Disayangkan, Ada Pendapat Ekonomi Kreatif Asal Kreatif

Nasional

Jumat, 4 Oktober 2019 | 21:01 WIB

191004210212-disay.jpg

Tok Suwarto

DIREKTUR Harmonisasi Regulasi dan Standardisasi Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Sabartua Tampubolon, ketika berbicara di depan 100 perajin ukir kayu pada "Fasilitasi Sertifikasi Kriya Kayu Ukir" di Solo.

DIREKTUR Harmonisasi Regulasi dan Standardisasi Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Sabartua Tampubolon, mengungkapkan, ekonomi kreatif sudah menjadi fenomena. Bahkan, badan dunia PBB menyatakan bahwa ekonomi kreatif menjadi salah satu insrumen untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dalam MDG's atau Milenium Development Goals.

"Sayang, sebagian orang masih berpendapat ekonomi kreatif itu asal kreatif. Apapun yang kreatif ya kreatif saja, sehingga ada yang negatif dianggap kreatif, seperti orang membuat konten yang aneh-aneh disebut kreatif," ujar Sabartua di depan 100 perajin ukir kayu peserta "Fasilitasi Sertifikasi Kriya Kayu Ukir" di Solo, Jumat (4/10/2019).

Dia mengingatkan, definisi ekonomi kreatif adalah nilai tambah dari kekayaan intelektual yang bersumber pada krearivitas manusia berbasis pada warisan budaya dan ilmu pengetahuan atau teknologi. Itu berarti, ekonomi kreatif adalah ekonomi yang bertambah bukan karena memberikan nilai uang. Hal itu berarti sesuatu yang kreatif tapi tidak memberi nilai tambah bukan termasuk ekonomi kreatif.

Menurutnya, orientasi sertifikasi kriya kayu ukir adalah untuk memberikan nilai tambah dalam definisi ekonomi kreatif. Salah satu nilai tambah itu berupa nilai kepercayaan dan bukan nilai tambah ekonomi semata.

"Kriya kayu ukir itu termasuk kategori yang berbasis warisan budaya, sebab kayu ukir mempertahankan budaya Indonesia," jelasnya.

Pada bagian lain Sabartua Tampubolon menyatakan, ekonomi krearif sekarang sedang  berkembang di Indonesia. Perkembangan itu, katanya bukan main-main karena kita berambisi menjadi salah satu poros perkembangan ekonomi kreatif di dunia.

Merujuk pada pasal 7 UU ekonomi kreatif yang menyebutkan sertifikasi profesi  merupakan hak pelaku ekonomi kreatif, sambungnya, hal itu untuk mengembangkan kapasitas pelaku ekonomi kreatif dengan sertifikasi. Amanat UU tersebut sesuai dengan kebijakan pemerintah tahun 2020 - 2024 tentang perubahan prioritas pembangunan dari infrasrtuktur ke pengembangan kualitas sumber daya manusia.

Kasubdit Standardisasi dan Sertifikasi Bekraf, Budi Triwinanta, menjelaakan, faailitasi sertifikasi kepada perajin kriya kayu ukir yang bekerjasama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Furniko tersebut merupakan yang ke-4 setelah dua kali di Bali dan sekali di Jepara. Sertifikasi di Solo karena kota itu termasuk sentra ukir kayu. Setelah sertifikasi di bidang kriya kayu ukir akan dilanjutkan kepada perajin logam, barista, pembatik dan sebagainya.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA