Mantan Napiter "Anak Nakal yang Jadi Manusia Utuh"

Nasional

Senin, 21 Oktober 2019 | 19:59 WIB

191021195428-manta.jpg

Tok Suwarto

INISIATIF lokal untuk mengembangkan pola rehabilitasi dan reintegrasi mantan narapidana terorisme (Napiter) ke masyarakat, sampai saat ini belum berhasil mengintergrasikan elemen-elemen pemerintahan, swasta maupun kelompok masyarakat. Mekipun banyak kepala daerah telah mulai memberi perhatian terhadap mantan Napiter, seperti Kota Solo, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sukoharjo, di Poso dan sebagainya, setiap daerah masih menempuh kebijakan masing-masing dan belum dilembagakan dan sistemnya pelu diformalkan.
 
Taufik Andrie, mantan Napiter yang kini duduk sebagai Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian, menyampaikan hal itu dalam Seminar "Peningkatan Peran Pemda dalam Rehabilitasi dan Reintegrasi Mantan Napiter", di Graha Solo Raya, Senin (24/10/2019).
 
Di depan peserta seminar yang terdiri dari akademisi, LSM dan sebagian besar aparatur sipil negara (ASN), Taufik mengisahkan pengalamannya di Jerman dan beberapa negara mengunjungi tempat rehabilitasi dan reintegrasi mantan Napiter. Di Jerman, menurut mantan Napiter itu, diciptakan model pananganan pengungsi, kelompok rentan ekonomi, mantan napiter dalam menerapkan deradikalisasi dan sebagainya, melalui inisiatif lokal.
 
"Di Jerman ada pembinaan yang  mengintegrasikan kegiatan di dalam dengan luar lembaga pemasyarakatan (Lapas). Di  dalam Lapas para Napiter dilatih keterampilan tertentu yang nyambung dengan dunia kerja di luar. Contohnya, selama menjalani pidana Napiter dilatih keterampilan pertukangan kayu dan setelah dia  lulus diberi sertifikat untuk bekerja di luar Lapas," katanya.
 
Selama menjalani masa hukuman di Lapas, sambung Taufik, Napiter  mengerjakan pesanan perusahaan swasta, diberi upah dan uangnya ditabung. Hasil tabungan selama di Lapas bisa digunakan untuk sewa apartemen setelah bebas. Semakin lama seorang Napiter menjalani masa hukuman makin banyak uang tabungannya.
 
"Ini semua sebenarnya bisa dilakukan di Indonesia. Karena ada kesamaan model dalam memitigasi para mantan Napiter," jelasnya.
 
Seusai berbicara dalam seminar, Taufik Andrie yang kini memimpin Yayasan Prasasti Perdamaian, mengungkapkan kepada wartawan, elemen masyarakat lokal, seperti LSM, universitas dan sebagainya, serta aktor-aktor yang punya kepedulian terhadap Napiter, harus serius mengerjakan aktivitas rehabilitasi yang bisa mengembalikan para napiter ke masyarakat. Dia memandang munculnya inisiatif lokal yang melibatkan semua elemen penting, karena pelaku teror tidak hanya ada di pusat-pusat kota atau di sentra kegiatan ekonomi, tetapi tersebar di semua daerah hampir merata.
 
"Mereka juga tinggal di sekeliling kita, sehìngga ada sekelompok orang yang perlu mendukung rehabilitasinya. Itu ada di daerah,  bukan di pusat kekuasaan," tandasnya.

Dia menambahkan, inisiatif lokal di daerah yang positif kalau dikoordinasi akan lebih bagus. Dalam kaitan itu, pemerintah daerah perlu berinisatif melakukan integrasi dengan menempelkan program-program yang dilakukan pihak Lapas. Dia melihat ada sektor strategis yang bisa diintegrasikan untuk mengatasi hambatan birokratis.

Mantan Napiter lain, Joko Trihatmanto yang dipanggil "Jack Harun" dan sejak 2017 mendirikan Yayasan Gema Salam, menyatakan, para Napiter akhirnya menyadari kekhilafannya setelah menjalani masa hukuman. Dia mengungkapkan, selama Napiter menjalani hukuman dipenjara mereka diberi makan negara. Tetapi keluarga anak dan istrinya yang ditinggalkan di rumah perlu dipikirkan, siapa yang memberi makan.

"Selaku warga negara Indonesia yang dulu anak nakal, kini sudah menjadi manusia utuh. Mantan Napiter yang dulu khilaf  sudah menebus kesalahan di penjara selama dua sampai empat tahun," tuturnya, sambil mengajak teman-teman mantan Napiter  bergabung di Yayasan Gema Salam.

Ketua Yayasan Gema Salam itu mengungkapkan, anggota yayasan sejak didirikan tahun 2017 sampai sekarang baru sebanyak 40 orang, sebagian besar berasal dari wilayah Surakarta. Padahal, wilayah kerja Yayasan Gema Salam mencakup seluruh Jawa Tengah, namun masih banyak mantan Napiter yang belum bergabung.

Editor: Dadang Setiawan



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA