Yordania Pulangkan 35 Pekerja Migran Asal Jabar

Nasional

Minggu, 21 April 2019 | 17:09 WIB

190421171100-yorda.jpg

SEBANYAK 35  pekerja migran asal Jawa Barat bersama 16 pekerja asal provinsi lainnya yang bekerja di Yordania dipulangkan dengan memanfaatkan program amnesti atau pengampunan yang diadakan negara tersebut. Ke-51 pekerja ini berstatus ilegal (tidak berdokumen) dan mayoritas telah berdomisili di negara itu delapan tahun lebih.

Wartawan Pikiran Rakyat, Satrio Widianto menyebutkan, para pekerja migan asal Jabar itu adalah dari Indramayu 9 orang, Cirebon 5 orang,  Karawang 5 orang, Subang 4 orang, Sukabumi  3 orang, Purwakarta 3 orang, Bekasi 2 orang,  Kabupaten Bandung 2 orang, dan  Cianjur 2 orang. Sisanya, 10 pekerja dari Banten yakni Tangerang (8) dan Serang (2). Berikutnya dua pekerja migran  dari NTB (Sumbawa dan Lombok Tengah), Jawa Tengah (Pekalongan) dan Jawa Timur (Jember dan Banyuwangi.

Kepala Sub Direktorat Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Kementerian Ketenagakerjaan Yuli Adiratna mengatakan, pemulangan  ke 51 pekerja migran bermasalah ini merupakan tahap ke-3 dengan jumlah terbesar sejak dua tahun terakhir.

"Pada bulan sebelumnya proses repatriasi telah dilakukan dalam dua tahap yang seluruhnya seluruhnya berjumlah 38 orang pekerja," ujarnya saat menyambut kedatangan para pekerja itu di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten, Sabtu malam (20/4/2019).

Yuli mengatakan, program amnesti tahun 2019 dari pemerintah Yordania ini dimanfaatkan pemerintah untuk mempercepat proses pemulangan para pekerja migran yang bermasalah.  

"Di sana masih ada sekitar 1.040 orang pekerja yang menunggu program amnesti. Pemerintah melakukan berbagai upaya agar proses repatriasi berjalan lancar. Ini bentuk perlindungan bagi pekerja migran, " tuturnya.

Suasana haru terlihat saat para pekerja bertemu keluarga yang menjemput di bandara.

"Alhamdulillah bisa pulang. Melalui prorgam Amnesti jadi bisa pulang gratis dan proses kepulangannya pun sangat cepat, " kata Altarmini (35) asal Bandung yang telah bekerja lima tahun di Yordania. Altarmini terharu dan terisak saat anak dan orangtuanya menjemput.

Tania (31) pekerja migran dari Cianjur mengaku juga senang bisa kembali ke tanah air.

"Saya senang bisa kembali ke tanah air dengan cepat dan tanpa biaya. Semua hak-hak kami pun sudah dilunasi. Tak ada masalah," ujar wanita yang telah tujuh tahun berpisah dengan keluarganya.

Harus Dimanfaatkan
Sementara itu,  Duta Besar RI untuk Yordania Andy Rachmianto mengatakan, program Amnesti ini harus dimanfaatkan sebenar-benarnya, karena program ini tidak selalu ada setiap tahunnya. "Kami menargetkan setidaknya 50% dari WNI yang berstatus ilegal dapat dibantu kepulangannya," katanya.

Menurut Andy,  kebijakan Amnesti ini diberlakukan selama enam bulan terhitung sejak 12 Desember 2018 dan akan berakhir  pada 12 Juni 2019.  
"Dalam rangka optimalisasi pemanfaatan program ini, KBRI Amman telah melakukan berbagai sosialisasi baik dengan pertemuan langsung, telepon, maupun melalui media sosial," ujar alumnus Hubungan Internasional Unpad ini.

Atase Ketenagakerjaan KBRI di Amman, Suseno Hadi menambahkan, hampir seluruh WNI yang memanfaatkan program Amnesti ini adalah para pahlawan penyumbang devisa, yang seluruhnya perempuan dan telah menetap di Yordania selama belasan tahun.

Dia berharap mereka dapat memanfaatkan program Amnesti ini untuk dapat kembali ke Indonesia. Bagi mereka yang tidak memanfaatkan program ini, denda izin tinggalnya akan dihitung sejak masa izin tinggal resminya habis, dengan perhitungan 1.5 Jordan Dinnar (sekitar Rp 29.500) perhari.

Disebutkan, setelah diumumkannya program Amnesti ini jumlah pekerja migran bermasalah yang mendaftarkan diri ke KBRI terus bertambah setiap harinya. Adanya kebijakan ini diharapkan dapat menjaring seluruh WNI yang bermasalah terhadap pelanggaran izin tinggalnya di Yordania.

 “KBRI telah berkoordinasi dengan pihak imigrasi dan beberapa institusi pemerintah terkait agar bisa membantu kepulangan mereka ke tanah air," kata Suseno.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR