180811141029-potre.jpg

Tok Suwarto

Potret Keseharian Bocah-bocah Diangkat Jadi Film "3 Warna 1 Cita"

Nasional

Sabtu, 11 Agustus 2018 | 14:10 WIB

Wartawan: Tok Suwarto

POTRET realitas kehidupan di kalangan bocah-bocah dalam keseharian, akan diangkat ke layar lebar. Sekelompok anak-anak muda Kota Solo yang tergabung dalam komunitas film "Kembang Gula" menggandeng Sekolah Kristen Kalam Kudus (SKKK) Surakarta, untuk memproduksi film fiksi dengan judul "3 Warna 1 Cita".

Pemeran film dengan genre drama remaja berdurasi 90 menit tersebut, terdiri dari para siswa SKKK dari SD, SMP sampai SMA, ditambah sejumlah alumni SKKK dan para guru yang sama sekali belum pernah tampil di depan kamera. Pembuatan film ini, merupakan kelanjutan dari kegiatan pementasan teater berjudul "Namaku Indonesia" pada 2013 di Teater Besar ISI Surakarta, dengan sutradara Sosiawan Leak.

Sutradara muda yang akan menggarap film "3 Warna 1 Cita", Steve Pillar Setiabudi, menjelaskan kepada wartawan, Sabtu (11/8/2018), proyek pembuatan film tersebut untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda yang pada 28 Oktober 2018 genap 90 tahun. Di dalam film yang berkisah tentang persahabatan tiga anak berbeda-beda latar belakang tersebut, banyak berbicara tentang simbol-simbol solidaritas dan kesetiakawanan, toleransi, tentang perbedaan, simbol-simbol nasionalisme, simbol-simbol empati dan lain-lain.  

"Setelah menonton film ini nanti, biar anak-anak membangun kesadaran tentang perbedaan, tentang kesetiakawanan, tentang nasionalisme, tentang konflik dan lain-lain, tanpa menggunakan ungkapan bahasa klise. Konflik orang tua yang berdampak terhadap anak-anak, kami angkat ke layar seluloid dengan penggambaran sederhana yang alami natural," ujarnya.

Produser film "3 Warna 1 Cita", Fanny Chotimah, memaparkan proses produksi film yang akan melibatkan jaringan Yayasan Kalam Kudus di Pekan Baru, Pontianak dan Timika Papua tersebut, dimulai dengan pengambilan gambar di beberapa lokasi Kota Solo pada Agustus 2018 ini. Kemudian, pada 29 Agustus sampai 1 September 2018 pengambilan gambar dilanjukan di Pekan Baru, pada tanggal 1-4 September 2018 di Pontianak dan 5-9 September 2018 di Timika Papua.

"Beberapa lokasi di Kota Solo yang digunakan, antara lain Kampung Sewu di tepi Bengawan Solo, Taman Balekambang, Museum Radya Pustaka, koridor Ngarsopuro dan Bandara Adi Surnamo. Kami bekerjasama dengan Yayasan Kalam Kudus Indonesia, karena mengelola sekolah dengan jaringan luas di Indonesia, yakni 53 lokasi di 28 kota, mulai dari Medan Sumatera Utara sampai Merauke Papua," tutur Direktur Yayasan Kembang Gula kelahiran Bandung, 18 November 1983 itu.

Film "3 Warna 1 Cita" yang disebut Sutradara Steve Pilar Setiabudi, sebagai film drama remaja banyak menampilkan adegan tari dan nyanyi. Kisahnya berawal dari persahabatan tiga anak remaja yang merasa bosan dengan rutinitas kesehariannya. Mereka tertantang untuk menciptakan karya di luar rutinitasnya, namun anak-anak itu menghadapi persoalan di rumah masing-masing yang kemudian menjadi penghalang dalam menggapai impian mereka.

Tokoh dalam film "3 Warna 1 Cita" adalah Rita, Gabriela dan Bambang yang bersahabat sejak mereka masih kecil. Mereka bertiga memiliki kedekatan karena bersekolah di sekolah yang sama sejak TK sampai SMA dan memilik kegemaran yang sama, yakni baca buku dan nonton film.  
Setelah ketiga anak itu menginjak remaja, mereka mulai dilanda rasa bosan oleh kesibukan kesehariannya yang dianggap datar.

Tantangan baru muncul saat mereka bertiga mendapat tugas sekolah untuk membuat karya untuk peringatan Hari Sumpah Pemuda dengan tema "Cinta Tanah Air". Dari sinilah munculnya konflik yang klimaknya menjadikan persahabatan dan proses kedewasaan mereka tertempa.

Produksi film "3 Warna 1 Cita" bagi Fanny Chotimah maupun sutradara Steve Pillar Setiabudi bukan merupakan yang pertama, karena sebelumnya mereka telah membuat sejumlah film dokumenter di bawah bendera Rumah Produksi "Espees Pictures". Di antara film produksinya, film dokumenter berjudul "Bukit Bernyawa" atau "The Hill are Alive" meraih penghargaan sebagai film dokumenter pendek dalam Chopsot Film Festival 2012 dan pada 2016 film "Tarung" masuk dalam nominasi Piala Citra FFI kategori film dokumenter pendek.

Editor: H. Dicky Aditya

Bagikan melalui:



BERITA LAINNYA

KOMENTAR