Suplemen Iodium Tak Mampu Atasi Penyakit Gondok di Daerah Endemik

Nasional

Senin, 14 Oktober 2019 | 16:28 WIB

191014162856-suple.jpg

Tok Suwarto

Prof. Dr. Yulia Lanti Retno Dewi, guru besar FK-UNS dan Prof. Dr. Hunik Sri Runing Sawitri, guru besar FEB-UNS yang akan dikukuhkan Selasa besok.


UPAYA menanggulangi penyakit gondok yang disebabkan gangguan akibat kekurangan iodium (GAKI) pada anak-anak dan ibu hamil, menggunakan paradigma berupa pemberian suplemen iodium kepada penderita kekurangan iodium ternyata tidak sepenuhnya berhasil.

Di daerah endemik penyakit gondok, pemberian suplemen iodium berupa garam beryodium tidak mampu mengatasi penyakit berbahaya bagi anak-anak dan ibu hamil tersebut karena masih tetap ada penderita penyakit gondok.

Pakar ilmu gizi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (FK-UNS) Solo, Prof. Dr. Yulia Lanti Retno Dewi, mengungkapkan hal itu kepada wartawan, Senin (14/10/2019). Dia menjelaskan hasil penelitiannya terhadap para penderita penyakit godok di wilayah endemik Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, yang akan disampaikan dalam pidato ilmiah pengukuhannya sebagai guru besar ilmu gizi FK-UNS, dengan judul "Kekurangan Iodium dalam Perspektif Ekologi dan Upaya Penanggulangannya".

"Wilayah Kecamatan Ngargoyoso termasuk daerah endemis kelas berat. Di sana tanaman tidak ada kandungan iodium dan menjadi pakan ternak sehingga ternak yang makan juga tidak mengandung iodium. Kemudian, daging ternak dikonsumsi manusia sehingga akibatnya juga kurang iodium. Di Ngargoyoso, iodium tidak mengendap di tanah sehingga kadar iodium menjadi nol. Sejak tahun 1994 pemerintah berupaya mengatasi penyakit tersebut di Kabupaten Karanganyar melalui suntikan, tetapi di Kecamatan Ngargoyoso sampai sekarang tetap ada penderita," katanya.

Menurut Prof. Yulia, kekurangan iodium memang merupakan masalah global. Di Indonesia sendiri populasi penduduk yang tinggal di wilayah endemik kekurangan iodium berjumlah 54 juta orang.

Mengutip penelitiannya di Kecamatan Ngargoyoso, guru besar ilmu gizi itu mendapati, di wilayah endemik penyakit gondok itu pernah dilakukan upaya mengatasi dengan pemberian kapsul iodium. Namun ketika pemberian kapsul iodium dihentikan dan diganti dengan garam beryodium pada 1997 dan masyarakat harus membeli, penderita gondok di kalangan anak SD berdasarkan metode Total Goiter Rate menunjukkan peningkatan pesat.

"Ini menimbulkan pertanyaan, apakah ada faktor lain yang ikut berperan dan bagaimana pengaruhnya. Melalui penelitian saya menggunakan cara pandang perspektif ekologi, saya ketahui kekurangan iodium itu akibat interaksi berbagai faktor lingkungan, baik fisik, biologik, sosial dan budaya," jelasnya.

Merujuk pada hasil penelitian tersebut, Prof. Yulia menegaskan, dengan menggunakan perspektif ekologi masalah kekurangan iodium tidak lagi dianggap sebagai keadaan yang tidak dapat diubah. Dia mengusulkan, agar upaya menanggulangi kekurangan iodium di masa mendatang selain menggunakan suplemen iodium juga dilakukan melalui upaya di instansi - instansi pemerintah bukan hanya di bidang kesehatan dan swadaya masyarakat.

"Upaya instansi pemerintah itu, misalnya dengan mencegah erosi dengan membatasi IMB di daerah lereng gunung, menyebarluaskan informasi bahan pangan yang dapat memperberat gondok dan sebagainya. Sedangkan lembaga swadaya masyarakat memberi penjelasan tentang cara penyimpanan, pengolahan dan konsumsi pangan agar tidak hilang kandungan iodiumnya," tuturnya lagi.

Dalam pengukuhan guru besar UNS, Selasa (15/10/2019) besuk, Prof. Yulia akan dikukuhkan bersama Prof. Dr. Hunik Sri Runing Sawitri, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dalam bidang manajemen sumber daya manusia. Prof. Hunik akan menyampaikan pidato ilmiah berjudul "Komitmen Organisasional, Budaya dan Kinerja Karyawan."

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA