Bawang Putih 'Tawangmangu Super' untuk Kurangi Ketergantungan Produk Impor

Nasional

Sabtu, 21 September 2019 | 16:48 WIB

190921164222-bawan.jpg

Panen perdana tanaman bawang putih unggul varietas 'Tawangmangu Super' G3, yang dikembangkan Kelompok Taruna Tani “Tani Maju”, Dukuh Pancot, Desa Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu.

BIBIT unggul tanaman bawang putih varietas 'Tawangmangu Baru' yang berhasil dikembangkan dengan sistem penggandaan kromosom dan diberi nama 'Tawangmangu Super', memberi harapan besar untuk mengurangi ketergantungan konsumsi bawang putih produk impor dari Cina.

Melalui pendampingan terhadap para petani bawang putih yang tergabung dalam Kelompok Taruna Tani “Tani Maju”, Dukuh Pancot, Desa Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, pengembangan bawang putih varietas 'Tawangmangu Super' saat ini sudah sampai generasi ketiga (G3).

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Solo, Bambang Pramono, mengungkapkan kepada wartawan, Sabtu (21/9/2019), pihaknya menginisiasi program pengembangan tanaman bawang putih tersebut bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB).

BI bersama pihak-pihak terkait menggalakkan produksi bawang putih lokal, sebagai bagian dari strategi pengendalian inflasi dengan meningkatkan ketahanan pangan dan mengurangi ketergantungan impor.

"Ke depan, kami berharap bawang putih lokal yang masih dianggap kurang berkualitas dibanding bawang putih impor dapat diluruskan melalui pengembangan varietas bawang putih unggul 'Tawangmangu Super'. Berdasarkan ujicoba varietas 'Tawangmangu Super' yang ditanamkan di demplot seluas 800 meter persegi, hasil panen menunjukkan lebih tinggi dibanding varietas lokal lain, termasuk kualitas produk, fisik, dan harga yang bersaing," katanya.

Potensi pengembangan tanaman bawang putih di Kabupaten Karanganyar, khususnya Kecamatan Tawangmangu yang pada masa lalu merupakan sentra produksi bawang putih cukup besar.

Di Kabupaten Karanganyar terdapat empat kecamatan, yakni Tawangmangu, Jatiyoso, Jenawi dan Ngargoyoso, dengan luas area sekitar 272 Ha dengan varietas 'Tawangmangu Baru' dengan produksi rata-rata 1.677,9 ton, dapat dikembangkan dengan tananam bawang putih unggul varietas 'Tawangmangu Super'.

"Namun varietas ini juga mempunyai kelemahan, yaitu kurang adaptif terhadap kelembaban tinggi. Dalam ujicoba diketahui varietas 'Tawangmangu Super' kurang tahan terhadap curah hujan yang lebih tinggi dan rentan terhadap penyakit," jelas Bambang Pramono.

KPw BI Solo bersama Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Karanganyar, serta Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Tawangmangu, yang memanen varietas 'Tawangangu Super' G3 pada Jumat (20/9/2019), memperoleh hasil panen yang disebut Kepala KPw BI, secara umum menunjukkan peningkatan dibanding generasi sebelumnya.

Produktivitas cabut basah pada G1, semula sekitar 6,6 ton per hektar, pada G2 naik menjadi sekitar 15,6 ton per hektar dan pada G3 melonjak menjadi sebesar 20,48 ton per hektar.

"Hasil panen G3 ini nanti dapat dijadikan bibit pada musim tanam berikutnya. Sehingga nanti akhirnya diperoleh bibit unggul dengan hasil yang optimal untuk dikembangkan secara massal," tutur Kepala KPw BI Solo itu lagi.

Editor: Kiki Kurnia



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA