Wali Kota dan Bupati Hadapi Tantangan Berat yang Unik

Nasional

Kamis, 22 Agustus 2019 | 19:42 WIB

190822193511-wali-.jpg

Tok Suwarto

PARA bupati dan wali kota dari sejumlah daerah dan beberapa utusan dari mancanegara, peserta simposium  Civic Engagement 4.0: 2019 International Forum in Solo" atau "Pelibatan Masyarakat 4.0: Forum Internasional di Solo," menyoroti tantangan unik yang di daerah masing-masing. Pemerintah kota dan kabupaten, menghadapi tantangan yang berbeda-beda di tengah masyarakat yang berubah cepat, namun tetap fokus pada praktik pemerintahan yang baik dan memberikan solusi inovatif dalam menyelesaikan masalah.

Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, misalnya, menghadapi tantangan berupa masalah permukiman di Kampung Pringgading yang padat penduduk namun lahan terbatas. Solusi inovatif yang digunakan dalam mengatasi masalah itu adalah, Pemkot Solo membangun rumah renteng dengan melibatkan masyarakat yang terkena proyek.

Berbeda dengan di Kota Solo, Wali Kota Banjarmasin, H Ibnu Sina, mengembangkan inovasi untuk kota inklusi yang dia sebut sebagai "kota yang ramah bagi semua warga." Dengan slogan "city for all", Wali Kota Banjarmasin menitik beratkan pembangunan terutama bagi masyarakat yang selama ini terpinggirkan.

Sedangkan Bupati Lombok Utara, mengungkapkan pengalaman dalam melakukan perbaikan pasca-bencana gempa di kabupaten tersebut. Berbagai pengalaman para wali kota dan bupati dalam menghadapi tantangan itu, didiskusikan bersama perwakilan organisasi masyarakat sipil dengan berbagai latar belakang, termasuk  organisasi penyandang disabilitas,  organisasi keagamaan, periset dan akademisi dari dalam dan luar negeri.

Dr. Dicky Sofjan, dari Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang juga aktivis Indonesia Consortium for Religious Studies (ICRS), di sela simposium, menjelaskan kepada wartawan, Kamis (22/8/2019), semua kota di dunia saat ini memang menghadapi tantangan berat akibat perubahan demografi, konstelasi politik, ekonomi dan budaya yang cepat. Perubahan yang dinamis itu belum termasuk pengaruh perubahan iklim terhadap seluruh bidang kehidupan masyarakat.

"Simposium para wali kota dan bupati ini penting untuk membangun komunikasi dan saling bertukar pengalaman dalam merespon isu-isu aktual terkait dengan martabat manusia, keadilan sosial dan pembangunan keberlanjutan," katanya.

Dalam kegiatan yang diikuti wakil 11 negara dan diprakarsai Chulalongkorn University (Thailand) bersama Yayasan Kota Kita (Solo), dan ICRS itu, Wali Kota Provinsi Yala (Thailand), Pongsak Yingchoncharoen, juga berbicara tentang pengalamannya memimpin kota di Thailand Selatan. Secara singkat dia mengatakan kepada wartawan, merasa beruntung bisa mengunjungi Indonesia untuk berbagi pengalaman dalam pembangunan kota yang melibatkan masyarakat.




Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA