Dosen FT-UNS Manfaatkan Limbah Tulang Sapi untuk Bahan Baku Bone Graft

Nasional

Kamis, 12 September 2019 | 16:50 WIB

190912165128-dosen.jpg

Tok Suwarto

Dosen FT-UNS, Dr. Joko Triyono, menjelaskan hasil penelitiannya yang memanfaatkan limbah tulang sapi, sebagai bahan baku bone graft pengisi tulang pada operasi patah tulang

LIMBAH tulang sapi di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Jagalan, Kota Solo, di tangan dosen Fakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Dr. Joko Triyono dan kawan kawan akan bisa memberi manfaat besar untuk menolong pasien yang mengalami patah tulang.
Melalui proses demineralisasi dan deproteinisasi untuk menghilangkan kandungan mineral dan protein, limbah tulang sapi dapat rekayasa menjadi bone graft, yaitu material tiruan untuk menggantikan atau memperbaiki tulang yang rusak.

"Bone graft sering disebut sebagai bone filler, karena berfungsi sebagai material pengisi tulang dalam proses operasi patah tulang. Kasus operasi patah tulang yang memerlukan bone graft, yaitu semua operasi patah tulang dengan kondisi pasien bone loss atau tulang yang hilang dan semua operasi old fracture atau fractur yang traumanya lebih dua minggu, serta fractur yang dinyatakan tidak menyambung setelah diberikan terapi lebih dari 6 bulan," ujar Dr. Joko Triyono kepada wartawan, saat menjelaskan hasil penelitiannya, di Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNS, Kamis (12/9/2019).

Menurut dosen FT-UNS itu, dia meneliti pemanfaatan limbah tulang sapi tersebut sejak 2016 lalu, karena dalam praktik operasi patah tulang para praktisi bedah ortopaedi sangat tergantung pada bone graft impor yang harganya selangit. Dalam penelitiannya secara multi disiplin, bersama dosen Fakultas Kedokteran (FK) UNS, dokter Suyatmi, MBiomed dan praktisi spesialis ortopaedi RSUP Suradji Tirtonegoro (Klaten), dokter I Dewa Nyoman Suci Anindya Murdiyantara, Dr. Joko Triyono berhasil mengembangkan bone graft berbahan baku tulang sapi yang harganya hanya separuh dari produk impor.

"Salah satu material bone graft yang masih impor dari Korea adalah Bio-oss, Bongros. Produk impor tersebut per 5 CC seharga Rp 1, 7 juta. Berdasarkan hasil survei tahun 2010, di RS Ortopaedi Prof. Dr. Soeharso, rata-rata terdapat 4.537 pasien patah tulang yang harus dioperasi. Jika diasumsikan setiap pasien patah tulang rata-rata perlu 5 CC material bone graft, untuk memenuhi kebutuhan 4.537 pasien RS Ortopedi per tahun sebanyak 22.685 CC atau setara dengan Rp 7,712 miliar," jelasnya.

Dia menambahkan, beban biaya pengadaan material bone graft tersebut saat ini ditanggung BPJS, karena bahan pengisi tulang impor itu sudah masuk e-catalog yang diakses BPJS. Sedangkan produk lokal bone graft di dalam negeri belum ada yang masuk dalam e-catalog sebagai syarat produk bisa di-klaimkan ke BPJS.

Menyinggung efektivitas material bone graft berbahan baku tulang sapi, yang disebut Dr. Joko Triyono, sudah lolos uji in vivo pada tikus putih, secara umum sama dengan produk impor. Namun dia mengingatkan, efektivitas kedua produk tersebut juga tergantung pada berbagai faktor, di antaranya faktor usia pasien.

"Kalau diukur dari proses penyembuhan berdasarkan seberapa lama tulang baru tumbuh, pada percobaan skala laboratorium efektif dalam 40 hari sudah ada tulang tumbuh," tandasnya.

Dr. Joko Triyono bersama tim berharap, hasil penelitiannya dapat segera dihilirisasi untuk diproduksi secara massal. Alasannya, semua kasus operasi patah tulang memerlukan material bone graft tersebut dan saat ini belum ada produk lokal dengan bahan baku anorganik dari tulang sapi tersebut, yang harganya lebih murah dibanding produk impor dengan bahan baku bahan kimia seperti buatan Korea.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA