Endy Dwi Tjahjono: Waspadai Risiko Defisit Neraca Transaksi Berjalan

Nasional

Jumat, 20 September 2019 | 20:21 WIB

190920202248-endy-.jpg

Tok Suwarto

KEPALA Grup Sektoral dan Regional, Depatemen Kebijakan Ekonomi Moneter Bank Indonesia (BI), Endy Dwi Tjahjono, memaparkan prospek perekonomian nasional di depan peserta deseminasi Laporan Nusantara di KPw BI Solo

KEPALA Grup Sektoral dan Regional, Depatemen Kebijakan Ekonomi Moneter Bank Indonesia (BI), Endy Dwi Tjahjono, mengungkapkan, prospek perekonomian nasional masih cukup baik. Namun terdapat beberapa risiko yang tetap perlu kita waspadai, salah satunya terkait defisit neraca transaksi berjalan.  

"Salah satu langkah untuk memperbaiki defisit neraca transaksi berjalah, adalah memperkuat industri manufaktur dan pariwisata melalui peningkatan investasi berorientasi ekspor," katanya dalam Diseminasi Laporan Nusantara bertema “Memperkuat Industri Manufaktur untuk Mendorong PerbaikanTransaksi Berjalan dan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkelanjutan”, di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Solo, Jumat (20/9/2019).

Berbicara di depan wakil pemerintah daerah se wilayah Surakarta, para pengusaha, asosiasi dan lain-lain, Endy mengungkapkan, di tengah berbagai tekanan ekonomi global, pertumbuhan ekonomi nasional masih cukup kuat. Hal itu karena perekonomian nasional didukung perbaikan pertumbuhan di sebagian besar wilayah Indonesia.

"Wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Bali Nusa Tenggara tumbuh meningkat pada triwulan dua 2019. Pertumbuhan ekonomi Jawa, yang pangsanya mencapai 59 persen dari perekonomian nasional, tumbuh relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Sulawesi, Ambon dan Papua memang melambat, karena kontraksi perekonomian Papua dan Papua Barat yang terkendala kinerja lapangan usaha pertambangan di kedua provinsi," jelasnya.

Dalam kondisi perekonomian nasional tersebut, sambungnya, Provinsi Jawa Tengah berperan penting dalam perbaikan struktur transaksi berjalan nasional. Prov. Jateng yang merupakan salah satu pusat industri tekstil dan produk tekstil berorientasi ekspor terbesar di Indonesia, katanya, populasi industri dan penyerapan tenaga kerja sangat besar.

Kepala Grup Sektoral dan Regional, Depatemen Kebijakan Ekonomi Moneter itu menambahkan, buku Laporan Nusantara adalah publikasi rutin Bank Indonesia (BI) mengenai pandangan BI terhadap kondisi terkini dan prospek perekonomian nasional dalam lingkup kewilayahan yang  dipublikasikan setiap  triwulan. Dia berharap, diseminasi Laporan Nusantara dapat dimanfaatkan para pelaku usaha dalam mengambil kebijakan untuk menyikapi perkembangan perekonomian global, regional maupun nasional.

Kecuali Endy Dwi Tjahjono, pembicara lain dalam deseminasi tersebut adalah Edwin Zulkarnaen dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Staf Khusus Presiden, Ahmad Erani Yustika.



Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA