4 Peneror Nasabah Pinjaman Daring Ditangkap

Halo Polisi

Selasa, 8 Januari 2019 | 18:56 WIB

190108185934-4-pen.jpg

digination.id

Ilustrasi.

BADAN Reserse Kriminal Mabes Polri menangkap empat peneror nasabah layanan pinjaman daring atau "online". Modus penagihannya juga diduga melakukan pelecehan seksual.

Kepala Subdirektorat II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes Rickynaldo Chairul di Jakarta, Selasa (8/1/2019), mengatakan, pelecehan tersebut diduga dilakukan empat tersangka melalui aplikasi pesan singkat, WhatsApp.

Pesan berbau pelecehan seksual itu ditujukan kepada nasabah yang tak kunjung membayar utang lebih dari 30 hari dari tanggal jatuh tempo.

"Penagih utang akan menyampaikan pesan berbau pornografi kepada korban yang sudah tergabung dalam grup percakapan yang dibuat," ujarnya.

Empat orang itu dipekerjakan PT. Vcard Technology Indonesia atau "Vloan". Keempat orang itu adalah Indra Sucipto (31), Panji Joliandri (26) alias Kevin Yuniar, RonI Sanjaya alias XX (27) dan Wahyu Wijaya alias Ismed Chaniago (22). Keempat orang itu ditangkap di tempat terpisah.

Menurut Rickynaldo, motivasi dari para tersangka dalam melakukan pelecehan itu adalah agar para nasabah merasa cemas dan khawatir. "Dengan harapan dari tindakan itu, para nasabah yang menunggak akan langsung membayar tagihan pinjaman," kata Rickynaldo seperti dilansirkan Antara.

Atas perilaku tersebut, salah satu korban sampai harus diberhentikan dari pekerjaannya dan menanggung malu akibat penyebaran masalah utang pada seluruh kerabat yang nomor teleponnya disimpan di telepon seluler korban.

"Korban merasa terintimidasi dengan perkataan kasar dari para tersangka dan menjadi korban pelecehan seksual dari tersangka," ujarnya.

Akibat kejadian ini, empat tersangka dijerat dengan Pasal 40, Pasal 29 juncto Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, Pasal 45 ayat (1) dan (3) juncto Pasal 27 ayat (1) dan (3) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Kemudian Pasal 369 KUHP dan atau Pasal 3, 4, serta 5 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Menurut temuan Bareskrim, Vloan merupakan perusahaan pinjam meminjam digital berbasis aplikasi. Pengendali (server) Vloan berada di Zheijang, China dengan hosting server di Arizona dan New York, Amerika Serikat. Vloan, memiliki nama lain yaitu Supercash, Rupiah Cash, Super Dana, Pinjaman Plus, Super dompet, dan Super Pinjaman.


Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR