Antar Napi Keluar Lapas, Petugas Akui Diberi Imbalan

Meja Hijau

Rabu, 16 Januari 2019 | 15:13 WIB

190116160858-antar.jpg

Darma Legi

Lima orang saksi dari internal lapas yakni, Ade Agus, Sukma Setiabudi, Ahmad Hidayat, Zaenal Arifin dan Zulhakim, menjawab pertanyaan Majelis Hakim pada sidang lanjutan kasus suap pemberian fasilitas di Lapas Sukamiskin di Pengadilan Tipikor Bandung, Jln. L.L.R.E Martadinata, Kota Bandung, Rabu (16/1/2019).

PERKARA suap terkait pemberian fasilitas di Lapas Sukamiskin kembali digelar di Pengadilan Tipikor Bandung, Jln. L.L.R.E Martadinata, Kota Bandung, Rabu (16/1/2019). Penuntut Umum KPK menghadirkan lima orang saksi dari internal lapas, yang bersaksi untuk terdakwa eks Kepala Lapas Sukamiskin Wahid Husein dan sopir pribadinya Hendri Saputra.

Para saksi tersebut yaitu Ade Agus, Sukma Setiabudi, Ahmad Hidayat, Zaenal Arifin dan Zulhakim. Pemeriksaan saksi seputar tugas mereka dalam melayani napi lapas, termasuk soal proses pengawalan napi saat berobat ke rumah sakit.

Salah seorang saksi yang bertugas sebagai staf perawatan di lapas, Sukma Setiabudi mengaku pernah mengantar sejumlah napi keluar lapas untuk keperluan berobat ke rumah sakit. Salah satu napi yang dikawal yaitu Fuad Amin, mantan Bupati Bangkalan yang tersandung kasus korupsi.

"Saya pernah mengantar pa Fuad Amin di bulan April (2018) ke rumah sakit Dustira Cimahi. Tapi setelah mengantar saya langsung pulang. Pada waktu itu beliau langsung dirawat. Kalau untuk penjemputan tidak sama saya tapi sama Fiki. Saya juga tidak tahu kapan pulangnya," jelas Sukma dihadapan majelis hakim yang dipimpin Dariyanto.

Saat ditanya hakim apakah diberi imbalan saat mengantar Fuad Amin, Sukma mengiyakan. "Dikasih uang," ujarnya.

Meski begitu, Sukma tidak menyebut nominal uang yang diterimanya. Selain Fuad Amin, Sukma juga mengaku pernah mengantarkan napi lainnya keluar lapas, dengan alasan sakit. Di antaranya Yudi Kartolo dan O.C Kaligis.

"Masih ada yang lainnya, tapi saya lupa. Yang jelas daftarnya sudah saya serahkan ke KPK," tambah Sukma.

Saksi lainnya, Zulhakim, menyatakan hal yang sama. Ia mengaku pernah mengantar sejumlah napi tipikor, salah satunya Fuad Amin. Untuk Fuad Amin, ia pernah ditugaskan mengantarnya ke rumah sakit di Bekasi.

"Tapi sebelum ke Bekasi, saat sampai di Jalan Pasteur, pak Fuad Amin sudah kambuh sakitnya. Karena takut terjadi apa-apa, saya ngambil inisiatif dan membawanya ke rumah sakit Borromeus. Setelah itu saya melapor ke bagian perawatan," ungkap Zulhakim.

Seingatnya, di rumah sakit itu Fuad Amin dirawat sekitar tiga hari. Namun ia tidak lagi diberi tugas untuk melakukan pengawalan. "Kalau pulangnya bukan saya yang ngawal, ada petugas lain," ujar Zulhakim yang juga mengaku pernah mengantar napi tipikor lainnya bernama Samuel dan Soleh.

"Apakah saat itu dikasih uang oleh Fuad Amin?" tanya hakim Daryanto.

Atas pertanyaan itu, Zulhakim menjawab tidak.

Keterangan dua saksi itu diperkuat oleh kesaksian dari Zaenal Arifin, eks Kasi Keamanan Lapas Sukamiskin periode Oktober 2017-Juli 2018. Khusus untuk Fuad Amin, kata Zaenal, selama ia menjabat pernah tiga hingga empat kali izin keluar lapas dengan keperluan berobat ke rumah sakit.

"Kurang lebih tiga atau empat kali mengajukan izin, semuanya izin ke rumah sakit," ujarnya.

Soal prosedur itu, kata Zaenal, sudah ada mekanismenya. Yang jelas, semua pelaporan disampaikan melalui grup WhatsApp pegawai lapas, yang didalamnya juga ada Kepala Lapas.

"Jadi Kalapas juga mengetahui. Dan untuk izin itu memang ditandatangani oleh Kalapas, kalau saya hanya paraf saja," kata Zaenal.

Hakim pun menanyakan apakah setiap mengantar napi keluar dari lapas ada tarifnya, Zaenal menyatakan tidak. Ia tidak mengetahui mulai kapan pemberian sesuatu dari napi kepada petugas mulai ada, namun sejak ia menjadi petugas disana, praktik itu sudah terjadi.

"Itu seperti sudah menjadi kebiasaan, bahkan sebelum saya masuk (menjadi petugas Lapas Sukamiskin) itu (pemberian uang) sudah ada. Apakah Kalapas tahu soal ini, saya kurang mengetahuinya. Yang jelas uang saku harian untuk mengawal setahu saya ada," tuturnya.

Seperti diketahui, dalam perkara ini Wahid Husein didakwa menerima gratifikasi dari sejumlah napi Lapas Sukamiskin. Selain Wahid, kasus ini menyeret sopir pribadinya Hendri Saputra, Fahmi Darmawansyah dan Andri Rahmat.

Berdasarkan dakwaan, Wahid diduga menerima satu unit mobil double cabin Mitsubishi Triton, sepasang sepatu boot, sepasang sendal merek Kenzo, tas merek Louis Vuitton dan uang Rp 39,5 juta serta uang tunai lainnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR