Belum Genap Tiga Bulan, Komnas Perempuan Sudah Terima 319 Laporan Kekerasan Seksual di Tahun 2019

Nasional

Kamis, 14 Maret 2019 | 09:03 WIB

190314091123-belum.JPG

komnasperempuan.go.id

KOMNAS Perempuan telah menerima 319 laporan kekerasan seksual di DKI Jakarta selama tahun 2019.

Komisioner Komnas Perempuan Magdalena Sitorus di Jakarta, Selasa, menjelaskan bahwa angka tersebut merupakan bagian dari total 2.318 laporan yang masuk dari awal 2018 sampai Maret 2019.

Total ada 13.568 laporan kekerasan seksual yang masuk dari 34 provinsi di seluruh Indonesia. Laporan ini tercantum dalam catatan tahunan Komnas Perempuan 2019.

Baca Juga: Dua Pemuda di Tasikmalaya Sekap dan Perkosa ABG

Saat ini, DKI Jakarta menempati peringkat 2 dari 34 provinsi. Posisi pertama diduduki Jawa Tengah.

Menurut laporan yang diterima Komnas Perempuan, kekerasan seksual paling tinggi berada pada ranah privat atau personal.

Bentuk kekerasan seksual di ranah personal atau kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) paling tinggi adalah hubungan sedarah, perkosaan dan pencabulan.

Baca Juga: Ini Awal Mula Aksi Ayah Tega Hamili Anaknya

Pencabulan di ruang publik sering juga terjadi di Jakarta. Menurut Magdalena, hal ini disebabkan kurangnya keberpihakan aparat penegak hukum sehingga masyarakat menganggap remeh kasus pelecehan seksual tersebut.

Magdalena mengungkapkan kejadian seperti ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Harusnya masyarakat bisa dibuat sadar dan lebih peka terhadap persoalan menyangkut tubuh seseorang.

Baca Juga: Ayah Ini Tega Hamili Anak Kandungnya

“Apapun pelaporan kekerasan seksual itu bentuknya, mestinya aparat penegak hukum tidak menganggap sepele. Jangan dianggap sosok pelapor itu seperti orang kurang kerjaan,” kata Magdalena.

Iapun meminta aparat penegak hukum di DKI Jakarta lebih proaktif dalam mengungkap kekerasan seksual.

Magdalena menuturkan, seringkali laporan pelecehan tidak direspon dan tidak didengar karena tidak kelihatan buktinya sehingga dianggap kurang meyakinkan.

“Mestinya jika ada pengaduan tentang pelecehan, aparat penegak hukum harus mendengar pengaduan tersebut,” katanya.

Lihat Juga: [Video] Polrestabes Bandung Tangkap Orang Tua Hamili Anak Kandungnya

Dengan demikian diharapkan masyarakat bisa bereaksi mencegah ketika peristiwa serupa terjadi dan berani menegur tindakan-tindakan seperti itu.

“Tidak harus korban yang menegur karena kadang korban juga takut dan malu ketika peristiwa itu menimpa dirinya,” kata Magdalena.

Salah satu kasus kekerasan seksual yang mencuat adalah soal pelecehan di kereta rangkaian listrik (KRL) Senin (11/3) pagi. Kasus pelecehan seksual tersebut dilakukan seorang pemuda kepada seorang wanita dalam kondisi gerbong kereta yang penuh sejak berangkat dari stasiun Rangkasbitung.

Pelaku memepet seorang penumpang wanita sambil melakukan tindak pelecehan seksual. Merasa terlecehkan, pada akhirnya penumpang wanita tersebut menonjok pelaku yang telah berbuat tak sopan padanya.

Pengalaman mengerikan itu diunggah oleh Alexandra Marsha melalui akun Instagram miliknya.

Pada Selasa pukul 16.00 WIB, PT Kereta Commuter Indonesia (PT KCI) menggelar jumpa pers untuk menjelaskan perihal kekerasan seksual tersebut sekaligus memaparkan mekanisme KCI atas laporan pelecehan seksual.

Magdalena mengungkapkan dengan adanya jumpa pers tersebut, Komnas Perempuan sangat berharap transportasi publik seperti KRL bisa lebih nyaman digunakan sewaktu bepergian.

“Sebab masyarakat juga tak punya pilihan kan? Pengennya tidak naik KRL tapi mungkin adanya cuma itu. Jadi seharusnya PT KCI harus ikut berbenah,” katanya.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR