Divonis 5 Tahun Penjara, Eks Bupati Cirebon Menangis

Meja Hijau

Rabu, 22 Mei 2019 | 12:15 WIB

190522121630-divon.jpg

Lucky M. Lukman

MANTAN bupati Cirebon, Sunjaya Purwadisastra harus menjalani hukuman selama 5 tahun penjara sesuai vonis Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Bandung. Sunjaya terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi yaitu menerima suap terkait promosi jabatan dari aparatur sipil negara (ASN).

Hal tersebut terungkap pada persidangan dengan agenda putusan, di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan L.L.R.E Martadinata, Rabu (22/5/2019). Selain hukuman badan, Sunjaya juga diharuskan membayar denda sebesar Rp200 juta subsidair 6 bulan kurungan.

"Mengadili, menyatakan terdakwa Sunjaya Purwadisastra terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah bersama-sama melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana pasal 12 huruf b UU tipikor. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa berupa pidana penjara selama 5 tahun, denda Rp 200 juta subsidair 6 bulan kurungan," tutur Ketua Majelis Hakim, Fuad Muhammadi membacakan amar putusannya.

Tak cuma itu, Majelis Hakim juga menjatuhkan pidana tambahan kepada Sunjaya, yaitu pencabutan hak politik. Artinya, Sunjaya tak memiliki hak untuk dipilih dalam jabatan selama lima tahun setelah selesai menjalani pidana pokok.

Atas vonis tersebut, Sunjaya yang berpangkat Letkol TNI AD ini langsung menangis. Bahkan, saat ditanya majelis soal tanggapannya atas putusan, Sunjaya mengaku menerima dan tidak akan berkoordinasi dengan kuasa hukumnya.

"Saya menerima yang mulia," katanya sambil menangis dan gelengkan kepala.

Vonis yang diterima Sunjaya ini lebih ringan dibandingkan tuntutan Penuntut Umum (PU) KPK. Sebelumnya, PU KPK menuntut agar terdakwa Sunjaya dijatuhi hukuman 7 tahun penjara, denda 400 juta subsidair 6 bulan kurungan.

Sebelum membacakan amar putusannya, Majelis Hakim terlebih dahulu menyampaikan hal-hal yang menjadi pertimbangan. Untuk hal memberatkan, perbuatan terdakwa dinilai tidak mendukung upaya pemerintah dalam pemberantasan korupsi, merusak sistem pembinaan pegawai dengan melakukan KKN dalam rekrutmen dan mutasi, serta sebagai bupati tidak memberikan teladan yang baik. Sementara untuk hal yang meringankan, terdakwa mengakui perbuatan, bersikap kooperatif, belum pernah dihukum dan sopan selama persidangan.

Dalam paparannya, Majelis Hakim menyatakan terdakwa Sunjaya Purwadisastra selaku Bupati Cirebon bersama-sama sengan Deni Syafrudin (ajudan) di bulan Oktober 2018 di Kantor Dinas PUPR Kabupaten Cirebon, telah melakukan atau turut serta melakukan perbuatan yakni menerima hadiah berupa uang sejumlah Rp 100 juta dari Sekdis PUPR Gatot Rachmanto.

Menurut hakim, terdakwa dan Deni Syafrudin mengetahui atau patut menduga bahwa pemberian uang tersebut karena terdakwa telah mengangkat dan melantik Gatot Rachmanto sebagai Sekdis PUPR Kabupaten Cirebon. Padahal semua itu bertentangan dengan kewajibannya sebagai bupati Cirebon.

Lebih lanjut Majelis Hakim menuturkan, terdakwa dalam proses promosi jabatan di Pemkab Cirebon telah melakukan sesuatu da|am jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR