Tim Mahasiswa D III UNS Menang WINTEX 2019 Berkat Limbah Daun Teh

Nasional

Senin, 14 Oktober 2019 | 21:46 WIB

191014215115-tim-m.jpg

LIMBAH sampah yang berasal dari perkebunan teh, dari kandang ternak dan dari pasar sayur mayur di Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, memberikan hal positif bagi sebagian orang. Adalah tiga mahasiswa Diploma (D) III program studi agribisnis agrofarmaka dan agribisnis hortikultura, Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (FP-UNS), mendapatkan penghargaan medali emas dan penghargaan khusus di "The 2nd World Invention and Technology Expo (WINTEX)" dari limbah perkebunan teh tersebut.

Ke tiga mahasiswa tersebut, yakni Ruby Agil Hasan (D III agribisnis agrofarmaka 2017), Muh. Taufiek Heryansyah (D, III agribisnis hortikultura 2018) dan Panji Karuniatama Putra (D III agribisnis hortikultura 2018), memanfaatkan limbah dari tiga lokasi tersebut menjadi pupuk cair organik yang dilombakan di WINTEX ke-2 dengan judul "Mengoptimalkan Potensi Ampas Teh, Limbah Sayur Pasar dan Kotoran Ternak sebagai Pupuk Organik Cair di Desa Kemuning, Karanganyar".

Muh. Taufiek Heryansyah, sepulang dari lomba tersebut, menjelaskan kepada wartawan, Senin (14/10/2019). Dia bersama tim mendapati banyak limbah ampas teh yang di kawasan perkebunan teh, Desa Kemuning, Kabupaten Karanganyar. Kawasan perkebunan teh di lereng barat Gunung Lawu tersebut, merupakan penghasil teh terbesar di Kabupaten Karanganyar. 
Selain limbah perkebunan yang melimpah itu, katanya, mata pencaharian penduduk di kawasan perkebunan itu adalah beternak kambing dan sapi dengan limbah kotoran ternak. Sedangkan di pasar tradisional Desa Kemuning yang merupakan sentra perdagangan sayur mayur, kedapatan banyak limbah sayuran yang terbuang percuma dan dibiarkan membusuk.

"Mendapati banyak limbah yang potensial untuk bahan baku pupuk, kami bertiga mencoba berinovasi memanfaatkan untuk membuat pupuk cair. Tim kami menamakan produk pupuk cair tersebut 'Tealof Wilavette', singkatan dari Tea Waste As Liquid Organic Fertilizer With Livestock Manure and Vegetable Market Waste," katanya.

Menyinggung proses perjalanan mengikuti lomba WINTEX, Taufiek mengungkapkan, dia bersama tim memulai dari tahap persiapan yang diawali dengan pendaftaran produk ke WINTEX. Karya tim mahasiswa sekolah vokasi UNS itu kemudian melalui proses kurasi dan dinyatakan lolos, kemudian dilanjutkan dengan tahapan pembuatan produk.

"Tim kami berhasil membuat pupuk cair setelah dua kali percobaan. Di percobaan pertama pembuatan pupuk gagal, karena menggunakan kemasan berupa botol air mineral yang terlalu sempit. Karena sempit dan kecil, botol itu mengeras dan penuh dengan gas sehingga pupuknya tumpah," jelasnya.

"Pupuk 'Tealof Wilavette' akhirnya berhasil, setelah kami mencoba menggunakan bahan dan alat yang lebih banyak di percobaan kedua. Dalam tempo seminggu kami berhasil membuat produk pupuk organik cair yang kami kemas dalam botol berukuran 500 ml," sambung Taufiek.

Tim beranggotakan tiga mahasiswa FP-UNS itu berharap, produk pupuk cair organik yang mereka hasilkan dapat dipasarkan, setelah timnya mengkaji harga produk agar dapat terjangkau para petani. Mahasiswa di bawah bimbingan Raden Kunto Adi, Kepala Prodi D3 Agribisnis dan Sekolah Vokasi UNS itu, juga berharap produk mereka yang memenangkan kompetisi WINTEX, yang merupakan pameran produk kelas internasional yang digelar Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA) tersebut dapat dipatenkan.

Editor: Kiki Kurnia



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA