater, glamping, jembatan, dan danau buatan. Dengan harapan untuk memancing pengunjung sebanyak-banyaknya,” katanya.

Sementara untuk spot favorit, Krisyandi menuturkan, para pengunjung biasanya terpukau dengan Cakrawala Sparkling Nature. Pasalnya di restoran tersebut mengusung konsep dinding yang berwarna biru terang. Bahkan terdapat replika ikan seolah berenang. Tak sampai di situ, ada pula kolam air yang terdapat di atap. Praktis ketika disinari matahari atau lampu, bayangannya atap tersebut menyiratkan seolah air itu ada di dalam ruangan.

Krisyandi menyebut, terdapat spot yang bisa membawa pengunjung seolah masuk ke lorong bintang berupa koridor gelap bertahtakan lampu-lampu. Tempat makannya pun memiliki atap berlubang yang ditata layaknya rasi bintang yang berkilau ketika lampu menyala di malam hari.

“Ada spot yang menyuguhkan kastil dengan atap kerucut yang mengingatkan pengunjung dengan latar bak negeri dongeng. Keunikan itulah, menurut Krisyandi, yang juga menarik banyak wisatawan berswafoto. Bahkan replika jembatan yang dramatis, menambah keseruan berfoto di tempat tersebut,” katanya.

Bagi pengungjung yang ingin berswafoto, Krisyandi menyarankan untuk datang di pagi hari agar lebij leluasa. Pasalnya di waktu itu belum banyak pengunjung. Namun untuk yang mengincar pemandangan berlatar senja, sore hari juga menjadi waktu rekomendasi. Apalagi menjelang gelap, lampu dari berbagai spot mulai memancarkan sinar.

“View paling bagus itu ada di venue Galaxy (Cakrawala Sparkling Nature), Dago Bakery, Boda & Tafso Barn karena di sana interior maupun eksteriornya banyak mainin konsep lighting. Makanya untuk jumlah kunjungan, Alhamdulillah, 1.000 kendaraan minimal bisa tercapai dalam waktu weekend. Untuk Sabtu-Miinggu banyaknya dari luar kota,” pungkasnya. (Edi Kusnaedi)

Editor: Dadang Setiawan



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA