180808165448-suap-.jpg

Suap Wali Kota Kendari Gunakan Sandi "Kalender"

Meja Hijau

Rabu, 8 Agustus 2018 | 16:54 WIB

Wartawan: Endan Suhendra

PEMBERIAN suap kepada Wali Kota Kendari 2012-2017 sekaligus calon gubernur Sulawesi Tenggara Asrun dan anaknya yang merupakan Wali Kota Kendari 2017-2022 Adriatma Dwi Putra menggunakan sandi "koli kalender".

"Laode Maarfin pernah menyampaikan mau bawa satu koli kalender, saya pikir barangnya itu memang kalender, tapi ternyata yang datang uang," kata Hidayat dalam sidang di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Rabu (8/8/2018).

Baca Juga: Namanya Disebut di Sidang, Jaksa KPK akan Panggil Anak Mantan Bupati Subang

Hidayat adalah karyawan PT Sarana Bangun Nusantara (SBN) yang bersaksi untuk Wali Kota Kendari 2012-2017 Asrun dan anaknya yang merupakan Wali Kota Kendari 2017-2022 Adriatma Dwi Putra yang didakwa menerima suap Rp6,798 miliar dari pemilik PT Sarana Bangun Nusantara Hasmun Hamzah untuk membiayai kampanye Pilkada Sulawesi Tenggara.

Laode Maarfin yang dimaksud adalah Laode Maarfin Nurjan selaku PNS yang menjabat sebagai bendahara umum daerah pemerintah kota Kendari.

"Titipannya datang empat kali ada, yang pertama Rp1 miliar lalu kedua, ketiga, keempat juga Rp1 miliar, uang itu lalu diambil oleh Yudho dan Wahyu," ungkap Hidayat.

Baca Juga: Abubakar Perintahkan Kadis di KBB Membantu Istrinya

Dalam dakwaan disebut bahwa Hasmun Hamzah menyanggupi pemberian "commitment fee" sebesar Rp4 miliar untuk dua proyek tahun jamak yang dikerjakan PT Hasmun Hamzah.

Kedua proyek itu adalah kantor DPRD Kendari tahun anggaran 2014-2017 dengan nilai proyek Rp49,288 miliar dan pembangunan Tambat Labuh Zona III Taman Wisata Teluk Ujung Kendari Beach tahun anggaran 2014-2017 senilai Rp19,933 miliar.

Baca Juga: Mantan Bupati Bandung Barat, Abubakar pada Sidang Kasus Suap Pejabat KBB

Sedangkan istri Hasmun, Yoselin yang juga dihadirkan sebagai saksi mengatakan bahwa Hasmun menempatkan uang yang disebut dititipkan oleh Maarfin itu di brankas dan di kamar orang tua mereka.

"Dalam BAP 15 saudara diminta menerangkan bahwa saudarai Hasmun bercerita bahwa Laode Maarfin menitipkan ke Hasmun Hamzah senilai total Rp4 miliar, jelaskan! Saudara menjawab penitipan Rp4 miliar dibagi 4 tahap masing-masing Rp1 miliar dari Maarfin ke suami saya Rp1 miliar yang diterima melalui Hidayat Februari 2017, lalu Rp1 miliar, Rp1 miliar, Rp1 miliar semua di bulan Februari?" tanya jaksa penuntut umum KPK Roy Riady.

Baca Juga: Sidang Suap, Jaksa Hadirkan Bupati Abubakar

"Iya betul, pemberian pertama dan kedua disimpan di brankas, sedangkan pemberian ketiga dan keempat di kamar orang tua saya karena tidak cukup brankasnya, tapi penggunaan uangnya saya tidak tahu untuk apa," jelas Yoselin.

Dalam dakwaan disebutkan Adriatma Dwi Putra bersama-sama dengan Asrun dan Fatmawaty Faqih menerima uang sebesar Rp2,8 miliar dan Rp4 miliar.

Penerimaan uang sebesar Rp2,8 miliar (namun yang ditemukan penyidik KPK hanya Rp2,798 miliar) karena Adriatma Dwi Putra memenangkan perusahaan Hasmun dalam lelang pekerjaan pembangunan Jalan Bungkutoko-Kendara New Port tahun 2018-2020 senilai Rp60,168 miliar.

Sedangkan uang sebesar Rp4 miliar karena Asrun memenangkan PT SBN dalam lelang pembangunan kantor DPRD Kendari tahun anggaran 2014-2017 dengan nilai proyek Rp49,288 miliar dan pembangunan Tambat Labuh Zona III Taman Wisata Teluk Ujung Kendari Beach tahun anggaran 2014-2017 senilai Rp19,933 miliar.

Pemberian uang dilakukan beberapa tahap yaitu pada 15 Juni 2017 sebesar Rp2 miliar secara tunai yang diserahkan kepada Fatmawaty Faqih di kamar Hotel Marcopolo dan pada 30 Agustus 2017 sebesar Rp2 miliar diserahkan langsung oleh Hasmun kepada Fatmawaty di rumahnya dan pada 26 Februari 2018 sebesar Rp2,8 triliun.

Sumber: ANTARA

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:



BERITA LAINNYA

KOMENTAR