SSB Saint Prima Pertahankan Eksistensi Lewat Pembinaan Usia Dini

Maung Ngora

Jumat, 20 September 2019 | 16:14 WIB

190920160945-ssb-s.jpg

SEKOLAH Sepak Bola (SSB) Saint Prima pertahankan eksistensi melalui pembinaan usia dini.

Kepala Sekolah Saint Prima, Ana Sutiana, saat dijumpai di Lapangan Sepak Bola Batununggal, Kota Bandung, Jumat (20/9/2019) mengatakan, dalam memberikan metode latihan, terutama bagi pemain usia dini (gresroot), Saint Prima telah menitik beratkan kepada 4 aspek, mulai dari teknik dasar, pembentukan fisik, mental (karakter) serta strategi (kerjasama tim).

Dengan kelengkapan tersebut, Saint Prima optimistis bisa mencetak para pemain yang handal serta memiliki mentalitas yang baik. Bahkan hal tersebut telah dibuktikan dari setiap kejuaraan yang di ikuti.

"Kita pembinaan di gresroot alhamdulillah masih terus eksis, karena mayoritas kita dihuni oleh para pemain usia tujuh sampai 12 tahun. Dan disetiap kejuaraan, khususnya kelompok usia (KU), kita selalu partisipasi," katanya.

Selain mencetak tim juara, Saint Prima pun memiliki visi untuk mencetak individu (pemain) yang juara. Pasalnya usia gresroot merupakan usia pembentukan bagi seorang pemain.

"Kita tentu mengcombine, selain ke fundamen skill kita tidak melupakan pembentukan karakter melalui kedisiplinan pemain. Karena visi kita tidak hanya mencetak pemain juara saja, tetapi individu yang juara, jadi selain aplikasi dilapangan juga sehari-hari," tegasnya.

Ana menilai, melalui sepak bola, seorang pemain (usia dini) bisa belajar mengenai beberapa hal. Salah satunya berani tampil dan berani bersosialisasi di depan publik.
"Dari laporan orangtua, ada progres yang lebih baik ketika anaknya bergabung di SSB, salah satunya menjadi tidak manja, mau berinteraksi, aktif dan lebih percaya diri," jelasnya.

Lebih dari itu, metode latihan yang diterapkan dikatakan sama dengan SSB lainnya. Apa lagi, sekarang semua SSB diwajibkan untuk menerapkan Filosofi Sepak Bola Indonesia (Filenesia). Filenesia sendiri merupaka karakter dari permainan sepak bola Indonesia.

"Semua SSB sama, semua mengacu kepada Filenesia, yang membedakan adalah metode, kreativitas dan inovasi dari pelatih masing-masing. Kita tentu menerapkan karena Filenesia merupakan kultur sepak bola kita," katanya.

Maka saat membahas mengenai geliat pembinaan usia dini, kini semua SSB dikatakan memiliki kualitas yang sama. "Kalau dilihat, sekarang memang ada satu progres yang baik, karena semua sudah merata. Dapat dilihat dari hasil prestasi, kini tidak hanya didominasi SSB tertentu saja. Askot PSSI Kota Bandung pun mulai melakukan pemerataan melalui pelatihan-pelatihannya," katanya.

Ia berharap, dari peningkatan kualitas pembinaan di tiap SSB, dapat di ikuti dengan pembangunan infrastruktur latihan (lapangan). Karena tidak semua daerah di Kota Bandung memiliki kualitas lapangan yang baik.

"Hanya mayoritas hampir di semua SSB masalahnya adalah sarana. Fundamen bisa efektif kalau ditunjang dengan sarana yang memadai. Minimal lapangan yang cukup rata. Karena dengan kontur lapangan yang baik akan berdampak terhadap pengembangan proses latihan," pungkasnya.


Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA