Peran Guru Takkan Tergantikan Kecerdasan Buatan

Nasional

Selasa, 5 November 2019 | 19:42 WIB

191105185320-peran.jpg

Tok Suwarto

Rektor UNS Prof. Dr. Jamal Wiwoho, ketika mengukuhkan tiga orang guru besar di Auditorium GPH Haryo Mataram kampus UNS Kentingan

PERAN pendidik, yaitu guru di sekolah dan dosen perguruan tinggi di era disrupsi dan revolusi industri 4.0 yang memberikan penetrasi terhadap dunia pendidikan, tidak akan pernah tergantikan oleh kecerdasan buatan. Namun, konsekuensinya seorang guru atau dosen dituntut terus meningkatkan kompetensi, beradaptasi dengan berbagai perubahan dan melihat tantangan sebagai peluang.

Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Prof. Dr. Jamal Wiwoho, menekankan masalah itu dalam sidang senat terbuka pengukuhan tiga guru besar, yaitu Prof. Dr. Leo Agung Sutimin (FKIP), Prof. Dr. Suciati (FKIP) dan Prof. Dr. Istadiyantha (FIB), di Auditorium GPH Haryo Mataram, Selasa (5/11/2019).

"Disrupsi memang membuat pergeseran pola pembelajaran yang semakin akrab dengan pembelajaran berbasis digital. Hal itu berarti, sistem pembelajaran harus diarahkan untuk merangsang tumbuhnya inovasi, kreativitas, empati, leadership dan kolaborasi," katanya.

Merujuk benchmark internasional, seperti Trends in International Mathematic and Science Study, Progress in International Reading Literacy Study dan Programme for International Assessment, Rektor UNS mengungkapkan, dalam menghadapi era industri 4.0 kualitas pendidikan di Indonesia bisa dibilang masih memprihatinkan. Bahkan, menurut dia, hasil kajian World Economic Forum menyebutkan, 65 persen peserta didik akan bekerja di bidang yang hari ini belum tercipta.

"Karena itu, upaya maksimal yang bisa kita lakukan adalah menumbuhkan potensi mahasiswa agar memiliki kemampuan berpikir dan kemampuan menciptakan. Pendidikan harus bisa membawa generasi muda pada masa depan bekerja bersama mesin, bukan mengajaknya berkompetisi melawan mesin," tandasnya.

Sebelumnya, Prof. Jamal mengingatkan, kecendekiawanan seorang profesor atau guru besar tidak hanya untuk berceramah di menara gading, tetapi dilihat dari kemampuanya menghubungkan aktivitas akademik dengan manusia dan lingkunganya. Dalam kaitan itu, para guru besar dapat memerankan potensi besar keilmuanya guna membantu memecahkan masalah publik yang rumit sekalipun.

"Termasuk kemampuan untuk menjalin kolaborasi dan membangun sinergi, baik dengan pemerintah, industri, sesama perguruan tinggi maupun masyarakat secara luas," jelasnya.

Editor: Kiki Kurnia



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA