Opera Kolosal "Hadeging Nagari Republik Indonesia" Puncak Pawai Pembangunan Kota Solo

Nasional

Selasa, 13 Agustus 2019 | 22:18 WIB

190813211843-opera.jpg

Tok Suwarto

Maretha Dinar dari Dinas Kebudayaan Pemkot Solo, bersama Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata (Diparta), Nunuk Mari Hastuti, menjelaskan pawai pembangunan yang dirangkai dengan Opera Kolosal "Hadeging Nagari Republik Indonesia"

KERAGAMAN masyarakat Kota Solo yang tergabung dalam berbagai komunitas dan kelompok-kelompok di perkampungan, akan dilibatkan dalam karnaval pawai pembangunan Kota Solo 2019.

Karnaval untuk memeriahkan peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-74, akan digelar Minggu (18/8/2019) petang tersebut, puncaknya akan dirangkai dengan pagelaran opera kolosal bertemakan terbentuknya NKRI yang bertajuk "Hadeging Nagari Republik Indonesia" di halaman Balai Kota Solo.

Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata (Diparta) Pemkot Solo, Nunuk Mari Hastuti, mengungkapkan kepada wartawan, Selasa (13/8/2019), masyarakat Kota Solo yang beraneka ragam lebih ditonjolkan dalam pawai pembangunan 2019, karena mereka merupakan salah satu dasar kekuatan dan sumber utama dalam membangun Kota Solo.

"Pawai pembangunan yang menampilkan keragaman masyarakat Kota Solo tersebut, kita kaitan dengan tema Hari Kemerdekaan, yaitu kebhinekaan dalam kesatuan untuk membangun SDM unggul Kota Solo menuju Indonesia maju," katanya.

Pendukung karnaval pawai pembangunan melintas Jl. Slamet Riyadi dari Stadion Sriwedari sampai Balai Kota Solo itu, selain masyarakat juga tokoh agama dan aliran kepercayaan, organisasi perangkat daerah (OPD) Pemkot Solo, TNI dan Polri, serta organisasi kemasyarakatan di Kota Solo.

Menyinggung pagelaran opera kolosal "Hadeging Nagari Republik Indonesia" garapan sutradara 
Agung Kusumo Widagdo, yang akan didukung lebih 100 orang penari, seniman ST Wiyono, menyatakan, opera tersebut istimewa karena melibatkan sanggar-sanggar teater. Penggarapannya juga sangat hati-hati, karena menyangkut sejarah dengan para tokoh yang di antaranya sekarang masih hidup.

"Opera kolosal tentang sejarah berdirinya Republik Indonesia, dari episode masa Boedi Oetomo, masa Sumpah Pemuda, peristiwa Proklamasi Kemerdekaan sampai lahirnya Pancasila, benar-benar istimewa sehingga harus digarap hati-hati. Dalam garapan opera yang juga melibatkan banyak sanggar teater, kita berupaya jangan ada kesalahan karena opera ini berdasarkan sejarah dan banyak tokoh yang masih hidup," jelasnya.

Sepintas ST Wiyono mengungkapkan kesulitan dalam memvisualkan kisah yang terkait sejarah dengan banyak konflik. Di antaranya dia menyebutkan, kisah tentang pemberontakan di Sumatera, Banten, Pasundan, Jawa dan lain-lain yang gagal karena berjalan sendiri-sendiri. Kemudian memvisualkan sejarah pada masa Boedi Oetomo yang dimotori mahasiswa Stovia, kisah Sumpah Pemuda dan sebagainya.

"Visualisasi itu agar opera tetap sebagai tontonan yang ada hiburan, ada kisah sedih, ada konflik, ada komedi dan peristiwa kemanusiaan lainnya. Di dalamnya bukan hanya menampilkan tarian, tetapi juga drama ketoprak, teater, pantomim dan sebagainya," tuturnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA