Jadi Mucikari Prostitusi Online, Dua Perempuan Terancam Dipenjara

Meja Hijau

Selasa, 23 April 2019 | 14:37 WIB

190423143854-jadi-.jpg

liputan6.com

Ilustrasi.

DUA orang mucikari, Iis Astuti alias Emak dan Nita Agustina alias Nisa, terancam hukuman 1,4 tahun penjara. Keduanya didakwa menjadi penyedia pekerja seks komersil (PSK) secara online di Kota Bandung.

Hal tersebut terungkap dalam sidang kasus dugaan prostitusi online di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jln. L.L.R.E Martadinata, Selasa (23/4/2019). Sidang yang dipimpin oleh Sri Mumpuni itu berlangsung tertutup.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Bandung, Melur Kimaharandika dalam surat dakwaannya menyebutkan, terdakwa Iis Astuti alias Emak dan Nita Agustina alias Nisa (berkas terpisah) pada 6 Januari 2019 sekitar pukul 00.15 WIB, di Hotel Elcavana kamar nomor 409 dan nomor 411, Kota Bandung, terbukti menyediakan perempuan untuk berhuhungan dengan pria hidung belang sebagaimana diatur pasal 296 KUHPidana.

"Terdakwa orang yang melakukan, yang menyuruh melakukan dan yang turut serta melakukan, dengan sengaja menghubungkan atau memudahkan perbuatan cabul oleh orang lain dengan orang lain, dan menjadikannya sebagai pencarian atau kebiasaan," tutur JPU.

Diungkapkan JPU, perkara itu bermula saat Polrestabes Bandung menerima informasi adanya praktik prostitusi di Hotel Elcavana. Berbekal informasi, petugas kemudian menyelidiki dan melakukan penggerebekan di kamar nomor 409 dan nomor 411.

"Saat digerebek, di kamar 409 didapati sepasang lelaki dan perempuan, yakni Edi S dan Putri alias Pute tengah telanjang dan hanya menggunakan handuk siap melakukan persetubuhan," urai JPU.

Sedangkan didalam kamar nomor 411 didapati seorang perempuan, yakni Sri Rahayu alias Cici sedang menunggu tamu atau teman kencannya. Kemudian oleh petugas ketiganya dibawa ke Mapolrestabes Bandung untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

Kepada penyidik, saksi Edi mengaku awalnya memesan (wanita penghibur) lewat akun We Chat atas nama @ansanow. Pemesanan lalu dilanjutkan melalui pesan WhatsApp kepada Nita Agustina yang mengaku sebagai pemilik akun We Chat @Nissaflow.

"Kemudian saksi Edi mengirim pesan via WhatsApp kepada Nita alias Nisa dan mengatakan membutuhkan wanita untuk diajak kencan atau disetubuhi," papar JPU.

Terdakwa Nita alias Nisa selanjutnya menawarkan wanita-wanita yang siap dibooking. Ia memperlihatkan foto-foto wanita dengan tarif sebesar Rp 1,5 juta hingga  Rp 2,5 juta untuk sekali main. Saksi Edi pun kemudian memesan dua wanita yang akan diajak kencan kepada Nita dan mentransfer Rp 500 ribu ke rekening terdakwa.  Sisa uang diberikan ke Pute dan Cici setelah kencan selesai.

Selanjutnya Nita menelpon dan mengirim pesan WhatsApp kepada terdakwa Iis alias Emak agar  menyiapkan dua orang perempuan untuk melayani tamu dengan bayaran yang sudah disepakati.

"Namun setelah dua perempuan tiba di hotel, mereka belum sempat melakukan hubungan badan lantaran keburu digerebek petugas," kata JPU.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, selanjutnya dilakukan penangkapan terhadap terdakwa Iis dan Nita. JPU menyatakan, terdakwa dalam menjajakan atau menawarkan perempuan-perempuan tersebut dengan tarif sebesar Rp 1,5 juta hingga RP 2,5 juta dan para terdakwa menerima bagian 15 persen.

Perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana dalam Pasal 296 KUHPidana Juncto Pasal 55 ayat (1) ke1 KUHPidana dan pasal 506 KUHPidana Juncto Pasal 55 ayat (1) ke1 KUHPidana.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR