Wali Kota Solo Minta Provokator Vandalisme Berbau Rasialis Diusut

Nasional

Jumat, 23 Agustus 2019 | 19:34 WIB

190823190520-wali-.jpg

Tok Suwarto

Aksi unjuk rasa elemen mahasiswa Unisri Solo di bawah patung Bung Karno di Plasa Stadion Manahan yang semula akan digelar di Bundaran Gladag.

MUNCULNYA vandalisme dengan tulisan berbau rasialis di tiga lokasi Kota Solo, mendapat tanggapan Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo dan elemen mahasiswa Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Solo. Wali Kota Solo minta aparat keamanan mengusut pelaku vandalisme dan memroses secara hukum, sedangkan mahasiswa Unisri berunjuk rasa mengecam tindakan rasis terhadap mahasiswa Papua.

Wali Kota Solo menyatakan, Pemkot menjamin seluruh warga Papua di Kota Solo aman. Dia menegaskan, di Kota Solo tidak ada istilah diskriminasi terhadap warga Papua.

"Orang yang berbuat vandalisme itu anti kemapanan. Mereka harus dicari. Aparat Polri saya minta mencari provokator rasialis dengan vandalisme itu. Provokasi yang mengganggu kesatuan dan persatuan itu harus ditindaklanjuti," ujarnya kepada wartawan, Jumat (23/8/2019).

Dia menekankan, warga Kota Solo tidak boleh dipecah belah siapapun dengan dalih apapun. Dia mengajak, jika ada pihak yang ingin memecah belah akan dihadapi bersama.

"Kita memberi ruang yang terbuka luas bagi Paguyuban Warga Papua di Kota Solo. Setiap tahun kita bertemu dan mengadakan kegiatan bersama. Sekarang ini harusnya tidak ada lagi anak Papua atau anak Jawa. Yang ada hanya anak Indonesia," tandasnya.

Sementara itu, pada Jumat petang puluhan mahasiswa Unisri Solo menggelar unjuk rasa mengecam tindakan rasis yang menimpa mahasiswa Papua. Mereka menyeru kepada semua pihak agar menghilangkan rasisme dan diskriminasi di Bumi Indonesia.

“Kami mengingatkan seluruh lapisan masyarakat agar isu rasisme dan diskriminasi dihilangkan di Indonesia, terutama di Kota Solo,” ujar Zikri Urobi, koordinator aksi dalam orasinya, di Plasa Stadion Manahan di bawah patung Bung Karno.
 
Dengan nada keras, dia menyatakan, Kota Solo adalah kota yang adem dan damai. Pihaknya menyuarakan perdamaian tersebut dari Kota Solo untuk seluruh Tanah  Air. Dia minta, diskriminasi ras, suku, agama dan sebagainya harus dihilangkan di Indonesia dengan bersama-sama menggalang persatuan dan kesatuan.
 
Aksi unjuk rasa damai itu, awalnya akan digelar di Bundaran Gladag di bawah patung pahlawan Slamet Riyadi. Namun ketika aksi baru dimulai dengan membentang  spanduk di trotoar, aparat Kepolisian dari Polresta Surakarta mencegah aksi di tempat itu.

Kabag Ops Polresta Surakarta,  Kompol Ketut Sukarda, mengatakan, aksi di Bundaran Gladag belum ada pemberitahuan sehingga disarankan ditunda atau dialihkan ke plasa Stadion Manahan.

“Dalam koordinasi koordinator lapangan di Polresta, disepakati tempat aksi dipindah ke Plaza Manahan,” jelas Ketut Sukarda.
 
Dalam aksi yang diikuti sekitar 30-an mahasiswa Unisri dari berbagai elemen, dibentang sejumlah spanduk bertuliskan "Papua Bagian dari Kita, Kita Bagian dari Papua", "Lawan Rasisme, Stop Diskriminasi", "Save Papua" dan lain-lain.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA