SPI Jadi Pembicara pada Gelaran 8 th UNESCO APEID Conference on Entrepreneurship Education

Nasional

Selasa, 15 Oktober 2019 | 20:43 WIB

191015204341-spi-j.jpg

SEKOLAH Selamat Pagi Indonesia (SPI) didaulat menjadi pembicara pada gelaran 8 th UNESCO APEID Conference on Entrepreneurship Education, pada 9 - 11 Oktober 2019 di Hangzhou, Cina.

Sekolah SPI menjadi wakil Indonesia dalam ajang berbagi wawasan tentang pendidikan kewirausahaan tersebut. Sekolah gratis khusus yatim piatu yang berlokasi di Batu, Malang tersebut, telah dikenal mampu mentransformasi siswa-siswi dari kalangan tidak mampu menjadi entrepreneur handal dengan kurikulumnya yang unik dan inovatif.

Inisiator sekaligus pendiri Sekolah SPI, Julianto Eka Putra mengatakan, jalan menuju pengakuan UNESCO ini telah dirintis sejak beberapa tahun lalu, dan kini berbuah hal yang menyenangkan bagi Sekolah SPI.

"Jadi mereka mengundang kami untuk memaparkan best practice yang kami lakukan dalam membangun entrepreneur education di Indonesia. Tentunya ini kesempatan yang sangat baik buat kita bisa belajar dan bertukar pikiran bagaimana kami bisa tumbuh menjadi lebih baik lagi," ungkapnya berdasarkan rilis yang diterima, Selasa (15/10).

Konferensi pendidikan kewirausahaan ini merupakan agenda tahunan organisasi pendidikan, keilmuan dan kebudayaan PBB yang diberi nama Asian Programme of Educational Innovation for Development (APEID), yang berada di bawah naungan UNESCO.

Permasalahan yang diangkat konferensi tersebut, khusus membahas bagaimana pendidikan kewirausahaan dapat membekali siswa dengan pengetahuan, keterampilan, dan bakat yang sesuai dalam persiapan untuk menghadapi tantangan dunia di masa depan.

Di tahun kedelapan penyelenggaraannya, kegiatan yang diikuti 80 peserta yang datang dari seluruh dunia ini mengangkat tema “Entrepreneurship Education for the 4th Industrial Revolution”.

Beberapa hal yang menjadi poin pokok acara tersebut yakni identifikasi dampak potensial dari Revolusi Industri 4.0 terhadap pendidikan, diskusi mengenai respons pendidikan kewirausahaan untuk memenuhi tuntutan Revolusi Industri 4.0 dan lain sebagainya.

"Merupakan suatu kehormatan bagi SPI bisa berpartisipasi dalam forum internasional semacam ini. Semoga apa yang kami sampaikan di acara UNESCO ini bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat dunia, begitu pula bagi kami. Harapannya tentu ada yang bisa dibawa pulang untuk diterapkan di SPI, terutama karena kami juga baru meresmikan sekolah tinggi bisnis di SPI," jelas Kepala Sekolah SPI Risna Amalia Ulfa.

Sekolah SPI merupakan sekolah berasrama (Boarding School) khusus kaum dhuafa yang merekrut siswanya dari seluruh Indonesia, dengan latar yang beraneka ragam, baik agama, maupun sukunya. Hal ini menjadikan Sekolah SPI unik, kompleks dan berbasis Bhineka Tunggal Ika.

Seluruh biaya hidup dan pendidikan di Sekolah SPI ditanggung Yayasan dan dilaksanakan oleh sekolah. Sekolah SPI merupakan satu-satunya SMA & Sekolah Tinggi yang menerapkan kurikulum entrepreneurship lengkap dengan laboratorium life-skill yang diberi nama Transformer Center, berlokasi di kota Batu, Jawa Timur.

"Pengakuan lembaga internasional seperti ini semakin menguatkan keyakinan kami, bahwa misi kami bersama untuk memutus rantai kemiskinan lewat pendidikan bukanlah impian hampa. Ini adalah harapan yang harus kita pupuk bersama sehingga semakin banyak anak Indonesia yang terselamatkan dari putus sekolah karena kemiskinan," pungkasnya.

Editor: Kiki Kurnia



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA