Mantan Presiden BJ Habibie Terima "Parasamya Anugraha Widyatama Makayasa"

Nasional

Senin, 11 Maret 2019 | 20:09 WIB

190311201021-manta.jpg

Tok Suwarto

UNIVERSITAS Sebelas Maret (UNS) Award 2019 menganugerahkan penghargaan tertinggi "Parasamya Anugraha Widyatama Makayasa" kepada mantan Presiden Republik Indonesia, BJ Habibie. Penghargaan yang diserahkan di depan rapat senat terbuka peringatan Dies Natalis UNS ke-43 di Auditorium GPH Haryo Mataram tersebut, berdasarkan pertimbangan atas jasanya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Namun dalam penyerahan penghargaan di depan Sidang Senat Terbuka peringatan Dies Natalis UNS ke-43 di Auditorium GPH Haryo Mataram, Senin (11/3/2019), Prof. Dr. BJ Habibie tidak hadir karena sedang sakit di Jerman. Penghargaan tersebut diserahkan Rektor UNS Prof. Dr. Ravik Karsidi, kepada putera mantan Presiden RI, Ilham Akbar Habibie.  

Dalam sambutan yang ditulis BJ Habibie dan dibacakan Ilham di hadapan civitas akademika UNS, mantan Presiden RI itu mengingatkan, pentingnya kemandirian untuk menjaga kedaulatan negara RI. Seluruh generasi penerus bangsa Indonesia khususnya para akademisi di universitas dia minta harus menyadari, bahwa setiap bangsa hanya dapat menjaga kedaulatan negerinya jika dapat mandiri menghasilkan karya nyata sesuai kebutuhannya dan kebutuhan dunia.

"Sumber daya alam Indonesia yang terbatas harus dikelola untuk masa depan bangsa yang mengandalkan keunggulan sumber daya manusia. Sistem pembudayaan, pendidikan, dan ilmu pengetahuan harus mendapat perhatian dan prioritas utama, untuk meningkatkan produktivitas, daya saing, dan efektifitas dalam berkarya dan bekerja, untuk menghasilkan produk unggul, nilai tambah pemikiran, perangkat lunak dan perangkat keras ," katanya.

Di sisi lain, BJ Habibie dalam pidatonya menyatakan, Pancasila sangat diperlukan untuk memperkuat paham kebangsaan Indonesia yang majemuk. Pancasila akan memberikan jawaban atas pertanyaan, akan dibawa ke mana biduk peradaban bangsa ini berlayar di tengah lautan zaman yang penuh tantangan dan ketidakpastian.

"Pancasila perlu diaktualisasikan dalam tataran praktik yang lebih membumi, sehingga mudah diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan, khususnya pembangunan yang berdasarkan ekonomi pasar. Pengembangan dan penyempurnaan ekonomi pasar Pancasila sepanjang masa harus terus kita laksanakan untuk membangun peradaban Indonesia," tandasnya.
Rektor UNS, prof. Ravik Karsidi mengungkapkan, prof. Dr. BJ Habibie dipandang pantas untuk memperoleh penghargaan tertinggi dalam "UNS Award 2019" tersebut atas jasa besarnya sebagai pelopor yang luar biasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Penganugerahan ini sebagai tanda jasa dan penghargaan tertinggi atas kepeloporan dalam pengembangan bidang teknologi. Kami doakan semoga beliau yang saat ini sedang menjalani pengobatan di Jerman segera sehat kembali," tuturnya.

Selain memberikan penghargaan tertinggi kepada tokoh nasional tersebut, dalam Dies Natalis UNS ke-43, puluhan alumni berprestasi yang kini menduduki jabatan penting di berbagai bidang juga mendapat penghargaan khusus. Dalam rangkaian Dies Natalis teraebut, Ketua Dewan Riset Nasional, Dr. Bambang Setiadi, menyampaikan orasi ilmiah bertajuk "Pengembangan Sumber Daya Manusia Berbasis Inovasi Menuju Otonomi Perguruan Tinggi".

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR