Dituntut Maksimal karena Suap Kalapas Sukamiskin, Suami Inneke Merasa Dibohongi

Meja Hijau

Rabu, 20 Februari 2019 | 13:54 WIB

190220135623-ditun.jpg

dok

Ilustrasi

TERDAKWA Fahmi Darmawansyah dituntut hukuman 5 tahun penjara oleh penuntut umum KPK dalam kasus suap terhadap eks Kepala Lapas Klas I Sukamiskin Bandung, Wahid Husein. Tuntutan hukuman itu merupakan tuntutan maksimal untuk terdakwa penyuap.

Atas tuntutan dari penuntut umum KPK, suami artis Inneke Koesherawati itu mengaku merasa dibohongi. Hal itu terungkap dalam sidang di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan L.L.R.E Martadinata, Kota Bandung, Rabu (20/2/2019).

Seperti diberitakan sebelumnya, Fahmi dituntut hukuman penjara 5 tahun, denda Rp 200 juta, subsider enam bulan kurungan. Terpidana kasus korupsi proyek Bakamla ini dianggap terbukti bersalah menyuap Wahid sesuai dakwaan primair Pasal 5 ayat  (1) huruf b Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tipikor Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Menurut penuntut umum KPK, Fahmi menyuap Wahid Husein untuk mendapatkan sejumlah fasilitas dan kemudahan keluar masuk lapas. Fahmi yang ditempatkan di kamar tahanan nomor 11 blok Timur, mendapat fasilitas jaringan TV kabel, AC, Lemari es kecil, tempat tidur spring bed, furniture dan dekorasi interior Hight Pressure Laminated (HPL)

Fahmi terbukti telah memberikan satu unit mobil double cabin Mitsubishi Truton, sepasang sepatu boot, sepasang sendal merek Kenzo, tas merek Louis Vuitton dan uang Rp 39,5 juta kepada Wahid Husein.

"Ini kan tuntutan maksimal. Saya ini bukan siapa-siapa, tapi dituntut maksimal," keluh Fahmi.

Fahmi menambahkan, posisi dirinya bukan sebagai penyelenggara negara. Dalam kasus ini, semua uang yang dipakai bulan uang negara melainkan uang pribadi.

"Kita tahu lah, kalau dibandingkan dengan penyelenggara negara. Ini uang, uang pribadi saya. Saya juga bukan penyelenggara negara kan," tuturnya.

Soal merasa dibohongi KPK, Fahmi punya pendapat. Menurutnya, selama ini ia selalu berusaha bersikap kooperatif bahkan mengakui perbuatannya dalam setiap persidangan. Akan tetapi, pada kenyataannya sikap kooperatifnya itu tetap membuat penuntut umum KPK memberikan tuntutan maksimal.

"Jadi percuma sama KPK, kooperatif tidak kooperatif akhirnya tidak ada kepercayaan sama orang lain. Saya sudah kooperatif, semua orang lain juga kooperatif. Tapi dijebak saja sama KPK, jadi sudah ada distrust. Percuma kooperatifnya kalau KPK caranya begini, sewenang-wenang," tegas Fahmi.

Dengan tuntutan itu, Fahmi pun kembali menyinggung soal perasaannya.

"Saya juga sama sekali nggak percaya, ini terlalu dzolim menurut saya. Tapi kita punya Tuhan, itu pertanggung jawaban mereka. Kita lihat saja," tandasnya seraya menyebut semua keberatan akan ia sampaikan dalam pledoi yang akan disampaikan pada persidangan 6 Maret 2019 mendatang.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR