NTT Optimal Manfaatkan Energi Baru dan Terbarukan PLTS

Nasional

Senin, 16 September 2019 | 08:29 WIB

190916082943-ntt-o.jpg

ist

Dari kiri ke kanan Direktur HCM PT PLN (Persero) Muhamad Ali, Wakil walikota Kupang Herman Man, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Nusa Cendana Siprianus Suban Garak, GM PLN UIW NTT Ignatius Rendroyoko dan EVP Talenta PT PLN (Persero) Karyawan Aji.

GM PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Nusa Tenggara Timur (NTT) Ignatius Rendoyoko optimis kondisi rasio elektrifikasi di NTT yang saat ini telah mencapai 73,72%, telah meningkat dari tahun lalu yang baru mencapai 62%. Itu sebabnya ia yakin tidak lama lagi rasio elektrifikasi akan bergerak menuju 100%.

“Kami melihat wilayah ini merupakan salah satu provinsi yang tertinggi dalam optimalisasi penggunaan Energi Baru dan Terbarukan (EBT), khususnya dalam pemanfaatan energi surya melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Pengerjaan projek PLTS di NTT dilakukan melalui peggunaan bidang lahan tanah yang tidak lagi produktif, sehingga nilai ekonomisnya akan bisa terkonversi melalui aplikasi PLTS,” paparnya di Kupang, NTT, Jumat (13/9/2019).

Ia berbicara dalam rangkaian “Kuliah Umum bersama PLN Group dan sejumlah universitas dan perguruan tinggi di Kupang antara lain Universitas Nusa Cendana; Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang; Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang; Universitas Muhammadiyah, Kupang dan Politeknik Negeri Kupang beserta program vokasi untuk mencapai link and match antara dunia pendidikan dengan industri, yang berlangsung di Auditorium Politeknik Kesehatan Negeri Kupang, NTT.

Dalam acara yang dibuka oleh Wakil Gubernur NTT Josef A. Nae Soi, tersebut dikemukakan juga harapannya agar berbagai program pembangunan yang telah dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dapat didukung oleh semua pihak.

Pada kesempatan tersebut dirinya menyinggung sejumlah pilihan mengenai Provinsi NTT yang kaum milenialnya mengantungi tingkat literasi mencapai 1,8%. Itu sebabnya pihaknya sangat mengharapkan sebagai BUMN, PLN secara kontinu tetap melanjutkan berbagai program corporate social responsibililty (CSR) yang selama ini sudah berlangsung.

“Harapannya dengan berbagai program kerjasama seperti dalam bentuk penyediaan beasiswa dan sistem vokasi serta link and match, para putra daerah ini akan mampu memiliki pengalaman yang berbeda, dalam mengenyam pendidikan, baik di dalam dan juga sampai ke mancanegara,” tutur mantan Dubes Argentina untuk Indonesia ini.

Milenial Teknologi di Era Industry 4.0
Kepala Jurusan Elektro dari Politeknik Negeri Kupang (PNK) Jemsrado Sine dalam kesempatan tersebut mengingatkan, agar para milenial harus cerdas dalam memanfaatkan teknologi, sehingga dalam aplikasinya, perlu mengetahui lebih jauh resiko yang akan terjadi sebagai konsekuensi penggunaan alat dan teknologi komunikasi digital tersebut.

Dalam sambutannya mewakili Direktur PNK Nonce Frida Tuati yang sedang menjalankan dinas ke Taiwan, Jemsrado menyampaikan apresiasinya kepada PT PLN (Persero), yang di dalam format kerja kesehariannya, sudah mengikuti perkembangan era digital saat ini.

“Kami melihat pola atau sistem bekerja di PLN, dipandang cukup menggairahkan, bahkan sistemnya juga berbeda dengan sistem kerja umum yang berlaku selama ini, sehingga bekerja di PLN saat ini menjadi tantangan, karena tidak membosankan,” jelasnya.

Sebagai generasi milenial atau Gen Y (generation me atau echo boomers yang lahir di antara tahun 1980 – 1990, mereka menjadi generasi yang berubah seiring dengan perubahan teknologi.

Dengan teknologi itu juga, mereka mengandalkan media sosial sebagai tempat mendapatkan informasi. Bahkan menurut Jemsrado yang mengutip pernyataan Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Thomas Jul, media sosial telah menjadi platform pelaporan dan sumber berita utama bagi masyarakat.

Demikian juga The Nielsen Global yang melakukan riset terhadap 30 ribu responden yang memiliki akses internet memadai, dari 60 negara di Asia Pasifik, Eropa, Amerika Latin dan Utara, serta Timur Tengah, menggambarkan prilaku generasi akrab internet, memilih jalur daring untuk membeli berbagai produk barang dan jasa.

Bahkan Nielsen mencatat, pertumbuhan perangkat mobile di sejumlah kota besar di Indonesia mencapai 88%.

Karena itu, Menurut Direktur Human Capital Management (HCM) PT (Persero) PLN Muhamad Ali, di era disrupsi dan revolusi industry 4.0 terdapat tantangan tersendiri bagi pengelolaan sumber daya manusia di setiap organisasi.

Sementara dalam rangka pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, pihaknya juga membutuhkan SDM yang kompeten untuk memastikan, bisnis ketenagalistrikan dapat berjalan dengan baik dalam rangka melayani kebutuhan masyarakat.

Tidak hanya dari sisi hardskill, namun softskill juga diperlukan agar memiliki kematangan emosional dan sosial dalam dunia kerja.

Upaya Melistriki NTT Perlu Dukungan SDM Berkompetensi
Sebagai bagian dari upaya melistriki Nusantara, saat ini rasio elektrifikasi di Nusa Tenggara Timur (NTT) telah mencapai 73,72%. Menurut Muhamad Ali, proses ini dapat terjadi salah satunya karena adanya dukungan sumber energi terbarukan (EBT) yang melimpah di wilayah tersebut.

“Saat ini lebih dari Rp 9 miliar sudah investasi yang tertanam pada enam pembangunan sumber EBT meliputi PLTP – panas bumi; PLTMH – mikro hidro; PLTS – tenaga surya; dan PLTB – tenaga bayu.

Melalui sinergi dengan pemerintah desa, maka pelaksanaan program Tim Percepatan Listrik Pedesaan terlaksana dengan baik,” papar Ali dalam kesempatan menyampaikan sambutannya pada Kuliah Umum bersama PLN dan sejumlah universitas dan perguruan tinggi di Kupang.

Peningkatan rasio elektrifikasi di Bumi Flobamora tersebut, salah satunya juga memerlukan dukungan dan pembangunan dari SDM berkompetensi, yang dihasilkan melalui pelaksanaan program vokasi dengan sejumlah SMKN di wilayah Kupang dan Maumere yang terlaksana sejak tahun 2018.

Selain itu menurut Ali, PLN juga melaksanakan sejumlah program rekrutmen, baik untuk jenjang SMK, S1/D4 selama empat tahun berturut-turut, serta melakukan program kerja sama program D3 dengan Politeknik Negeri Kupang.

Sebagai BUMN, lembaga ini juga menyediakan tempat untuk melaksanakan program kerja lapangan (PKL) dan magang bagi berbagai SMK dan SMU, serta menjadi lokasi tempat riset penelitian bagi universitas di lingkungan PLN.

Adapun sejumlah pengembangan SDM di NTT diakukan melalui program leader create leader pegawai UIW NTT dengan kader asli NTT, yang saat ini telah terealisasi sebanyak 14 dari 18 angkatan yang rencananya berlangsung sampai 31 Desember 2019.

Ada juga pengembangan keahlian sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP); program riset kerjasama dengan Universitas Nusa Cendana; program pengembangan kompetensi keahlian kabel laut dengan ITB untuk melistriki Kepulauan di Labuan Bajo dengan sistem kabel laut, serta upaya memaksimalkan pemberdayaan putra daerah NTT di PLN. (Septian Danardi).


Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA