Hakim Tolak Eksepsi Habib Bahar, Sidang Berlanjut ke Pemeriksaan Saksi

Meja Hijau

Kamis, 21 Maret 2019 | 13:34 WIB

190321133445-hakim.jpg

Lucky M. Lukman

MAJELIS Hakim Pengadilan Negeri (PN) Bandung menolak eksepsi dari terdakwa Bahar bin Smith alias Habib Bahar. Dengan ditolaknya eksepsi, Majelis Hakim menyatakan akan melanjutkan persidangan dan  memerintahkan kepada jaksa untuk menghadirkan saksi-saksi dalam kasus dugaan penganiayaan terhadap anak di bawah umur ini.

Sidang putusan sela yang dipimpin Majelis Hakim Edison Muhamad itu berlangsung di Gedung Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bandung, Jalan Seram, Kamis (21/3/2019). Dalam keputusannya, Edison menyebutkan, eksepsi yang diajukan terdakwa Bahar bin Smith tidak bisa diterima.

"Menimbang bahwa eksepsi terdakwa tidak bisa diterima. Dengan begitu maka majelis hakim menolak eksepsi dan memerintahkan jaksa penuntut umum (JPU) untuk melanjutkan persidangan," kata Edison membacakan amar putusan sela.

Majelis hakim kemudian memerintahkan JPU untuk mulai menyiapkan pokok perkara dan memasuki pemeriksaan saksi-saksi.

Sementara itu, Habin Bahar yang langsung meninggalkan ruang sidang cuma berkomentar singkat atas ditolaknya eksepsi yang diajukan. "Apapun yang diputuskan hakim saya terima," katanya.

Sidang perkara tersebut akan dilanjutkan pada pekan depan, dengan agenda pemeriksaan saksi. Dalam agenda selanjutnya, direncanakan dua orang saksi korban akan dihadirkan.

Seperti diketahui, dalam perkara ini Bahar bin Smith didakwa melakikan lenganiayaan terhadap anak di bawah umur, CAJ (18) dan MHU (17). Tindakan Bahar dilakukan bersama-sama dengan Agil Yahya alias Habib Agil dan M Abdul Basith Iskandar (dakwaan terpisah) serta Habib Husein, Wiro, Ginda Tato dan Keling (belum tertangkap).

Penganiayaan terjadi pada Sabtu tanggal 1 Desember 2018 sekitar pukul 11.00 WIB, di Pondok Pesantren Tajul Alawiyyin di Kampung Kemang, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. Tindakan penganiayaan dilakukan karena korban dianggap menipu dan mengaku-aku sebagai Habib Bahar dan mengisi acara di Bali.

Atas perbuatannya, Bahar didakwa melanggar dakwaan kesatu primer, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 333 ayat (2) KUH Pidana Jo Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUH Pidana. Ia juga didakwa dengan dakwaan subsidair, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 333 ayat (1) KUH Pidana Jo Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUH Pidana.

Bahar juga didakwa dakwaan kedua primair,sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 170 ayat (2) ke- 2 KUHPidana. Perbuatan terdakwa Bahar juga didakwa dakwaan subsidair, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 170 ayat (2) ke-1 KUHPidana.

Kemudian, JPU juga mendakwa Bahar dengan dakwaan lebih subsidair, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 351 ayat (2) KUHPidana Jo Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUHPidana dan lebih subsidsir lagi sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 351 ayat (1) KUHPidana Jo Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUHPidana. Yang terakhir, Bahar didakwa dakwaan ketiga sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 80 ayat (2) Jo Pasal 76 C Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR