181011200414-kota-.jpg

Pikiran Rakyat

Ilustrasi.

Kota Bandung Berpotensi Terjadi Likuefaksi

Kabar Balai Kota Bandung

Kamis, 11 Oktober 2018 | 19:45 WIB

Wartawan:

SEPERTI halnya Palu, Kota Bandung berpotensi mengalami likuefaksi (gerakan tanah) jika gempa terjadi. Setidaknya 10 kecamatan berpotensi hal tersebut.

Karena itulah, Pemkot Bandung terus menyosialisasikan mitigasi bencana termasuk membuat aplikasi Sistem Informasi Tata Ruang Berbasis Mitigasi Bencana (Sitaruna) Kota Bandung.

"Likuefaksi terjadi karena tanah tidak bisa membendung kekuatan tadi (gempa bumi). Likuefaksi seperti di Petobo Palu bisa terjadi. Sebagian besar 10 kecamatan itu berada di Bandung selatan dan sedikit di bagian timur," ujar Kasubid 1 Perencanana Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Bappelitbang Kota Bandung, Andry Heru Santosa pada program Bandung Menjawab di Taman Sejarah, Jln. Aceh, Kamis (11/10/2018).

Kesepuluh kecamatan tersebut, yakni Bandung Kulon, Babakan Ciparay, Bojongloa Kaler, Bojongloa Kidul, Astana Anyar, Regol, Lengkong, Bandung Kidul,  Kiaracondong dan Antapani. Data ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan Bappeda (Bappelitbang, red) Kota Bandung, ITB dan United National pada tahun 1990-2000.

Menilik tahun penelitian, maka perlu dikaji kembali untuk pembaharuan. "Jadi mungkin perlu di update ulang, apakah yang 10 (kecamatan, red) itu ada penambahan atau pengurangan, itu baru potensi likuifaksi," ungkapnya.

Sedangkan berdasarkan informasi sesar lembang, lanjutnya, resiko gempa itu seluruh Kota Bandung. Tingkat resiko mulai ringan, sedang dan tinggi. "Sepuluh kecamatan itu hanya implikasi setelah gempa," ungkapnya.

Menurutnya, fenomena Likuefaksi terjadi karena perkembangan Kota Bandung cukup pesat. Disamping itu, banyak pembangunan vertikal dan  kawasan penduduk semakin padat. Kemudian pengambilan air bawah tanah khususnya di kawasan pemukiman dan perumahan cukup tinggi.

Penelitian dan pemberitahuan informasi soal bencana, lanjutnya, bukan untuk menakut-nakuti. Apalagi, bencana seperti halnya gempa tidak tahu kapan bakal terjadi.

Namun dengan adanya penelitian serta informasi tersebut, maka semua pihak bisa meningkatkan kewaspadaan dan melakukan pencegahan serta penanggulangan jika musibah terjadi sehingga bisa menimalisir resiko. Untuk informasi terkait kebencanaan, masyarakat bisa mengakses Sitaruna Bandung di laman sitaruna.cityplan.id.

"Aplikasi bisa diakses melalui website dan handphone. Selain ada peruntukkan tata ruang, ada juga informasi soal kebencanaan. Saat ini baru prototype, tapi sudah bisa diakses. Tahun depan akan kami kembangkan lagi," tuturnya.

Sementara Kabid Penanggulangan Bencana Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kota Bandung, Sihar Pandapotan Sitinjak, mengatakan sesar lembang yang membentang dari Malangyang hingga Padalarang dalam kondisi aktif. Karena itulah, pihaknya terus melakukan sosilaisasi bencana kepada masyarakat dan juga pemilik gedung.

"Kami juga punya rencana penannganan gempa, itu sudah kita susun tinggal uji publik dan disahkan wali kota. Kita juga punya Perwal Satgas Penangguolangan Bencana, jadi siapa berbuat apa dan bagaimana penanganannya sudah ada, sekarang tinggal dimatangkan," ungkapnya.

Sementara untuk sosialisasi pada masyarakat, dilakukan secara bertahap mengingat jumlah penduduk Kota Bandung cukup banyak. Dalam sosialisasi tersebut, kata sihar, simulasi pun sudah diterapkan sehingga saat terjadi bencana pengelola gedung atau pun masyarakat sudah mengetahui cara penanganannya.

"Saat ini poermintaan (sosialisasi, red) cukup banyak. Awalnya hanya sedikit, setelah gempa Lombok permintaan bertambah dan setelah gempa Palu semakin tinggi permintaan sosialiasi dan edukasi kebencanaan. Sekarang hampir tiap hari ada permintaan dari pengelola gedung atau pun masyarakat. Kami senang mereka sadar, kalau ada permintaan mangga, kamis iap," terangnya.

Bencana gempa, lanjutnya, tidak tahu kapan datangnya. Sebagai antisipasi, warga bisa memasang lonceng di rumahnya sehingga saat terjadi bencana khususunya gempa dan dalam kondisi tertidur bisa terjaga ketika lonceng berbunyi.

"Kalau mislanya ada kembali dan berada di rumah, kita harus menunduk untuk berlindung dari gempa. Jika gempanya tinggi, merapatlah ke dinding. Karena kalo ada robohan biasanya dari tengah. Setelah tidak ada robohan, hindari kaca dan lari ke luar ke tempat terbuka atau lapangan," imbaunya.


Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR