Diputar Serentak Akhir Pekan Ini

Trauma Picu Penembakan Massal, Personel Militer Ikut Bersiaga Jelang Pemutaran Perdana Film Joker

Hiburan

Kamis, 3 Oktober 2019 | 11:00 WIB

191003110023-traum.jpg

dailymail

Keamanan ketat diterapkan kepolisian New York jelang pemutaran perdana film Joker mulai akhir pekan ini. Dikutip dari DailyMail kemarin, ini dilakukan menyusul kekhawatiran jika sosok antagonis film Batman tersebut bisa memicu "pikiran gelap" yang berujung aksi penembakan massal. Pengamanan serupa juga dilakukan secara nasional.

Lebih jauh Angkatan Darat telah lebih dulu mengeluarkan peringatan keamanan dan berencana meningkatkan patroli untuk even teatrikal yang rencananya digelar pada Kamis sore ini di sejumlah rantai sinema. Khusus   New York, NYPD akan mengerahkan unit-unit personel yang bertugas dengan menyamar di seluruh bioskop di  lima distrik.

Full force for Joker.

Terkait penembakan massal dan film Batman, publik Negeri Paman Sam tak akan melupakan insiden pemutaran perdana The Dark Knight Rises tahun 2012. Kala itu mahasiswa neurosains Universitas Colorado, James Eagan Holmes memasuki bioskop Aurora dan memberondong penonton dengan peluru. Akibat aksi pelaku yang mengenakan topeng dan mengaku Joker itu, 14 tewas dan 50 lainnya luka-luka.

Laporan Deadline, dengan maraknya aksi penembakan massal yang belakangan juga mewarnai sejumlah pemberitaan, aparat tak ingin kecolongan. Patroli petugas berseragam kali ini ikut ditempatkan di setiap titik pemutaran film Joker yang dibintangi aktor Joaquin Phoenix itu. "Jika sesuatu yang terburuk terjadi di salah satu titik pemutaran film, kami berharap bisa menenangkan situasi dengan cepat," ujar seorang sumber kepolisian.

Why so serious?

Menanggapi kekhawatiran pihak keamanan, sejumlah rantai sinema seperti Landmark Theaters yang memiliki 52 gedung bioskop resmi melarang penonton mengenakan topeng, mengecat wajah ala Joker atau mengenakan kostum cosplay. Ada juga pemeriksaan isi tas hingga penggunaan detektor metal.

Film Joker sendiri menjadi salah satu yang paling ditunggu. Joaquin Phoenix bahkan disebut layak memenangi Oscar untuk perannya. Meski demikian Joker juga menuai kritik terutama penggambarannya akan asal-usul sang antagonis yang diklaim sangat mungkin menarik incels (involuntary celibacy) atau mereka yang karena alasan tertentu menyendiri di keramaian dan di titik tertentu menumpahkan perasaan frustrasi dengan menyerang “dunia luar”.

Beberapa kalangan juga khawatir film Joker  akan  menginspirasi peniru penembakan teater Aurora, Colorado di mana James Holmes membunuh 14 orang di pemutaran pertama The Dark Night Rises. Holmes yang saat ini menjalani 12 hukuman seumur hidup mengidentifikasi dirinya sebagai Joker.

James "The Aurora Joker" Holmes.

Pekan lalu, sejumlah orangtua  korban penembakan bioskop Aurora menyurati CEO Warner Bros guna meminta dukungan gerakan  anti-senjata mereka. Pihak Warner Bros pun menyatakan film Joker sama sekali tak ada hubungannya dengan kekerasan di dunia nyata dalam bentuk apa pun.

Phoenix yang disebut kritikus berhasil memerankan Joker ikut berkomentar. Ia meminta semua pihak tidak berprasangka sebelum melihat filmnya. “Aku tahu film ini tidak akan mudah. Dan menurutku orang berhak menilainya dengan reaksi masing-masing,” katanya pada Vanity Fair.  Meski demikian pengamanan jelang pemutaran tetap dilakukan.

Di  Los Angeles, LAPD meningkatkan patroli di sekitar bioskop. “Aparat Los Angeles memahami kekhawatiran publik dan catatan kekerasan terkait film ini. Sejauh ini tak ada ancaman serius tetapi  Los Angeles Police Department akan tetap bersiaga.” Sebelumnya Angkatan Darat juga memperingatkan potensi penembakan massal saat pemutaran perdana Joker.

Joaquin Phoenix dan sutradara Todd Phillips.

Oscar for Joker?

Dalam memo per 18 September, Angkatan Darat memperingatkan personel yang berdinas untuk mewaspadai lingkungan sekitar  termasuk jalan masuk dan keluar  bioskop. Jika terjadi penembakan mereka diperingatkan untuk “run, hide and fight.”

Memo lain yang dirilis di hari yang sama, pejabat Divisi Investigasi Kriminal Angkatan Darat mengaku menerima info intelijen kredibel dari penegak hukum Texas mengenai  obrolan sangat spesifik yang mencurigakan di jejaring internet untuk menyasar bioskop tak dikenal di hari pemutaran perdana Joker.

Film Joker disebut kritikus merupakan “studi karakter” bagaimana seorang pria paruh baya yang sakit mental bernama Arthur Fleck menjadi sosok dengan pikiran gelap. Bekerja sebagai badut  sewa, Joker tinggal bersama ibunya di apartemen Gotham yang lusuh dan sesekali bergaul dengan pekerja sosial. Dia juga biasa menjelaskan pada orang-orang jika  tawanya yang spontan dan terdengar menakutkan semata-mata dipicu kondisi medis.

"How dark can you be?"

Satu-satunya kegembiraan di wajah Joker hanya muncul setiap kali menonton talk show Murray Franklin yang diperankan Robert De Niro. “Yang sesungguhnya, siapa pun yang menyaksikan film ini akan melihat sesuatu yang  memilukan, kehidupan Joker yang memang memilukan," papar sang sutradara  Todd Phillips pada AP.

“Dan  dalam film, saat dunia  kehilangan empati dan cinta maka Anda akan mendapatkan sosok antagonis yang pantas Anda dapatkan sebagai konsekuensi sikap tak peduli...”

Well, that is deep!

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA