181006133818-ratna.jpeg

detik.com

Ratna Sarumpaet Dilabeli "Ibu Hoaks Indonesia"

Nasional

Sabtu, 6 Oktober 2018 | 13:37 WIB

Wartawan: Dadang Setiawan

LEMBAGA Pemilih Indonesia (LPI) melabeli Ratna Sarumpaet sebagai 'Ibu Hoaks Indonesia' sebagai buntut dari kabar bohong soal drama penganiayaan di Bandung.

"Ada baiknya kita memberikan memberikan apresiasi yang setinggu-tingginya kepada ibu Ratna Sarumpaet dengan menganugerahkan sebuah penghargaan sebagai Ibu Hoaks Indonesia untuk mengenang 'jasa baiknya' dalam membuka kotak pandora kebohongan yang menjadi arus baru politik di Tanah Air," kata Peneliti LPI Ilham Sani, Sabtu (6/9/2018).

Hal itu disampaikan beramai-ramai dengan narasumber di diskusi Politik Kebohongan dan Demokrasi Elektoral di Gado-gado Boplo, Kuningan, Jaksel. Pengamat Politik Boni Hargens yang hadir sebagai pembicara juga ikut membacakan pemberian gelar itu.

Menurut Ilham seperti dilansirkan detik.com, alasannya memberi gelar itu kepada Ratna lantaran sudah menjadi hal yang biasa berita bohong disebar oleh kubu oposisi pemerintah. Ilham berharap kejadian ini menjadi kasus terakhir yang bisa merusak demokrasi.

"Ibu Ratna Sarumpaet kita jadikan contoh sekaligus pelajaran karena sudah terlalu biasa sebagian kalangan politik di kubu oposisi itu menggunakan kampanye hitam, bukan sekadar cari kesalahan tapi mengadakan sesuatu yang nggak ada. Di berbagai media ibu Ratna muncul sebagai sosok yang humanis pro demokrasi dan yang salah satu yang paling melekat tokoh 2019 Ganti Presiden, dampaknya yang riil saja dengan informasi sesaat yang bisa meyakinkan capres dan elitenya untuk menggelar konferensi pers," kata Ilham.

Dalam pelabelan Ibu Hoax Indonesia juga dilakukan pemberian 'penghargaan' secara simbolik. LPI memberikan piagam bertuliskan 'HOAX' kepada seorang ibu yang memakai topeng yang bergambar Ratna.

Selain melabeli Ratna sebagai Ibu Hoax, LPI juga membacakan surat usulan 3 Oktober dijadikan sebagai Hari Hoax Nasional. Usulan itu dibuat agar generasi ke depan mengetahui ada drama kebohongan yang mengancam peradaban.

"Kita pertimbangkan 3 Oktober sebagai Hari Hoax Nasional untuk mengingatkan generasi selanjutnya bahwa pada satu titik sejarah telah terjadi drama kebohongan terbesar yang mengancam peradaban," ujar Boni yang ikut membacakan usulan tersebut.

"Maka peringatan ini penting sebagai alarm untuk menyadarkan generasi selanjutnya bahwa hoax adalah musuh demokrasi dan musuh peradaban manusia," katanya.


Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR