181108195249-polri.jpg

dokumen galamedianews.com

Polri Sukses Tangani Kasus Pembakaran Bendera Tauhid dan Tampang Boyolali?

Halo Polisi

Kamis, 8 November 2018 | 19:50 WIB

Wartawan: H. Dicky Aditya

KEPALA Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian mengklaim institusinya telah berhasil mengendalikan kasus-kasus sensitif yang terjadi jelang Pemilu 2019.

Kasus yang ia maksud antara lain pembakaran bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid yang disebut polisi bersimbol organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Garut, Jawa Barat. Serta aksi sejumlah warga menyikapi pernyataan 'tampang Boyolali' yang diucapkan oleh Prabowo Subianto.

"Beberapa kejadian yang juga sensitif jika tak ditangani dengan baik mulai dari peristiwa di Garut, Boyolali, dan beberapa peristiwa yang sensitif secara politis karena masa kontestasi politik, relatif kami bisa kendalikan dengan baik," kata Tito saat beri amanat dalam Upacara Korps Rapor Polri di Ruang Rapat Utama Mabes Polri, Jakarta, Kamis (8/11/2018).

Berangkat dari itu, Tito meminta jajarannya mempertahankan agar situasi tetap kondusif jelang akhir tahun. Ia juga meminta jajarannya fokus menghadapi masa kampanye Pemilu 2019 dan mengantisipasi konflik.

Jenderal bintang empat itu pun mewanti-wanti agar anggota Polri selalu bersikap netral di tahun politik ini.

"Deklarasi damai terus digulirkan sambil kita mengamati juga fenomena sosial agar dapat terkendali baik dengan cara soft maupun penegakan hukum," kata mantan Kapolda Metro Jaya itu.

Kasus pembakaran bendera berwarna hitam bertuliskan kalimat tauhid yang disebut polisi bersimbol HTI di Garut sempat memantik emosi sejumlah masyarakat. Demonstrasi bertajuk 'Aksi Bela Tauhid' digelar di beberapa wilayah Indonesia.

Pun demikian dengan pernyataan Prabowo tentang 'tampang Boyolali'. Selain membuat sejumlah masyarakat Boyolali turun ke jalan, pernyataan itu melahirkan aksi saling lapor di polisi dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Kelompok masyarakat yang tidak terima dengan pernyataan 'tampang Boyolali' melaporkan Prabowo ke polisi dan Bawaslu terkait dugaan penghinaan berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Kelompok pendukung Prabowo merespons dengan melaporkan Bupati Boyolali Seno Samodro karena diduga telah mengucapkan kata-kata makian terhadap Prabowo saat berorasi dalam aksi 'Save Tampang Boyolali' yang digelar di Boyolali, Minggu (4/11).

Editor: H. Dicky Aditya

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR