FK-UNS Bantu Warga Terdampak Karhutla Penyaring Udara SUNS

Nasional

Rabu, 18 September 2019 | 20:07 WIB

190918200930-fk-un.jpg

Tok Suwarto

Dokter Darmawan Ismail, ketua tim dokter FK-UNS, menjelaskan alat penyaring udara SUNS Portable Air Filter untuk membantu masyarakat terdampak paparan asap di Riau dan Palangkaraya.

TIM dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo akan bertolak ke Riau dan Palangkaraya mengusung alat penyaring udara berteknologi sederhana "SUNS" (Surgeons of UNS) Portable Air Filter, untuk membantu masyarakat yang terdampak paparan asap kebakaran hutan dan lahan (Karhula).

Di dua daerah yang terkena paparan asap paling parah tersebut, tim akan mengedukasi masyarakat dan melatih membuat penyaring udara "SUNS" untuk digunakan sendiri agar terhindar dari penyakit akibat menghirup udara yang berkualitas sangat buruk.

"SUNS yang kami ciptakan pada 2015 sudah digunakan saat terjadi Karhutla tahun 2016. Alat tersebut mudah dibuat dengan bahan yang banyak didapat di lingkungan sekitar, seperti botol bekas air kemasan, selang plastik, busa, kain kassa dan lain-lain. Udara yang  tersaring SUNS cukup baik untuk kesehatan, jangan sampai saudara-saudara kita mati karena makan asap," kata dokter  Darmawan Ismail, Sp. BTKV, dosen FK-UNS sebagai ketua tim, ketika menjelaskan fungsi SUNS kepada wartawan, di kampus Kentingan, Rabu (18/9/2019).

Berdasarkan hasil penelitian tim FK-UNS, efektivitas SUNS dalam menyaring cemaran asap lebih baik dibanding masker yang hanya menyaring partikel kering. Penggunaan komponen filter dan masker pada SUNS yang dilengkapi katup untuk pencegah terhirupnya udara kotor, menurut dokter Darmawan yang didampingi Dekan FK-UNS, Dr. dr. Reviono, memang tidak bisa menyaring udara 100 persen. Tetapi sebagian besar udara yang tersaring SUNS bersih dari partikel berbahaya.

Dr. Reviono menambahkan, tim yang beranggotakan 19 orang di Riau dan 10 orang di Palangkaraya, tidak akan membawa SUNS yang akan langsung dipakai masyarakat di kawasan bencana Karhutla. Namun, masing-masing tim akan bekerjasama dengan FK Universitas Riau dan FK Universitas Palangkaraya, serta melibatkan para relawan untuk memberikan  pelatihan pembuatan SUNS dan penggunaannya secara sederhana.

"Tim kita tidak membawa SUNS yang sudah jadi untuk dibagikan ke masyarakat, tetapi tim akan melatih pembuatannya secara sederhana dan penggunaannya. Kalau setiap anggota tim bersama relawan bisa melatih 10 orang dan mengembangkan ke 10 orang lainnya, akan semakin banyak orang yang terdampak paparan asap terselamatkan. Karena masyarakat bisa membuat sendiri dengan bahan yang mudah didapat," jelasnya.

Menyinggung biaya pembuatan SUNS, dokter Darmawan mengungkapkan, untuk membeli bahan yang terdiri dari kain kristik, kain kassa, perekat lepas pasang, tali bis, tali elastis, filter akuarium, mika tebal, selang aquarium, bola plastik mainan, spons dan sarung tangan, beserta pelengkap lem dan sebagainya maksimal seharga Rp 25.000,-. Alat tersebut berbentuk kotak dengan selang dan masker yang berfungsi menyaring udara lewat kotak humidifier menggunakan filter yang dilembabkan dengan air. Filter basah tersebut yang menghasilkan oksigen yang diperlukan untuk pernafasan.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA