PIALA PRESIDEN 2019

Tanpa Suap dan Pengaturan Skor, Persepakbolaan Indonesia Bisa Bangkit

Liga Indonesia

Sabtu, 13 April 2019 | 09:41 WIB

190413101129-tanpa.jpg

pialapresiden.id

Ketua Steering Committee Piala Presiden 2019, Maruarar Sirait mendamping Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani menyerahkan trofi juara kepada Arema FC di Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang, Jumat (12/4/2019)

DENGAN menggenggam beberapa lembar kertas, Maruarar Sirait melangkah mantap ke podium penyerahan trofi Piala Presiden 2019 di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jumat (12/4/2019) malam. Ketua Steering Committee (SC) Piala Presiden 2019 ini siap melaporkan penyelenggaraan turnamen pramusim yang baru saja berakhir dengan menghasilkan Arema FC sebagai kampiun untuk kedua kalinya setelah tahun 2017.

Arema tampil sebagai kampiun setelah mengalahkan Persebaya Surabaya 2-0 pada final kedua di Stadion Kanjuruhan. Singo Edan unggul agregat 4-2 karena pada leg pertama di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya bermain imbang 2-2.

Di tengah kepungan puluhan ribu Aremania, sebagian sudah merangsek ke areal lapangan, Maruarar mulai bicara lantang memberikan laporan kepada Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani yang mewakili Presiden Joko Widodo lantaran berhalangan hadir.

Dalam laporannya, Bang Ara -- sapaan akrab Maruarar -- tiba-tiba menyinggung soal kasus pengaturan skor dan suap yang belakangan menghangat lagi di persepakbolaan nasional. "Kita bisa lihat, tanpa pengaturan skor dan suap, sponsor ramai datang," ujar Maruarar yang terdengar membahana di layart Indosiar.

Kemudian, ia menyebutkan nominal sponsor Piala Presiden 2019 yang mencapai Rp 52 miliar. Dari jumlah itu, Rp 46 miliar di antaranya dari sponsor utama, Emtek.

Karena prinsip keterbukaan itu, Maruarar mengaku sangat bangga bisa menyelenggarakan Piala Presiden hingga edisi keempat. "Sepanjang turnamen, kami diaudit oleh auditor independen dan profesional. Audit dilakukan bukan setelah turnamen, tapi saat berjalan," katanya.

Selain transparansi dan fair play, prinsip lain yang dipegang teguh penyelenggara Piala Presiden adalah hiburan dan ekonomi rakyat serta industri maju. "Makanya, setiap menit ke-75, kami selalu mengumumkan jumlah penonton, pendapatan tiket dan bahkan jumlah pedagang kaki lima dan asongan yang hadir di stadion," tegasnya.

Dalam urusan prestasi, penyelenggara Piala Presiden pun selalu mengapresiasinya dengan baik. Salah satu buktinya dengan meningkatkan prize money dari tahun ke tahun. Kali ini, juara Piala Presiden berhak atas hadiah Rp 3,5 miliar. Ketika pertama kali digelar pada tahun 2015, Persib yang tampil sebagai kampiun "hanya" mengantongi Rp 3 miliar.

Maruarar juga mengaku terharu melihat animo penonton menyaksikan pertandingan Piala Presiden, khususnya dua laga final yang digelar tahun ini di Surabaya dan Malang. "Dukungan penonton sangat luar bisa. Saya pikir, sekarang waktunya sepakbola Indonesia bangkit," tegasnya.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR