Mendag Diminta Lobi Cina untuk Tingkatkan Ekspor

Nasional

Rabu, 17 Juli 2019 | 18:33 WIB

190717181504-menda.jpg

solotrust.com

Ilustrasi.

NERACA perdagangan Indonesia periode Juni 2019 tercatat surplus sebesar USD 0,2 miliar. Meski surplus, ekspor Indonesia juga harus terus digenjot dengan memanfaatkan perang dagang antara Amerika Serikat dengan Cina. Sejumlah kalangan meminta Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita untuk menggeber peluang itu dengan melobi langsung pemerintah negeri tirai bambu itu.

Wakil ketua Komisi VI DPR RI, Inas Nasrullah Zubir mengatakan Indonesia harus meningkatkan ekspor produksi lantaran banyak yang berpotensi. Jadi, Indonesia jangan ekspor lagi barang mentah melainkan sudah siap pakai.

Oleh karena itu, Inas menyarankan Mendag pergi ke Cina untuk melakukan lobi dan mengetahui apa yang dibutuhkan di sana. Apalagi, kata dia, tenaga kerja di Cina sangat mahal.

"Jadi apa yang bisa produksi bisa kita tawarkan. Ya saya kira kalau emang ada yang bisa dibicarakan perlu ke Cina. Nah saya kira apa yang bisa kita ekspor sama kita, kita izin, kita ekspor ke sana," kata Inas kepada wartawan, Rabu (17/7/2019).

Kepergian Mendag ke Cina nantinya juga diharapkan mendapatkan kabar positif. Sehingga, kerja sama ekspor Indonesia ke Cina terus meningkat untuk memperbaiki neraca perdagangan.

"Yang penting mendag pulang bawa hasil. Tetapi menteri perindustrian harus ke sana juga untuk mencari tahu apa sih yang bisa diproduksi Indonesia diekspor Cina terutama barang-barang industri dan teknologi Indonesia cukup mumpuni," paparnya.

Senada, Wakil ketua Komisi VI lainnya, Azam Azman Natawijana mengatakan mendag bisa langsung ke Cina untuk melobi agar ekspor Indonesia meningkat. Sehingga komoditi Indonesia bisa terus diterima China.

"Bisa saja, tetapi seberapa besar lobi itu akan sukses ya perlu dicoba. Mereka (Cina) lebih besar dari kita," kata Azam

Apalagi, kata dia, Indonesia punya perjanjian dengan Cina. Perjanjian itu pun punya payung hukum. "Nah itu bisa dipakai," katanya.

Namun, Indonesia harus memiliki barang yang kompetitif agar Cina tertarik. Menurutnya, produk Indonesia masih kalah dengan milik Cina.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Pingkan Audrine Kosijungan di lain kesempatan menilai untuk tingkatkan ekspor pemerintah harus mencari produk yang mempunyai nilai tambah. Juga harus diperhatikan produknya, memang produk olahan.

"Sehingga harga jual ekspor lebih tinggi dibandingkan dengan produk mentah. Bisa manufaktur," katanya.

Tetapi itu tergantung dengan negara tujuan ekspor. Kalau bisa, lanjutnya, kemendag bisa petakan kerjasama dengan kemenlu.

Di kesempatan terpisah, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Yunita Rusanti mengatakan, surplus yang terjadi memang tidak begitu besar, atau tepatnya USD 196 juta pada Juni. Yunita mengatakan, momen ini diduga juga akibat imbas perang dagang AS dengan Ciina.

"Sebenarnya kita ada peluang lagi meningkatkan ekspor, bisa dilihat komoditas apa yang bisa dipasok ke China dan juga Amerika," ujarnya.

Komoditas ekspor ke Ciina yang cukup besar, kata dia, adalah batu bara, Crude Palm Oil (CPO), besi dan baja. Ia pun memprediksi ekspor CPO ke Cina masih bisa digenjot lagi.

Pemerintah, lanjutnya, bisa mendorong lagi melakukan upaya-upaya baik internal maupun eksternal meningkatkan ekspor ini. Antara lain menfag bisa melakukan lobi-lobi ke negara tujuan ekspor seperti Ciina.

"Ini PR semua (menteri terkait) lah, bisa melakukan upaya-upaya agar momen perang dagang AS Cina ini bisa kita manfaatkan," katanya.

Yunita menyebut, faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap neraca perdagangan yakni kondisi ekonomi dunia yang masih lemah. Meski demikian pemerintah bisa terus melakukan berbagai upaya.

Diketahui, kemendag berupaya menekan angka defisit perdagangan Indonesia dengan Cina sebesar 18,41 miliar dolar AS pada 2018. Adapun pada tahun tersebut, nilai perdagangan Indonesia-Cina mencapai 72 miliar dolar AS.

Direktur Kerjasama Pengembangan Ekspor Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Marolop Nainggolan mengatakan, Indonesia dapat memanfaatkan potensi pasar Cina yang penduduknya berjumlah 1,4 miliar orang. Untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya tentu pemerintah China tidak dapat mengatasinya sendiri.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA