Polres Bandung Ungkap Peredaran Dextro dan Ganja

Halo Polisi

Senin, 19 Agustus 2019 | 12:22 WIB

190819122421-polre.jpg

Engkos Kosasih

SATUAN Reserse Kriminal Narkoba Polres Bandung berhasil mengungkap tiga perkara, di antaranya 2 perkara penyalahgunaan ganja dan 1 perkara penyalahgunaan obat-obatan jenis dextro, Senin (19/8/2019).

Dua perkara pengungkapan peredaran ganja yakni melibatkan tersangka R alias Baron (41) warga Kampung  Simpang Desa Wangisagara Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung. Satu lagi masih perkara peredaran ganja, yakni melibatkan tersangka US (32) warga Kampung Junti Hilir Desa Sangkan Hurip Kecamatan Katapang Kabupaten Bandung.

Sedangkan perkara penyalahgunaan obat dextro (sediaan farmasi), yaitu melibatkan tersangka MR di Jalan Pesantren Timur, depan toko Gumelar Desa Pamekaran Kecamatan Soreang Kabupaten Bandung.

Ketiganya, kini dijebloskan ke jeruji besi Mapolres Bandung untuk mempertangungjawabkan perbuatannya.

Dari tangan tersangka US, Satuan Reskrim Narkoba Polres Bandung menyita barang bukti 3 paket besar ganja yang dibungkus dengan lakban dan plastik warna benih. Selain itu sembilan  paket sedang yang dibungkus kresek warna hitam dan kertas nasi warna coklat yang dibungkus dengan lakban warna coklat.

Sedangkan dari tersangka US, polisi menyita 1 paket besar ganja, 21 paket kecil ganja, 1 bungkus kecil plastik warna bening berisikan ganja. Sedangkan dari tersangka MR, turut disita 7.000 butir obat dextro.

Kapolres Bandung AKBP Indra Hermawan menegaskan, pengungkapan 3 perkara, yakni 2 perkara narkoba dan 1 perkara penyalahgunaan obat dextro oleh Satuan Reskrim Narkoba Polres Bandung itu, merupakan hasil pengungkapan sejak Juli sampai Agustus 2019 ini.

"Tiga perkara itu, masing-masing 1 tersangka. Tersangka inisial R alias Baron dan tersangka US, kasusnya sama yaitu ganja," tegas Indra didampingi Kasat Reskrim Narkoba Polres Bandung AKP Jaya Sofyan kepada wartawan di Mapolres Bandung.

Kapolres Bandung menegaskan, motif tersangka R alias Baron dalam melakukan tindak podana tentang penyalahgunaan narkoba jenis ganja dengan cara tersangka menerima titipan menjadi perantara jual beli ganja dari Teguh alias Galing Jumat 28 Juni 2019 pukul 23.00 WIB. Teguh alias Galing, saat ini masih diburu polisi dan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

Barang bukti ganja dari tangan tersangka R alias Baron itu, sebelumnya diambil tersangka yang sudah tersimpan di bawah dekat tiang listrik di pinggir Jalan Raya Kemang 4 Kecamatan Mampang Jakarta Selatan. Sebanyak 15 paket besar dibungkus menggunakan karung. Tersangka Baron tidak mengetahui berapa harga ganja tersebut karena hanya ditugaskan mengambil saja dan tugas tersangka hanya menunggu perintah dari Teguh alias Galing.

"Saat dilakukan penggeledahan, barang bukti ganja 3 paket besar, 9 paket sedang sebelumnya disimpan di dalam kandang ayam di kebun milik orang tua tersangka," jelasnya.

Berbeda dengan tersangka US, imbuh Indra, melakukan tindak pidana penyalahgunaan narkotika jenis ganja dengan cara menerima perintah dari P (DPO), pada Jumat 9 Agustus lalu pukul 19.00 WIB di Jalan Raya Dayeuhkokot-Mohammad Toha tepatnya di depan PT Building. Barang bukti ganja itu dengan cara disimpan atau ditempel di sebuah selokan air sebanyak 2 paket besar ganja yang dibungkus lakban warna coklat yang dimasukkan dalam kantung keresek warna hitam.

"Rencana tersangka US akan mengedarkan narkotika jenis ganja tersebut di wilayah Kabupaten Bandung berdasarkan perintah inisial P dan tersangka dijanjikan oleh P akan mendapatkan imbalan atau upah berupa uang Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta, apabila pekerjaan telah selesai," paparnya.

Atas perbuatannya itu, Kapolres Bandung menegaskan, tersangka R alias Baron dan US dijerat pasal 114 ayat (2) sub pasal 111 ayat (2) lebih sub pasal 127 ayat (1) hurup a UU no 35 tahun 2009 tentang narkotika.

"Kedua tersangka diancam pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 6 tahun dan paling lama 20 tahun. Pidana denda paling sedikit Rp 1 miliar dan paling banyak Rp miliar," katanya.

Sementara itu, tersangja MR, dengan barang bukti 7.000 butir dextro, mengedarkan obat dextro di Kecamatan Soreang Kabupaten Bandung sudah sekitar 3 bulan. "Dengan cara tersangka membeli obat dextro dari tersangka IS (DPO), selanjutnya menjual kembali obat dextro kepada para pembeli setiap 10 butir seharga Rp 15.000. "Obat tersebut disalahgunakan oleh pembeli untuk mabuk-mabukan," keluhnya.

Tersangka MR dijerat pasal 196 jo pasal 98 ayat 2 UU RI no. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.

"Setiap orang yang dengan sengaja mengedarkan sediaan farmasi yang tidak memenuhi standar dan/atau persyaratan keamanan khasiat atau kemanfaatan, dan mutu pidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp1 miliar," ujarnya.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA