Produktivitas Profesor Jangan Seperti Gedebog Pisang

Nasional

Kamis, 8 Agustus 2019 | 20:35 WIB

190808203552-produ.jpg

Tok Suwarto

Rektor UMS Prof. Dr. Sofyan Anif yang dikukuhkan sebagai guru besar manajemen pendidikan, di depan Sidang Senat Terbuka UMS.

DIREKTUR Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti), Prof. Dr. Ali Gufron, mengungkapkan, Menristek Dikti melontarkan masalah impor rektor asing untuk perguruan tinggi (PT) di Indonesia, karena alasan belum meratanya kualitas sumber daya manusia (SDM) di pendidikan tinggi kita. Dia berharap, pada dosen bergelar profesor di perguruan tinggi negeri maupun swasta berupaya memperbaiki manajemen SDM untuk peningkatkan kualitasnya.

"Masalah kualitas SDM di pendidikan tinggi kita, sampai Menristek Dikti bingung. Sehingga beliau melontarkan apakah kita perlu impor rektor asing. Kita berharap para guru besar mencari upaya bagaimana menjadikan  manajemen pendidikan lebih baik," ujarnya, ketika menyaksikan pengukuhan Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Sofyan Anif, sebagai guru besar bidang manajemen pendidikan, di Auditorium Muhammad Djazman, kampus UMS Pabelan, Kamis (8/8/2019).
 
Prof. Ali Gufron mengungkapkan, dalam meningkatkan kualitas SDM, Kemenristek Dikti menerapkan konsep sharing resources untuk mengatasi sumber daya yang terbatas. Dalam pelaksanaannya, perguruan tinggi swasta (PTS) boleh pinjam dosen PTN yang memenuhi syarat dengan status  dosen tidak tetap.

"Sebetulnya, semua dosen bisa meraih jenjang jabatan akademik tertinggi sebagai profesor, melalui jalur dosen tetap atau dosen tidak tetap. Sedangkan untuk mengatasi terbatasnya SDM, kita menggunakan konsep sharing resources, yaitu PTS boleh pinjam dosen PTN. Syaratnya, dosen yang bersangkutan mau dan ada waktu," jelasnya.
 
Dirjen Dikti berharap, bagi dosen yang telah menjadi profesor supaya tetap produktif dan aktif. Ditekankannya, setelah menjadi profesor para dosen harus tetap  belajar dan harus produktif, karena jabatan akademik profesor bukan merupakan puncak produktivitas.

"Ada dosen, sebelum profesor rajin menulis tetapi setelah profesor hanya ongkang-ongkang. Alasannya untuk mencapai derajat profesor sulit setengah mati, sehingga dia ingin menikmati.

Maaf, profesor jangan seperti gedebog pohon pisang, setelah berbuah sekali lantas mati, tetapi produktivitas dan profesionalnya harus kontinyu," tandasnya.

Prof. Sofyan Anif, dalam pidato pengukuhannya menyatakan, di bidang pendidikan fenomena berpikir dengan logika masa depan untuk diterapkan masa sekarang tampaknya masih jauh dari harapan. Dia memandang perlu adanya reformulasi manajemen strategis dengan melakukan disruption mindset, sehingga faktor-faktor manajerial lebih berperan sebagai faktor penentu keberhasilan.

"Dengan demikian, disruption di bidang pendidikan telah menginisiasi pengem-bangan strategi tata kelola model pembelajaran yang lebih inovatif, kreatif, dan selalu berorientasi masa depan," tuturnya.

Guru besar manajemen pendidikan itu mengritik sebagian besar masyarakat yang menganggap disruption hanya berkaitan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (ICT). Dalam bidang pendidikan, sambungnya,  disruption sebagai sebuah tantangan bagi insan pendidikan termasuk guru agar melalui sistem pendidikan hasil disruption mampu membangun karakter peserta didik yang memiliki daya inovasi dan kreatifitas tinggi.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA