180609212319-menristek-dikti-angkatan-kerja-tak-berdaya-bisa-jadi-malapetaka.jpg

Tok Suwarto

Menristek Dikti: Angkatan Kerja Tak Berdaya Bisa Jadi Malapetaka

Nasional

Sabtu, 9 Juni 2018 | 21:23 WIB

Wartawan: Tok Suwarto

MENTERI Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti), M Nasir, mengingatkan, angkatan kerja di Indonesia yang pada 2045 mendatang mencapai 57,5 persen total penduduk, kalau tidak diberdayakan dengan baik akan bisa menjadi malapetaka. Dalam upaya pemberdayaan itu, Kemenristek Dikti mendirikan akademi komunitas negeri (Aknema) program diploma dua (PDD) di beberapa daerah, termasuk di Caruban, Kab. Madiun, Jawa Timur.

"Pendirian akademi komunitas ini sejalan dengan arahan dari Bapak Presiden Joko Widodo yang mendukung pendidikan vokasi, sebagai cara untuk menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang terampil. Sebab, apabila (SDM) tidak diberdayakan dengan baik bisa menjadi malapetaka,” ujar Menristek Dikti, ketika  meresmikan gedung baru Aknema-PDD Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jumat (8/6/2018).

M Nasir yang didampingi Rektor UNS, Ravik Karsidi dan Bupati Madiun, Muhtarom, mengungkapkan, akademi komunitas di beberapa daerah berhasil menciptakan lulusan yang mandiri dan mampu menggerakkan perekonomian daerah. Dia mencontohkan, lulusan akademi komunitas di Jepara yang kini berubah menjadi politeknik bisa membuka usaha sendiri dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.

"Di era revolusi industri 4.0 ini, paling tidak ada empat hal yang harus dikuasai agar mampu bersaing, yaitu literasi bahasa Inggris, literasi terhadap data, literasi teknologi, dan perilaku manusia. Sekolah vokasi diharapkan mampu menyediakan SDM yang siap bersaing di era revolusi industri 4.0," tandasnya.

Rektor UNS, Prof. Ravik Karsidi menjelaskan, UNS merupakan institusi pembina yang sejak 2013 sampai 2018 memberikan pendampingan. Berdasarkan hasil evaluasi selama lima tahun, kata Ravik, Aknema menunjukkan perkembangan positif, terutama indeks mahasiswa yang berkembang baik. Proses penerimaan mahasiswa melalui seleksi sesuai ketentuan, proses pembelajaran dilakukan dengan subsidi dari tiga prodi di UNS dan ijazah diploma tertulis dengan nama UNS.

“UNS menyimpulkan telah terjadi kemajuan sangat signifikan dan merekomendasikan telah cukup baik. Selanjutnya diharapkan Aknema dikelola sendiri sebagai institusi di bawah Kemenristek Dikti. Meskipun demikian, kerja sama antara Kementerian Ristek Dikti,” ujar Prof. Ravik.

Bupati Madiun, Muhtarom menjelaskan, Aknema merupakan embrio perguruan tinggi negeri di Madiun yang tahun 2018 ini menerima pendaftar 300 calon mahasiswa dengan daya tampung sekitar 230 mahasiswa untuk tiga program studi. Calon mahasiswa  Aknema akan diseleksi dan setelah lulus diharapkan menciptakan lapangan kerja untuk memutus mata rantai kemiskinan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

"Lewat pendidikan, masyarakat bisa mencari solusi jika ada masalah,” ujar Muhtarom.


Editor: H. Dicky Aditya



Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR