Tak Tahan dengan Intensitas Emosinya, Penonton Film Joker di Berbagai Negara Tinggalkan Bioskop

Hiburan

Senin, 7 Oktober 2019 | 10:30 WIB

191007104631-tak-t.jpg

dailymail

Menjadi perhatian sebelum rilis, utamanya terkait keamanan karena ditakutkan memicu kekerasan, film Joker akhirnya bisa disaksikan mulai Jumat akhir pekan kemarin. Meski tak ada insiden mencolok terkait keamanan tak berarti film yang dibintangi Joaquin Phoenix itu bebas kontroversi. Dikutip dari DailyMail, Minggu (6/10/2019) sejumlah penonton memilih walk out alias pulang sebelum waktunya karena tak tahan menyaksikan intensitas gelap dari film arahan Todd Phillips tersebut.

Mengantongi total revenue sekitar 92 dolar AS atau Rp 1,2 triliun dalam pemutaran akhir pekan pertama, film R-rated atau untuk semua umur itu nyatanya membuat beberapa penonton bergidik. Mereka yang walk out menyebut film yang mengisahkan Arthur Fleck, badut sewa yang kemudian bertransformasi menjadi musuh bebuyutan Batman itu bernuansa sangat gelap dan mengglorifikasi kekerasan hingga level ultra.

Why so serious?

Aparat mengawasi pemutaran perdana Joker di berbagai bioskop.

Beberapa bahkan menyarankan agar film yang kental dengan aksi senjata api dan bertema kesehatan mental yang digambarkan dengan intens oleh Phoenix itu sebaiknya ditarik dari peredaran. Alasannya mereka khawatir Joker dijadikan referensi oleh mereka yang bermental labil dengan akses pada senjata api. Khususnya di Amerika yang dalam beberapa bulan terakhir diguncang aksi penembakan massal dengan puluhan korban jiwa.

Meski demikian secara keseluruhan tak ada insiden kekerasan yang mewarnai pemutaran perdananya. Sebelumnya aparat keamanan New York dan Los Angeles juga kota-kota lainnya menurunkan personel khusus di titik-titik pemutaran guna mencegah hal yang tak diinginkan. Instruksi pengamanan ketat juga datang dari Angkatan Darat menyusul “percakapan mencurigakan” untuk menyasar bioskop dengan aksi kekerasan di jejaring internet jelang rilis Joker.

The comments.

Ancaman keamanan juga membuat dua bioskop di Huntington Hill California membatalkan pemutaran Joker. Insiden pun terjadi di New York saat polisi mengamankan seorang penonton yang memicu keresahan. Pria yang diamankan tadi bersorak dan meludahi penonton lain setiap kali Joker membunuh korban. Di luar itu dari cuitan dan pengakuan langsung mereka yang walk out, diakui jika film Joker kali ini tak seperti yang dibayangkan.

“Aku keluar sebelum film tamat. TARIK FILM INI! Joker sangat menyasar psikis.. oh man..”, “Aku nonton berempat dan kami semua sepakat pulang sebelum waktunya. Aku tak pernah melakukan hal seperti ini..”, “Joker terlalu menakutkan dengan situasi kekerasan saat ini. Film ini glorifikasi kekerasan senjata api dan isu kesehatan mental!” Demikian komentar sejumlah penonton yang walk out di Twitter.

Joaquin Phoenix dinilai layak mendapatkan Oscar berkat perannya dalam Joker.

Sementara itu Joaquin Phonix dan sutradara Todd Phillip tetap yakin publik bisa mengambil kesimpulan dengan rasional dan mampu memilah salah dan benar secara objektif. Phillips bahkan mengaku kaget dengan reaksi negatif yang muncul. Menurutnya sebagai sutradara melalui Joker ia ingin menunjukkan implikasi kekerasan psikis dan senjata di dunia nyata. Sesuatu yang tak ditemui dalam tayangan televisi dan kekerasan ala film-film kartun dan film aksi yang disebutnya ikut berperan memicu banalitas terhadap isu yang meresahkan ini.

Ditanya pada even New York Film Festival sehari sebelum pemutaran perdana ia menyebut sudah saatnya menghentikan glorifikasi kekerasan seperti yang selama ini disajikan film-film aksi di mana pemeran utama dianggap wajar melakukannya. Dalam film Joker arahannya, Phoenix memerankan sosok dengan keruntuhan mental setelah menjadi sasaran bully selama sekian waktu. Menjadi kaum marginal, Arthur Feck mengarahkan kemarahannya dengan membalas dendam pada semua yang mendatangkan penderitaan baginya lewat jalan kekerasan.

Todd Phillips.

“Aku tak menyangka dengan hasil review untuk film ini,” ujar Phillips yang hadir saat premier fim East Cost. “Bukankah positif jika ada yang mencoba menggambarkan implikasi dari kekerasan di dunia nyata?” tambahnya. Lebih jauh ia menyoroti elemen kekerasan yang selama ini menjadi bagian dari film kartun dan membuat banyak dari penonton tak menganggapnya sebagai adegan yang membahayakan lagi.

“Aku kaget dengan arah diskusi dari film Joker ini. Bagiku menggambarkan kekerasan dengan sangat real tanpa membuatnya bagian hiburan seperti yang selama ini disaksikan dalam film aksi atau kartun merupakan sebuah tanggung jawab. Aku merasa bertanggung jawab untuk melakukannya,” paparnya.

Got it!

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA