Kreatif, Ditangan Apip Gas 3 Kg Dijadikan Bahan Bakar Motor

Otomotif

Kamis, 7 Februari 2019 | 20:13 WIB

190207201540-kreat.jpg

Septian Danardi

TIDAK seperti biasanya kendaraan roda dua pada umumnya menggunakan bahan bakar minyak (BBM). Namun ditangan seorang tenaga pendidik, Apip Adimansah, motor miliknya diubah membggunakan bahan bakar gas 3 kg (si melon).

Apip Adimansah merombak motor miliknya sebagai uji coba dan penelitiannya. Ia menjadikan gas elpiji sebagai bahan bakar motor kesayangannya tersebut. Sehingga Kemana pun dirinya pergi, satu tabung elpiji 3 kilogram terpasang dibagian belakang motor yang sengaja dirangkainya.

Tak heran, motor milik Ketua Yayasan SMK Mujahid yang tinggal di Blok 4 Perumahan Kota Baru Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya itu kerap menjadi tontonan. Meski demikian, dirinya tak pernah sengaja memamerkan penemuannya itu.

Diungkapkannya, inovasi ini hasil dari rakitan conventer. Di mana bahan bakar motor pabrikan Jepang ini dapat di konversi ke gas. Sehingga untuk menyimpan bahan bakar gas 3 kg, ia harus membuat rakitan besi dibelakang jok motornya.

"Gas menjadi bahan bakar, sehingga motor saya memang harus membawa tabung gas elpiji karena menjadi bahan bakar motor menggantikan premium," ujarnya.

Ide cemerlang itu, kata Apip, sudah muncul sejak setahun yang lalu. Namun, ia baru serius mengotak-ngatik motornya sekitar dua bulan kebelakang. Sedangkan dalam mewujudkan ide tersebut, dirinya tidak sendiri, akan tetapi dibantu oleh siswanya.

Diakuinya, menggunakan bahan bakar gas lebih irit dibandingkan dengan menggunakan BBM. Apalagi saat ini BBM cukup mahal. Sehingga dengan diganti ke gas tidak merogih uang saku karena mahalnya BBM.

"Memakai bahan bakar gas lebih irit. Kita uji coba perjalanan ke Bandung, gas 3 kg cuma habis satu tabung, itu juga masih ada sisa," katanya.

Agar dapat mencapai hasil yang sempurna, kata Apip, dirinya terus melakukan pembenahan modifikasi converter motor kesayangannya. Terutama mencari modulasi agar suara motor tidak kasar dengan menempatkan saringan udara yang tepat.

Begitu pun dengan dudukan tabung yang masih disimpan di belakang dengan diikat memakai karet dan dikunci gembok supaya tak ada yang mencuri tabungnya.

"Kami masih terus berinivasi agar ide kreasinya bisa lebih baik dan bisa dijadikan alternatif ketika BBM mahal," katanya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR