Rektor UNS Ingatkan Sivitas Akademika Nakal akan Dihantarkan ke KPK

Nasional

Rabu, 12 Juni 2019 | 19:25 WIB

190612192639-rekto.jpg

Tok Suwarto

REKTOR Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Prof. Dr. Jamal Wiwoho, mengingatkan, kalangan sivitas akademika jangan ada yang menjual nama UNS sehingga berakibat tersandung kasus hukum. Dia menegaskan, tugas para akademisi adalah menjunjung tinggi integritas dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

"Seluruh sivitas akademika UNS jangan ada yang nakal. Kalau sampai ada manajemen yang menjual murah UNS, saya sendiri yang akan menghantarkan ke KPK," ujar Prof. Jamal Wiwoho, dalam silaturahmi halal bi halal di depan keluarga besar Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) UNS, Rabu (12/6/2019).

Mantan Inspektur Jenderal (Irjen) Kemenristek Dikti itu menekankan masalah tersebut, karena LPPM di semua perguruan tinggi yang maju sudah didesain sangat hebat. Menurut dia, program-program riset dan publikasi hasil penelitian di UNS jangan hanya sekadarnya tapi harus bisa dihilirisasi di dunia usaha.

Prof. Jamal menjanjikan, alokasi dana penelitian di UNS yang setiap tahun rata-rata antara Rp 30 miliar sampai Rp 40 miliar atau sekitar 10 persen dari anggaran UNS akan ditingkatkan menjadi 15 persen. Dana penelitian yang berasal dari berbagai sumber itu harus bisa menghasilkan karya yang secara signifikan dapat spin off dan dikomersialisasikan.

"Apa yang dinamakan hasil riset itu kemudian harus spin off dan komersialisasi. Jangan sampai riset hanya sekadar menjadi laporan penelitian, karena kita berharap riset berbasis output itu lebih simple. Sistem pelaporan keuangan yang dulu berbasis proses dan lebih menekankan pada pertanggung jawaban keuangan, sekarang basisnya adalah output," jelasnya.

Pada bagian lain, Rektor UNS minta agar para reviewer penelitian mengubah paradigma penilaian hasil penelitian mandiri yang menggunakan dana pribadi untuk membiayai proyek penelitian. Para reviewer jangan asal menolak karya penelitian mandiri tanpa memberi solusi agar penelitian tersebut dapat lolos untuk komersialisasi dan hilirisasi.

"Dalam penelitian mandiri itu, para peneliti menggunakan dana dari isteri atau suami. Para reviewer jangan terlalu kejam dalam menolak karya penelitian mereka tanpa memberi solusi. Reviewer harus menggunakan paradigma baru yang bisa membantu peneliti mandiri yang belum bisa memenuhi standarisasi penelitian, misalkan dia harus baca buku, sempurnakan itu, jangan curang dan sebagainya," ungkapnya.

Ditambahkannya, para peneliti yang mengeluarkan dana sendiri itu, kalau tidak melakukan penelitian dan kompetensinya kosong dia tidak akan mendapat penghargaan, tunjangan profesi atau tunjangan sertifikasi dosen.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR