BI Mengedukasi Masyarakat Tanam Cabai di Pekarangan

Nasional

Selasa, 17 September 2019 | 19:38 WIB

190917193908-bi-me.jpg

Tok Suwarto

Perwakilan TPID se wilayah Subosukawonosraten mengikuti rapat koordinasi menyikapi tingginya harga cabai di pasaran.

HARGA komoditas cabai, baik cabai rawit maupun cabai hijau di wilayah Surakarta meliputi daerah Sukoharjo, Boyolali, Kota Solo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen dan Klaten (Subosukawonosraten), yang terus bertengger di puncak masih menjadi penyumbang inflasi pada Agustus 2019 lalu. Dalam menyikapi tingginya harga cabai tersebut, Bank Indonesia (BI) Solo, Selasa (17/9/2019), menggelar rapat koordinasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) se Subosukawonosraten, dengan pokok bahasan mencari cara mengatasi keterbatasan pasokan di pasaran akibat musim kemarau panjang.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Solo, Bambang Pramono, di depan peserta rapat, mengungkapkan, masalah fluktuasi harga cabai saat ini terutama berasal dari faktor produksi. Musim kemarau yang berkepanjangan membuat produktivitas tanaman cabai menurun, banyak petani beralih menanam komoditas selain cabai dan pasokan cabai di wilayah Subosukawonosraten tergantung dari luar ProvinsiJawaTengah. "Persoalan harga cabai yang berfluktuasi merupakan persoalan klasik sepanjang tahun yang hingga saat ini masih terus diupayakan mencari solusi yang tepat," kata Bambang Pramono.

Menurut Kepala KPw BI Solo, TPID telah menempuh berbagai upaya untuk menekan harga cabai, seperti melalui operasi pasar cabai, pembagian bibit cabai gratis, edukasi gerakan tanam cabai di pekarangan, pembuatan klaster cabai, sistem tanam cabai dengan screen house, hingga pengembangan pola tanam cabai segala musim. Upaya tersebut belum mampu menurunkan harga cabai, sehingga ditempuh  kerjasama antar-daerah melalui rapat koordinasi untuk mencari solusi terjaganya stabilitas harga cabai dalam jangka panjang.

Di depan wakil TPID se wilayah Surakarta itu, Bambang Pramono melontarkan alternatif solusi penanaman cabai dipekarangan seperti yang dikembangkan di "Kampung Sayur Organik Mojosongo" Solo. Pihaknya akan mengedukasi masyarakat agar menanam cabai di pekarangan untuk memenuhi kebutuhan sendiri, bukan hanya saat harga cabai tinggi namun di sepanjang tahun.

"Memetik cabai hasil panen sendiri dapat mencukupi kebutuhan dapur secara kontinu, sehat, higienis dan murah," jelasnya.
 
Dalam jangka panjang, dia memandang perlu dipikirkan manajemen stok, seperti memanfaatkan teknologi cold storage saat terjadi over supply atau melalui pengolahan paska produksi dengan mengolah cabai menjadi bon cabai dan cabai kering, serta memanfaatkan teknologi informasi untuk pemasaran langsung ke konsumen guna memotong rantai distribusi.

Dalam edukasi masyarakat untuk mengembangkan tanam cabai di pekarangan, Maryanto, Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) "Kahuripan Sejahtera Mojosongo" memaparkan kegiatan anggota kelompoknya yang berhasil mengembangkan urban farming. Maryanto bersama warga Kampung Sayur Organik Mojosongo, melakukan gerakan pemberdayaan masyarakat melalui program kebun gizi mandiri yang  hasilnya untuk mencukupi kebutuhan sendiri, seperti cabai, kangkung, sawi, terong dan sebagainya.


Editor: Dadang Setiawan



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA