Solo Kota Kolonial yang Internasional Tak Tinggalkan Kota Budaya

Nasional

Sabtu, 7 September 2019 | 18:10 WIB

190907174705-solo-.jpg

Tok Suwarto

Wakil Wali Kota Solo, Achmad Purnomo, ketika melantik para pengurus RT dan RW dua kelurahan hasil pemekaran, yaitu Kelurahan Semanggi dan Kelurahan Mojo

WAKIL Wali Kota Solo, Achmad Purnomo, mengungkapkan, Kota Solo sebagai bagian dari sejarah bangsa yang dahulu dikenal sebagai kota tradisional, kota kolonial dan kota modern, kini sedang berkembang menuju ke arah kota internasional.

Meskipun Kota Solo menjadi kota internasional, dia menegaskan, dalam pembangunan Kota Solo tidak akan meninggalkan jatidiri dan karakternya sebagai "Kota Budaya". Konsep pembangunan Kota Solo tidak semata-mata dalam aspek material, namun tetap mengedepankan aspek lingkungan dan budaya.

"Penataan Kota Solo yang telah terkonsep dengan jelas dan tertata rapi, adalah merupakan keinginan masyarakat Kota Solo. Pemkot Solo hanya memfasilitasi dan memberikan regulasi. Sedang yang melaksanakan adalah masyarakat," kata Achmad Purnomo, ketika mengukuhkan para pengurus Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) dua kelurahan hasil pemekaran, yaitu Kelurahan Semanggi dan Kelurahan Mojo, di Dalem Joyokusuman, kompleks Keraton Surakarta, Sabtu (7/9/2019).

Keberhasilan pembangunan Kota  Solo, sambung Wakil Wali Kota Solo itu, tidak terlepas dari peran aktif para pengurus RT dan RW  dalam menggerakkan partisipasi warga masyarakat di lingkungannya. Peran dan fungsi pengurus RT dan RW, katanya, mencerminkan dukungan masyarakat terhadap tugas-tugas pemerintahan dalam pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.

"Karena itu, laksanakanlah tugas  dan fungsi RT dan RW supaya masyarakat dapat merasakan manfaat dari kepengurusan RT dan RW di lingkungan masing-masing," tandasnya.

Kepala Bagian (Kabag) Pemerintahan Umum Pemkot Solo, Hendro Pramono, menjelaskan, di Kota Solo selain Kelurahan Semanggi yang dipecah menjadi dua, yaitu Kelurahan Semanggi dan Kelurahan Mojo, juga Kelurahan Kadipiro menjadi tiga kelurahan, yaitu Kelurahan Kadipiro sendiri, Kelurahan Banjarsari dan Kelurahan Joglo. Kepengurusan RT dan RW di kelurahan yang dimekarkan, saat ini yang sudah siap dikukuhkan baru Kelurahan Semanggi dan Kelurahan Mojo.

"Pengukuhan pengurus RT dan RW di wilayah kelurahan hasil pemekaran, untuk memberikan kemudahan pelayanan kependudukan dan kebutuhan masyarakat di bidang adminiatrasi pemerintahan. Kita berharap tugas-tugas pelayanan dapat dilaksanakan dengan baik," ujarnya.

Dia menambahkan, proses pemekaran kelurahan tersebut perlu waktu panjang. Pemekaran yang diproses sejak tahun 2007, baru dapat direalisasikan pada 2017. Saat ini di Kota Solo terdapat tiga kelurahan yang dalam proses pemekaran, yaitu Kelurahan Mojosongo, Kelurahan Pajang dan Kelurahan Jebres.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA