Menyusuri Sejarah Jalur Kereta Api Bogor - Sukabumi - Cianjur

Pariwisata

Kamis, 5 September 2019 | 16:11 WIB

190905161223-menyu.jpg

Kiki Kurnia

KAMIS (5/9/2019) pagi sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah di Lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkumpul di Hotel Heritage Bogor. Setelah beberapa menit, kemudian mereka menuju Stasiun Bogor yang berjarak sekitar 10 menit berjalan kaki ke arah pusat kota.

Selama di perjalanan banyak hal yang ditemui oleh rombongan. Namun rombongan hanya fokus ke Stasiun Bogor. Mereka merupakan peserta dari program Smiling West Java Historical Rail Heritage Trail Buitenzorg-Soekaboeni-Tjiandjoer yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat melalui bidang Pemasaran.
Hadir pada kesempatan itu Kepala Dinas Perkebunan Jabar Dody Firman Nugraha, Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar Andres Wijanto serta sejumlah unsur pimpinan OPD di Pemprov Jabar termasuk dari Dinas Perhubungan Jabar.

Sehari sebelumnya atau Rabu malam (4/9/2019), rombongan mendapat pengetahuan tentang sejarah perkeretaapian di Indonesia, khususnya di Jabar. Sehingga para rombongan tidak "ngatog" pengetahuan saat berkunjung ke Stasiun Bogor yang menjadi titik awal pembangunan perkeretaapian Bogor-Sukabumi - Cianjur.

Diantar oleh seorang penggiat wisata Heritage kereta api, Dicky Soeria Atamdja, yang sudah paham dan sering melakukan wisata Heritage kereta api. rombongan tiba di stasiun Bogor. Semua rombongan dibuat takjub dengan kontruksi bangunan stasiun Bogor yang masih terawat dengan baik.

Tiba di Stasiun Bogor, rombongan langsung dibawa ke ruang VIP stasiun.  Disana mereka mendapat penjelasan dari sang guide Dicky asal mula dan sejarah perkeretaapian Boitenzorg - Soekaboeni - Tjiandjoer.

Stasiun Bogor dibangun awalnya sepadan dengan Istana Bogor. Stasiun ini merupakan bangunan yang terdiri atas dua bangunan yang berdampingan. Bangunan utamanya adalah bangunan area masuk ke stasiun, lobi, kantor administrasi, tempat penjualan tiket dan fasilitas lainnya. Sementara itu, bangunan keduanya adalah bangunan kanopi yang menaungi peron dan dua jalur kereta api.

Stasiun Bogor dibangun oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pada tahun  1872 sebagai titik akhir jalur kereta api  Batavia - Weltevreden - Depok - Buitenzorg. Stasiun ini dibuka untuk pertama kalinya untuk umum pada 31 Januari 1873. Tidak kurang dari 40 tahun pertama, stasiun ini dikelola oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij, dan baru pada tahun 1913 dibeli oleh
Staatsspoorwegen (SS) termasuk jalurnya. Tahun 1881 dibangun stasiun baru. Sepanjang 1881-1883 SS melanjutkan pembangunan jalur kereta api dari Bogor - Sukabumi dan hingga 1887 terhubung hingga Tugu Yogyakarta.

Dahulu, sebuah lapangan luas bernama Taman Wilhelmina pernah menjadi bagian dari stasiun Bogor. Namun sekarang hanya berupa tanah kosong bekas bangunan liar.

Pada ruang VIP berdiri  monumen  prasasti dari marmer berwarna merah maron setinggi 1 meter. Monumen ini sebagai simbol tanda ucapan selamat pagi dari para karyawan  SS  kepada David Maarschalk yang memasuki masa pensiun atas usahanya mengembangkan jalur kereta api di Jawa. Prasasti ini dibuat sebagai pengganti patung David Maarschalk yang dulunya berada di tempat prasasti ini.

Renovasi stasiun pernah dilakukan oleh Kementerian Perhubungan  tahun 2009. Bangunan stasiun yang bertuliskan "1881" ini, yang menghadap Jalan Nyi Raja Permas Raya (Taman Topi) ini akhirnya tidak difungsikan sebagai pintu masuk stasiun untuk umum. Kini bangunan stasiun dipindah menghadap Jalan Mayor Oking.

Stasiun ini terbagi atas dua bangunan yang saling berdampingan. Bangunan utamanya adalah berupa, area masuk stasiun, lobi, kantor administrasi, tempat penjualan tiket dan fasilitas lainnya. Bangunan lainnya adalah bangunan kanopi yang menaungi peron dan dua jalur kereta api. Bangunan utama stasiun yang ada saat ini, diresmikan sejak 1881 dan tidak banyak berubah sampai sekarang.

Stasiun ini bergaya Eropa dengan berbagai motif. Misalnya ada yang bermotif geometris awan, kaki-kaki singa, dan relung-relung bagian lantai. Gaya desain ini merupakan gaya dengan nuansa kental Yunani Klasik namun dengan campuran, yaitu memiliki bentuk simetris dan serba persegi. Pada masanya, (1880 - 1889), bangunan seperti ini menjadi tren di Hindia Belanda.

Arsitektur bangunan utama menampilkan ciri khas dari gaya arsitektur Indische Empire dengan bentuk massa bangunan yang simetris dengan pintu masuk dan lobi utama bergaya No-Klasik.

Kesan anggun dari stasiun ini tercipta dari bentuk atap pelana dengan bentuk segitiga dan gerbang melengkung pada fasad depan bangunan. Sedangkan pada bagian belakangnya, berupa dinding plesteran dengan ornamen garis-garis serta akhiran cornice pada bagian atas berpola lekukan-lekukan kecil yang menurut istilah arsitektur klasik disebut sebagai guttae, membingkai atap jurai di atasnya. Pintu dan jendela memiliki penutup kayu yang akhirnya memperkuat kesan klasik dari bangunan ini. Sedangkan pada bangunan di emplasemen, berupa struktur atap bentang lebar dengan rangka baja dan penutup atap plat besi gelombang.

Stasiun ini memiliki dua lantai. Desain tangga kayu meliuk-liuk menghubungkan lantai 1 dengan lantai 2. Karakteristik bangunan utama khas dengan gaya Indische Empire sedangkan pada lobi  bergaya Neoklasik.

Indische Empire adalah gaya arsitektur era kolonial Belanda di Indonesia yang berkembang sekitar abad 18 dan 19. Gaya ini terlahir dari gaya hidup orang Eropa di Indonesia. Bangunan-bangunan dengan gaya ini berupa adaptasi aliran Neoklasik yang populer di Eropapada masa itu dengan kondisi iklim dan bahan bangunan setempat. Bangunan-bangunan dengan gaya ini bercirikan umum adalah mempergunakan kolom-kolom dorik pada teras depan dan halaman yang luas.

Neo Klasik yang juga disebut sebagai New Classicism adalah pergerakan aliran arsitektur di  Eropa dan Amerika yang dimulai pada pertengahan abad ke-18. Gaya ini terinspirasi oleh reruntuhan arsitektur Yunani Klasik dan terutama Romawi.

Desain atap emplasemen (kanopi/overkapping) membentang lebar dengan rangka baja dan penutup atap dengan besi bergelombang. Atapnya sendiri merupakan atap pelana dan memilik bentuk segitiga dan gerbang lengkung. Pada bagian belakang dinding plesteran, terdapat ornamen garis-garis serta akhiran cornice  (Hiasan pada tepian dan sudut bagian atas tembok, pilar atau gedung berupa profil ukiran atau molding yang menonjol ke luar sebagai akhiran dinding) pada bagian atas berpola lekukan-lekukan kecil yang dinamakan guttae (dalam istilah arsitektur klasik berarti membingkai atap jurai di atasnya).
 Sedangkan Molding atau Moulding sendiri adalah garis/kontur dekoratif berbentuk permukaan datar atau melengkung, cekung atau menjorok keluar yang dipergunakan untuk hiasan dinding, batu atau kayu.

Sementara jalur kereta api Boitenzorg - Soekaboeni - Tjiandjoer dibangun oleh perusahaan Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pada 1863 dan menjadi jalur kereta api tertua di Jawa Barat, setelah Semarang - Tanggung. Namun sayang, jalur ini banyak dilupakan setelah dibanggunya jalur Batavia - Bandoeng via Poerwakarta tahun 1915.

Adalah David Maarschalk yang mampu mengembangkan jalur Bogor - Sukabumi - Cianjur ini. Pembangunan jalur kereta api awalnya untuk kepentingan Militer Belanda serta untuk mengangkut hasil perkebunan di Jawa Barat ke Batavia. Lambat laun, jalur kereta api ini dimanfaatkan juga untuk kepentingan transportasi umum dan Pariwisata.

Wisata sejarah kereta api di Jabar sangat layak dikembangkan. Hampir semua stasiun kereta dan jalur di Jabar adalah yang ter : seperti Terowongan tertua yakni Terowongan Lamphegan dibangun 1879-1882, terowongan terpanjang sepanjang 1 Km yakni terowongan Wilhemina arah Banjar, jembatan kereta api terpanjang  jembatan Cikupa, jembatan terindah ornamennya Jembatan Tanjungsari, dan Stasiun Tertinggi yakni Stasiun Cikajang. Selain itu dari 19 terowongan kereta api yang ada di Indonesia sebanyak 6 atau spertiganya ada di Jabar. Jadi kurang apalagi?

Apalagi pemandangan di tanah Priangan yang geografisnya  berbukit bukit. Ini yang menyebabkan pemerintah ingin me gembangkan jalur kereta api di Jabar sebagai jalur pariwisata.

Semuanya dijelaskan Dicky dengan gamblang tanpa tertinggal satupun sehingga peserta rombongan dibuat mengerti dan paham. Usai mendapat penjelasan dari sang guide, semua peserta langsung menuju kereta Pangrango untuk menikmati perjalanan historical Heritage Trail way Boitenzorg - Soekaboemi - Tjiandjoer.

Sepanjang perjalanan, sang guide tak henti hentinya memberikan keterangan dan pengetahuan soal jalur bersejarah tersebut. Bahkan di setiap stasiun pun keterangan terus mengalir termasuk keindahan kiri kanan jalur.  Agar penjelasan lebih aktif, Dicki pun sering melontarkan kuis seputar sejarah perkeretaapian di Jabar.

Tak terasa perjalanan dua setengah jam perjalanan Bogor - Sukabumi pun sampai. Di Stasiun Sukabumi, lagi lagi para peserta mendapat penjelasan tentang sejarah dan kondisi stasiun hingga saat ini sambil menunggu kereta api Siliwangi untuk menunu stasiun Cianjur. Perjalanan dari Sukabumi ke Cianjur kurang lebih satu jam.

Tiba di Cianjur rombongan langsung disambut dan diantar ke Pendopo Kabupaten Cianjur untuk rehat sejenak sambil mendapat pengetahuan tentang Kabupaten Cianjur dan sejarahnya.

Banyak pengetahuan sejarah yang diperoleh sepanjang perjalanan, namun hanya sepenggal sejarah stasiun Bogor yang bisa tersajikan, karena waktu yang sedikit.....

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA